jurnalistik.co.id – Tom English, chief sportswriter BBC Sport Scotland, menutup perjalanan timnas Skotlandia di Piala Dunia dengan nada getir. Bukan semata karena hasil di lapangan, tetapi juga karena harapan yang runtuh hampir tanpa daya setelahnya.
English menggambarkan momen ketika “lampu padam” bagi Skotlandia terasa menyedihkan, lebih dari sekadar kekecewaan pertandingan. Ia menyoroti suasana suram yang tersisa, bahkan dari Steve Clarke yang pada akhirnya mengundurkan diri pada Sabtu.
Di fase menentukan, Skotlandia menggantungkan nasib pada rangkaian hasil di tempat lain. Pertanyaannya menjadi: apakah Ghana mampu mengalahkan Kroasia dengan margin tiga gol, apakah DR Congo dan Uzbekistan bermain imbang, apakah Austria bisa menang atas Aljazair dengan selisih dua gol atau lebih, dan apakah Aljazair bisa menundukkan Austria minimal dengan empat gol.
Dalam skenario yang penuh doakan itu, ia membayangkan harapan dipanjatkan sambil menunggu di Philadelphia, Atlanta, dan Kansas City. English menyebut akhir cerita tersebut sebagai “yang menyedihkan”.
Sisa turnamen tanpa Skotlandia
Tournament tetap berlanjut, tetapi tanpa Skotlandia. English menegaskan betapa kontrasnya: hanya satu gol yang tercipta, sementara Elijah Just dari Motherwell—yang menurut laporan tersebut mencetak tiga kali lipat gol Skotlandia—menjadi penanda betapa tipisnya dampak ofensif tim.
Ia juga menyinggung Jonathan David dari Kanada yang dinilai memiliki xG (expected goals) lebih tinggi daripada seluruh tim Skotlandia. Dari sudut pandang English, statistik bisa terus diulang, namun inti persoalan tetap sama: Skotlandia dianggap semestinya angkat koper dengan kepala tertunduk.
Ia memuji “Tartan Army”, dukungan tandang yang disebutnya sebagai yang terbaik dari yang ada. Namun, sekalipun ribuan suporter berusaha mengangkat tim dan membawa mereka ke babak gugur, beban yang harus ditanggung ternyata terlalu berat.
Dalam tiga laga, Skotlandia menurut English bermain layak untuk dua paruh. Dua paruh itu adalah fase kedua ketika mereka menekan Maroko, serta fase kedua melawan Brasil ketika akhirnya ada percobaan yang mengarah ke gawang meski pertandingan sudah berjalan dengan skor 3-0 lebih dulu.
Di mana letak kegagalan?
English menyatakan bahwa pertanyaan “siapa yang disalahkan” memiliki banyak lapisan. Sebagian menunjuk Clarke, menilai ia tak mampu memaksimalkan potensi pemain di grup, sampai ada tuntutan agar ia dicopot meski masih memiliki kontrak empat tahun.
Sebagian lain memberi ruang untuk Clarke dengan alasan para pemain terlalu dipuji dan dinilai terlalu tinggi untuk standar level Piala Dunia ini. Ada pula yang menelusuri lebih jauh ke akar masalah di sepak bola Skotlandia: kelemahan mengembangkan bakat muda yang atletis dan dinamis, serta keengganan klub papan atas memberi kesempatan bermain reguler bagi pemain muda.
Kesimpulan English adalah campuran dari semuanya—ditambah faktor lain—yang membuat Skotlandia berada di posisi yang sulit sejak awal. Ia menekankan bahwa Skotlandia berada dalam grup yang sangat berat, dengan tim yang disebutnya berada di peringkat kelima dan keenam terbaik dunia.
Rasio satu kemenangan dan dua kekalahan, menurutnya, adalah hasil yang sebenarnya sudah banyak orang perkirakan. Meski begitu, English menilai kemenangan tersebut tetap “serampangan dan tidak meyakinkan”.
Clarke dinilai terlalu negatif
English menolak anggapan bahwa Clarke “terlalu negatif” tanpa dasar. Ia menyebut Clarke justru diserang karena cara menyusun tim yang dianggap tak cukup berani, sekaligus karena dinilai tidak mengambil yang terbaik dari skuad yang tersedia.
Namun, ia mengingatkan bahwa Clarke sudah memimpin Skotlandia selama tujuh tahun dan membawa tim ke tiga kejuaraan besar. Itu menjadi warisan yang menurutnya baik—meski kini berakhir bahkan setelah ia baru menandatangani perpanjangan kontrak.
Di bagian penilaian kualitas, English menilai gagasan bahwa skuad Skotlandia dipenuhi kualitas tidak terlalu kuat jika bicara secara jujur. Menurutnya, tim memang berisi pemain yang mau berusaha, tetapi secara kolektif mereka rata-rata, bahkan di level Piala Dunia yang “jarang memberi ruang” bagi tim yang tidak benar-benar siap.
Ia juga mencontohkan beberapa kondisi pemain: Angus Gunn disebut tak mendapat kesempatan bermain bagi Nottingham Forest. Aaron Hickey disebut pemain bagus namun “terkena sial” akibat cedera. Nathan Patterson kesulitan mendapat menit bermain bersama Everton. Jack Hendry baru menyelesaikan musim di peringkat ketujuh Liga Pro Arab Saudi.
Grant Hanley, meski dikenal dengan ketangguhan, dinilai bukan bek internasional berkelas tinggi. English menambahkan bahwa setelah kesalahan saat melawan Maroko, Hanley digantikan Scott McKenna menghadapi Brasil. Menurutnya, McKenna melakukan kesalahan fatal setelah tujuh menit.
English tetap memberi konteks bagi McKenna: ia disebut pemain yang baru saja memenangkan liga Kroasia bersama Dinamo Zagreb. Meski begitu, jumlah pemain yang berbasis di Kroasia dalam skuad Piala Dunia disebut hanya dua, dan hanya satu yang tampil di laga-laga sejauh ini.
English mengaitkannya dengan performa Eropa: pada musim Europa League terakhir, Dinamo disebut finis peringkat 23 dari 36 tim. Karena itu, English menyatakan tim McKenna tidak berada pada kelas Eropa paling atas.
Masalah cedera dan peran
Kieran Tierney disebut pemain hebat, tetapi cedera membatasi pengaruhnya—ia hanya bermain satu kali penuh 90 menit sepanjang musim. Andy Robertson disebut luar biasa selama bertahun-tahun di Liverpool, namun English menilai musim terakhir mayoritas penampilannya di Liga Primer datang sebagai pemain pengganti.
Untuk Scott McTominay, English menilai ia sempat dipandang sebagai figur penentu, tetapi saat menghadapi lawan-lawan besar di lini tengah, ia tidak tampil seperti yang diharapkan. Meski demikian, ia menyebut McTominay mampu memunculkan momen-momen brilian dan disebut sebagai salah satu bintang nyata di Serie A.
Yang dipersoalkan English adalah seberapa jauh “nilai” Serie A untuk konteks besar di Amerika. Ia membandingkan: Napoli menjadi juara Italia dua musim lalu, tetapi di Liga Champions kampanye terakhir mereka hanya memenangkan dua laga dari delapan dan finis peringkat 30 di klasemen.
English menyimpulkan bahwa Serie A dan sepak bola Italia secara umum tidak lagi seperti dulu. Ia menambahkan fakta bahwa Azzurri gagal lolos ke tiga Piala Dunia terakhir, sehingga harapan agar McTominay “menyalakan” panggung di Amerika hanya karena di Napoli sedang bersinar dianggap terlalu berat.
Soal John McGinn, English mengatakan ia dicintai, dan ia mengingat kontribusi McGinn bagi jersey Skotlandia. Tetapi lagu “Super John McGinn” menurut English kini lebih mirip seruan yang memilukan ketimbang pernyataan yang benar.
Ia menilai McGinn butuh pemain-pemain yang kuat di sekelilingnya agar bisa maksimal. Clarke, menurut English, menempatkan McGinn di sisi kiri—bukan posisi terbaiknya—karena ia membutuhkan kecepatan Ben Gannon-Doak di kanan.
English mengakui Gannon-Doak sebagai prospek yang menarik, tetapi ia menilai statusnya di Skotlandia tidak sejalan dengan kondisi terakhir: pemain itu disebut cedera dan hanya bermain 150 menit untuk Bournemouth pada musim ini. Ryan Christie juga dinilai memilih peran yang tidak sejalan dengan kenyamanan klubnya; English menyebut ia baru memulai sembilan pertandingan liga untuk Bournemouth, dengan 17 penampilan lainnya sebagai pemain pengganti.
Lewis Ferguson disebut sebagai pemain Skotlandia yang paling menonjol di Amerika, meski tidak selalu menjadi starter reguler untuk Bologna. Meski demikian, English menilai para penyerang Skotlandia tidak mampu memberikan dampak berarti, sebagian karena minimnya peluang dan umpan yang mereka terima.
Retret yang paling pelan
English menutup dengan pandangan ke depan yang suram. Ia menyoroti pernyataan Clarke tentang kebutuhan menghadirkan pemain yang lebih atletis dan dinamis ke depannya, tetapi English mempertanyakan bagaimana itu bisa terjadi bila klub-klub Skotlandia enggan memberi kesempatan kepada pemain muda.
Ia menegaskan bahwa ini bukan keluhan baru. Menurutnya, keluhan itu sudah terdengar bertahun-tahun dan tidak ada perubahan berarti. English menyebut Skotlandia memiliki salah satu skuad tertua di Piala Dunia, dan sebagian besar pemain kemungkinan akan pensiun sekarang.
Ia menambahkan bahwa di masa mendatang akan muncul krisis pemain. Untuk saat ini, skuat yang pulang terasa seperti “retreat paling pelan” dari Amerika, dengan memori awal di New York dan New Jersey mulai memudar. Harapan atas kemenangan 4-0 atas Bolivia, menurut English, kini menjadi hancur.
Ia mengingatkan bahwa beberapa minggu lalu Clarke berkata bahwa ia telah berubah, tetapi “akhirnya” menurut English pola masalahnya tetap sama. Skotlandia dinilai mampu sampai sejauh ini, namun lagi-lagi tinggal di sana adalah hal yang di luar jangkauan mereka.
English menilai bahwa siapa pun bisa disalahkan—manajer, para pemain, atau siapa pun yang lain—namun kenyataannya pahit: tim yang hanya mencetak satu gol lewat bola berbelok ganda saat melawan tim peringkat ke-83 terbaik di planet ini tidak layak berada di babak 32 besar, meski upaya dan kejujuran mereka jelas ada.
Terakhir, English memberi penekanan pada suporter: bagi English, kisah dukungan mereka akan tetap diceritakan lama setelah sepak bola dilupakan.












