jurnalistik.co.id – Pesawat Citilink rute Balikpapan–Tarakan sempat melakukan holding atau berputar di udara sebelum akhirnya mendarat di Bandara Internasional Juwata Tarakan, Kalimantan Utara, pada Minggu (19/7/2026).
Corporate Secretary and CSR Group Head Citilink, Tashia Scholz, menjelaskan bahwa penerbangan Citilink dengan nomor QG400 tetap berangkat dari Balikpapan sesuai jadwal, namun mengalami keterlambatan pendaratan di Tarakan akibat kondisi cuaca buruk.
Menurut jadwal, pesawat berangkat pada pukul 09.15 waktu setempat. Namun, proses pendaratan baru terlaksana setelah kondisi di wilayah Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan membaik.
Tashia menyampaikan, “Penerbangan Citilink dengan nomor penerbangan QG400 rute Balikpapan-Tarakan tanggal 19 Juli 2026 yang sebelumnya telah lepas landas sesuai jadwal pada pukul 09.15 waktu setempat mengalami keterlambatan pendaratan di wilayah Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan dikarenakan faktor cuaca yang buruk,” ujar Tashia, dikutip dari TribunKaltara, Minggu.
Selama berada di udara, pilot menjalankan prosedur operasional dengan melakukan koordinasi bersama petugas menara pengawas penerbangan. Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan kondisi memungkinkan pesawat mendarat dengan aman.
Tashia menegaskan proses tersebut melalui kutipan berikut, “Dari kemudi pesawat, pilot berkoordinasi sesuai prosedur dengan regulator menara setempat untuk memastikan kondisi cuaca membaik saat mendarat,” ujar Tashia.
Setelah cuaca dinilai aman, pesawat akhirnya mendarat pada pukul 11.09 Wita. Perkiraan jadwal kedatangan yang sebelumnya tercatat adalah pukul 10.30 Wita, sehingga ada jeda waktu lebih dari setengah jam dibanding rencana awal.
Berita Terkait
- Arak-arakan CJP dari Jantar Mantar menuju parlemen: Ribuan demonstran ‘cockroach’ memenuhi jalanan Delhi
- JD Vance umumkan anak keempat: Usha dan Alec Neel Vance ‘happy and healthy’ saat lahir
- Gusnar Ismial Terbitkan Surat Edaran Siaga Kemarau 2026, BPBD Dorong Pemda Antisipasi Kekeringan dan Karhutla
Citilink juga menyatakan seluruh penumpang telah memperoleh penjelasan mengenai penyebab keterlambatan selama penerbangan berlangsung. Menurut Tashia, “Ia kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang QG400 atas keterlambatan yang terjadi.”
Terkait respons penumpang, Citilink menyampaikan bahwa penjelasan tersebut diterima dengan baik oleh para penumpang. Pesan yang disampaikan juga menekankan bahwa perusahaan memprioritaskan aspek keselamatan dan keamanan dalam setiap operasional penerbangan.
Dalam penutup pernyataannya, Tashia menyampaikan, “Citilink senantiasa mengutamakan aspek keselamatan serta keamanan penerbangan, oleh karena itu kami selalu berupaya sejak dini dalam mengantisipasi hal-hal yang berpotensi mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan,” pungkas Tashia.
Sementara itu, Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menyatakan bahwa penundaan pendaratan akibat cuaca di Bandara Juwata bukanlah kejadian yang baru. Ia mengaitkannya dengan karakteristik landasan pacu di Tarakan yang hanya dapat digunakan dari satu arah, yakni dari sisi laut.
Sulam Khilmi menjelaskan mekanismenya melalui kutipan, “Runway kita yang runway di Tarakan itu yang bisa digunakan kan hanya satu. Hanya dari arah laut. Nah , ketika pada saat pesawat mau landing terus anginnya dari laut, terus kecepatannya melebihi ambang batas, tentu ini enggak bisa melaksanakan aktivitas landing,” jelas Sulam dikutip dari TribunKaltara, Minggu.
Ia menambahkan gambaran yang dimaksud agar dipahami dalam konteks operasional bandara, “Berbeda dengan kalau misalnya runway -nya bisa dari dua arah. Kalau di sini Tarakan kan hanya satu arah saja. Nah itu, jadi sudah biasa terjadi kalau anginnya dari laut. Begitu gambaran umumnya,” tambah Sulam.
Keterlambatan itu juga terlihat dari perbedaan antara rencana dan realisasi. Setelah berangkat dari Balikpapan pada pukul 09.15 Wita, pesawat kemudian menjalani fase menunggu dan penyesuaian di udara sebelum akhirnya bisa turun saat kondisi di area Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan dinilai membaik. Dengan begitu, jadwal kedatangan yang semula diperkirakan sekitar pukul 10.30 Wita bergeser menjadi pukul 11.09 Wita.
BMKG Tarakan menggambarkan bahwa keterbatasan operasional landasan pacu menjadi salah satu faktor penentu saat angin datang dari laut. Karena runway di Tarakan hanya bisa dimanfaatkan dari satu arah, ketika angin dari laut mendorong kecepatan melewati ambang batas, pesawat tidak dapat melakukan pendaratan. Situasi seperti ini membuat prosedur penyesuaian—termasuk koordinasi dan menunggu—menjadi bagian dari upaya memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas.












