Olahraga

Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Bidik Rekor Remaja Elit saat Spanyol Hadapi Argentina di Final

×

Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Bidik Rekor Remaja Elit saat Spanyol Hadapi Argentina di Final

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Lamine Yamal bidding to join elite group of teenagers as Spain play Argentina in final

jurnalistik.co.id – Spanyol melangkah ke partai puncak Piala Dunia 2026 menghadapi Argentina, dan perhatian besar mengarah ke satu nama: Lamine Yamal. Menjelang laga di hari Minggu, bintang muda itu membawa misi ganda—mengejar kemenangan sekaligus membuka peluang menorehkan catatan bersejarah.

Dalam wawancara yang dibahas menjelang turnamen, saat ditanya apakah Spanyol akan menjadi juara, Lamine Yamal menjawab, “yes”. Respons singkat tersebut menjadi cermin dari keyakinan yang selama ini melekat pada dirinya, meski sepanjang perjalanan turnamen ia tak selalu tampil seperti yang diharapkan banyak orang.

Faktanya, di Piala Dunia ini Yamal hanya mencatat satu gol dan belum menyumbang assist. Meski begitu, perjalanan Spanyol tetap berjalan mulus hingga final. Kompetitornya sudah diperkuat oleh nama-nama besar, tetapi momen penentu kini datang untuk Yamal—dan ia berpotensi menjadikannya babak yang berbeda.

Rekor usia: peluang masuk “kelas elite”

Angka-angka di sisi performa tim memperkuat narasi ini. Lamine Yamal belum merasakan kekalahan untuk Spanyol dalam 27 pertandingan kompetitif yang ia mainkan. Selain itu, ia sudah memulai 12 laga di turnamen-turnamen besar untuk Spanyol dan memenangkan semuanya, sekaligus memegang laju kemenangan penuh terpanjang dari setiap pemain Eropa yang memulai laga di turnamen besar.

Jika Yamal mampu mencetak gol saat final di New York pada hari Minggu, ia akan menjadi pemain remaja ketiga yang berhasil menjebol gawang di partai puncak Piala Dunia. Dua nama yang lebih dulu menorehkan jejak serupa adalah Pele pada 1950 dan Kylian Mbappé pada 2018.

Namun peluang tidak berhenti di gol. Andai Spanyol keluar sebagai juara, Yamal akan menjadi remaja keempat yang sekaligus memulai final Piala Dunia dan mengangkat trofi. Catatan tersebut sebelumnya dimiliki Pele, Mbappé, serta Giuseppe Bergomi bersama Italia pada 1982. Tim Spanyol juga punya peluang lanjutan karena rekan satu timnya, Pau Cubarsi, dapat menjadi remaja kelima yang meraih pencapaian serupa.

Sejumlah pendukung Spanyol menilai penentu utamanya adalah hasil. Salah seorang penggemar menyatakan, “No-one will care whether Lamine has scored lots of goals and created lots of goals,” dan menambahkan, “If he wins the World Cup with Spain, he will be a legend forever.” Ia juga menyinggung kemungkinan skenario berbeda bila Spanyol gagal: “If we lose to Argentina, no-one will remember his first World Cup. We know he will have lots of other World Cups and we believe he will become the greatest.”

Ia menutup dengan keyakinan atas kesempatan yang langka bagi remaja untuk meraih trofi: “But not many teenagers get the chance to win a World Cup. This is his chance. He will have regrets if we lose and he hasn’t been able to play his best.”

Awal yang tidak mulus, lalu ritme yang terus dibangun

Meski terdengar “tidak meledak” di statistik mencetak gol, perjalanan Yamal di turnamen tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisiknya. Ia masuk dengan cedera, sehingga memulai laga pembuka di bangku cadangan. Ketika ia akhirnya diturunkan sebagai pemain pengganti melawan Tanjung Cape Verde, ia tidak mampu membantu Spanyol membuka pertahanan lawan pada laga yang berakhir tanpa gol.

Pada pertandingan berikutnya, Yamal mendapatkan kesempatan bermain sejak awal dan langsung memberi dampak. Ia mencetak gol sepuluh menit setelah menjalani debut penuh Piala Dunia. Setelah gol itu, karena Spanyol terus merawat pemulihannya, ia ditarik pada babak pertama meski laga sudah terkendali.

Sejak saat itu, ia kemudian menjadi starter di setiap pertandingan saat Spanyol terus melaju. Tim itu bukan hanya melewati fase-fase awal, tetapi juga menyingkirkan Prancis dalam semifinal sehingga mengantarkan mereka ke final Piala Dunia mereka yang kedua.

Dalam penjelasannya, Yamal menekankan fokus pada peran tim, bukan sekadar angka. Ia mengatakan, “Obviously I want to score but I don’t go on to the pitch thinking about that. I do it thinking about helping the team,” lalu menambahkan, “If we win the World Cup, no-one will remember whether I scored goals… the important thing is winning.” Ia juga menegaskan kontribusi di luar gol: “I know I can contribute even if I don’t score. I know my movements draw in many opponents so I do everything I can to help the team.”

Ancaman dari sisi lain: dribel dan tekanan dalam pertandingan

Di atas lapangan, Yamal tetap menjadi ancaman. Ia mencoba melakukan dribel sebanyak 49 kali, setidaknya tujuh kali lebih banyak dibanding pemain lain di turnamen. Dari jumlah tersebut, ia sukses menyelesaikan 22 dribel—minimal enam lebih banyak daripada pemain lain, kecuali Lionel Messi yang mencatat 25 penyelesaian dribel.

Sebelum laga semifinal melawan Prancis, Rodri sempat menyinggung pendekatan yang perlu ditenangkan. Ia menilai Yamal masih memiliki kecemasan yang berlebih: “I think he needs to calm down a bit, that anxiety that sometimes he has to prove himself,” ujar Rodri. Ia melanjutkan bahwa Yamal adalah figur penting karena kontribusinya dengan dan tanpa bola: “He’s a very important player for us because of what he does with and without the ball, and he’s a very intelligent guy.”

Rodri juga mengingatkan konteks usia: “It’s true that he’s 19 years old and that we have to calm him down at certain moments of the game.”

“Beredarnya tongkat” dari Messi ke Yamal

Tak ada diskusi tentang Yamal tanpa membicarakan Messi. Pertemuan dua figur ini diceritakan sudah terjadi hampir dua dekade lalu, saat Lamine Yamal yang masih berusia bayi difoto sedang dimandikan oleh Messi yang saat itu berumur 20 tahun untuk sebuah pemotretan kompetisi.

Perbandingan memang sulit dihindari. Statistik menunjukkan Yamal berada di jalur yang membuatnya diproyeksikan menjadi penerus yang pantas. Ia sudah merasakan semifinal Liga Champions, memenangkan Kejuaraan Eropa, serta diberi nomor 10 di Barcelona—nomor yang sebelumnya dikenakan Messi selama hampir 15 tahun.

Meski baru berusia 19 tahun, Yamal telah menjalani 151 pertandingan untuk Barcelona. Pada ulang tahun ke-19 Messi yang jatuh pada 24 Juni 2006, ia baru memiliki 41 penampilan di kasta tertinggi bersama klub tersebut. Dengan demikian, Yamal dipandang bukan sekadar harapan, melainkan bintang yang sudah mapan.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mencoba meredam narasi pembanding tersebut. Ia menyatakan, “The worst mistake would be to compare him to Messi and Maradona,” dan menambahkan, “He is the midst of a process.” De la Fuente juga menilai Yamal memiliki ketenangan serta kekuatan: “He is the midst of a process. He has great serenity and strength.”

Ia menyamakan karakter khusus pemain seperti seniman: “Those players who have something different are ready for that. They’re geniuses, like Dali or Michelangelo.” Menurutnya, perbedaan itu membuat mereka nyaman: “They’re different. What is exceptional to us isn’t to them. In those extremes, they feel comfortable.” Ia lalu menjelaskan alasan besarnya: “Why? Because they are different. What we think is exceptional, they consider normal.”

Dalam cerita final, banyak sorotan juga diarahkan pada peluang Messi meraih Piala Dunia kedua pada usia 39 tahun. Jika Spanyol mampu memenangi laga, itu bisa menjadi momen ketika “tongkat estafet” makin terasa—sebuah peralihan yang memberi ruang bagi kisah baru bersama Lamine Yamal.

Suasana ruang keluarga di balik perjalanan turnamen

Kolumnis BBC Guillem Balague menggambarkan kedekatan keluarga Yamal dengan perjalanan turnamen ini. Ia menuturkan melihat dua sahabat yang menurutnya membuat Yamal merasa nyaman dan dibawa ke mana pun, serta suasana ketika sekitar 200 orang menunggu para pemain di luar hotel. Balague juga menyebut Sheila, ibu Yamal, dan Keyne, adik laki-lakinya, sebagai bagian dari pengalaman yang ikut dinikmati sang pemain.

Menurut Balague, tidak semuanya berjalan mudah. Ia menyinggung bahwa beberapa hari sebelumnya ada upaya mencoba masuk ke rumah Yamal di Catalonia, Spanyol, namun para pelaku meninggalkan lokasi setelah menyadari adanya kamera keamanan.

Balague menambahkan bahwa Yamal tidak berada dalam kondisi 100 persen fit dan belum selalu menjadi versi terbaiknya selama turnamen. Meski begitu, ia ingin menunjukkan kualitas yang ia miliki. Ia selalu menyebut hal pertama yang ingin dipulihkan saat berada di lapangan adalah rasa yang ia rasakan ketika bermain di lapangan beton di Rocafonda, lingkungan pekerja di Mataro, Spanyol.

Ia bercerita bahwa saat melakukan sesuatu di sana, orang-orang yang setengah menonton dari tribun akan berdiri dan bertepuk tangan—perasaan itulah yang ingin ia bawa kembali. Dalam kesempatan yang diberikan tim, Yamal diundang untuk mencoba apa pun yang ia inginkan, tetapi tetap dengan cara yang cerdas.

Balague menilai ada peningkatan dalam semifinal melawan Prancis, termasuk kerja defensif yang membuatnya dipuji oleh tim. Namun, menurut pengamatannya, meski banyak orang menyebut Yamal satu-satunya yang bisa memenangkan pertandingan sendirian, Spanyol belum sepenuhnya membutuhkan skenario itu—setidaknya hingga mereka tiba di final ini.