jurnalistik.co.id – Kepastian tersingkirnya Skotlandia dari Piala Dunia 2026 datang setelah hasil di Grup L membuat peluang mereka untuk finis sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik tidak lagi mungkin. Konsekuensinya, langkah Steve Clarke harus berhenti di fase grup.
Eliminasi itu dipastikan seusai Kroasia mengalahkan Ghana 2-1. Dengan hasil tersebut, Skotlandia tidak bisa mengakhiri turnamen pada urutan yang membuka tiket ke babak gugur, karena mereka tidak akan memenuhi syarat sebagai tim peringkat tiga terbaik.
Ini sekaligus menjadi catatan lain yang kurang menguntungkan bagi Skotlandia pada turnamen besar. Mereka sudah tampil di sembilan edisi Piala Dunia dan empat Kejuaraan Eropa, tetapi belum pernah menembus fase berikutnya setelah fase grup.
Skotlandia memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kisah yang sempat memberi harapan. Mereka meraih kemenangan 1-0 atas Haiti, sekaligus mengawali kiprah pertama mereka di ajang tersebut dalam 28 tahun, sebelum kemudian menghadapi ujian yang lebih berat di fase grup.
Setelah kemenangan itu, performa Skotlandia terhenti saat kalah 1-0 dari Maroko. Lalu, pada laga berikutnya, mereka menelan kekalahan 3-0 dari Brasil di Miami, yang membuat posisi mereka berada di peringkat ketiga klasemen grup dengan koleksi tiga poin serta selisih gol -3.
Usai kekalahan dari Brasil, Clarke dan beberapa pemain menyampaikan bahwa kelanjutan mereka ke babak 32 besar tampak tidak realistis. Mereka pun harus menunggu beberapa hari untuk mengetahui nasib akhir setelah pertandingan-pertandingan lain di grup yang tersisa selesai digelar.
Hasil dari grup lain turut menentukan. Ketika Ekuador berhasil membalikkan keadaan untuk mengalahkan Jerman, estimasi peluang Skotlandia untuk lolos turun menjadi 5,26% dengan enam dari total 12 grup yang masih belum rampung. Pada akhirnya, kemenangan Kroasia yang menutup skenario tersebut membuat Skotlandia resmi tersingkir.
Laga penentuan melawan Brasil
Meski peluang menipis, Skotlandia tetap turun ke laga terakhir Grup C dengan kebutuhan yang jelas. Mereka memasuki pertandingan melawan Brasil dengan pertimbangan bahwa hasil imbang kemungkinan besar masih cukup untuk mengamankan tempat sebagai salah satu dari tim peringkat tiga terbaik.
Namun, kesalahan defensif pada momen-momen krusial menjadi titik balik yang menyulitkan. Skotlandia kembali kebobolan lebih cepat setelah defender Scott McKenna kehilangan penguasaan bola di area penalti sendiri, sehingga jalan bagi gol pembuka terbuka untuk Vinicius Jr.
Upaya Skotlandia sempat mendapatkan gangguan dari keputusan VAR. Vinicius Jr sebenarnya berpeluang menambah gol untuk kedua kalinya, tetapi gol itu tidak disahkan setelah video assistant referee menilai ia melakukan pelanggaran terhadap Jack Hendry sebelum bola digulirkan melewati kiper Angus Gunn.
Babak kedua berjalan dengan tekanan yang masih berada di pihak Brasil. Setelah jeda, Matheus Cunha berhasil memperbesar keunggulan dan mengubah kedudukan menjadi semakin sulit dikejar bagi Skotlandia.
Skotlandia sempat mencoba menghidupkan kembali harapan melalui upaya late rally di akhir pertandingan. Namun, usaha mereka tidak menghasilkan gol yang cukup untuk memperbaiki selisih gol mereka, sehingga kemenangan dan dampaknya tetap mengunci nasib mereka di fase grup.
Jejak perjalanan menuju turnamen
Bagi Skotlandia, berpartisipasi di Piala Dunia 2026 sendiri sudah menjadi pencapaian setelah penantian panjang. Mereka memperoleh tiket pertama sejak 1998 lewat kemenangan dramatis melawan Denmark di Hampden Park pada bulan November.
Ketika kiprah mereka mulai di Amerika Serikat, dukungan puluhan ribu suporter memberi suasana tersendiri. Dalam laga melawan Haiti, John McGinn mencatatkan gol melalui tendangan yang membelok, yang sekaligus menjadi kemenangan pertama Skotlandia di Piala Dunia dalam 36 tahun.
Gol tunggal itu menjadi satu-satunya yang mereka catat sepanjang turnamen ini hingga pertandingan terakhir. Setelah kalah dari Maroko dan kemudian dibekuk Brasil, Skotlandia tidak hanya harus menghadapi kualitas lawan, tetapi juga menuntaskan fase grup dengan hasil yang tidak menguntungkan dalam persaingan peringkat.
Dengan tersingkirnya Skotlandia, peran Steve Clarke dalam fase grup berakhir pada pola yang sama: laga-laga awal turnamen tidak membawa mereka melaju lebih jauh. Kini, fokus akan beralih pada evaluasi menyeluruh atas rangkaian hasil yang berujung pada ketidakmungkinan lolos ke babak gugur.












