jurnalistik.co.id – Ferran Torres menuntaskan laga final Piala Dunia 2026 bagi Spanyol lewat gol pada babak tambahan waktu, sekaligus memastikan La Roja mengalahkan Argentina 1-0 dan menjadi juara dunia.
Laga yang berlangsung di Stadion Metlife, New Jersey, pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat itu memperlihatkan Spanyol lebih sering mengendalikan ritme sejak awal pertandingan. Ketika skor masih bertahan tanpa gol, pertandingan justru menemukan titik baliknya di momen-menit krusial extra time.
Torres menjadi nama penentu setelah mencetak gol pada menit ke-106. Ia melepaskan tembakan voli keras dari jarak dekat yang tidak mampu dihentikan kiper Argentina, Emiliano MartĂnez, sehingga Spanyol akhirnya meraih keunggulan tunggal 1-0.
Usai pertandingan, Torres menggambarkan kemenangan itu sebagai hasil yang melampaui dirinya maupun rekan-rekan satu tim. “Saya pikir pada akhirnya gol itu adalah milik 47 juta orang, bukan hanya milik saya atau 26 pemain yang ada di sini,” ujar Torres melalui penerjemah, seperti dikutip dari Reuters.
Dalam pernyataan yang sama, penyerang Barcelona tersebut juga menyinggung keyakinannya terhadap jalannya pertandingan. “Saya percaya hari ini takdir sudah ditulis. Memang sudah menjadi bagian kami untuk menang. Kami jauh dari para suporter, tetapi kami berusaha membuat mereka merasa sedekat mungkin”.
Gol Torres juga membawa gema sejarah, karena memiliki kemiripan dengan momen ikonik Andres Iniesta pada final Piala Dunia 2010. Kala itu, Iniesta mencetak gol kemenangan Spanyol di babak tambahan waktu saat menghadapi Belanda dengan skor 1-0. Kini, 16 tahun delapan hari setelahnya, Torres mengikuti jejak sang legenda melalui gol yang sama-sama menentukan hasil.
Berita Terkait
Dari jalannya laga, Spanyol terlihat menekan dan konsisten menciptakan peluang. Torres mencatatkan tembakannya sebagai yang ke-20 sepanjang pertandingan, sementara Argentina tidak mampu melepaskan satu pun tembakan hingga fase akhir. Dominasi seperti itu membuat gol di extra time terasa sebagai kelanjutan dari usaha Spanyol yang terus menekan sejak menit awal.
Selain memenangi trofi, hasil ini juga memperpanjang catatan panjang keberhasilan Spanyol di level turnamen besar. Kemenangan Piala Dunia 2026 membuat La Roja kembali menorehkan sejarah sebagai satu-satunya negara yang mampu menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia secara beruntun sebanyak dua kali, setelah sebelumnya melakukan hal serupa pada periode 2008-2010.
Perayaan setelah pertandingan turut menggambarkan arti kemenangan bagi para pemain. Rodri, yang mengenakan nomor punggung 16, terlihat mencium Piala Bola Emas saat upacara penghargaan digelar dalam laga final Spanyol vs Argentina di East Rutherford, pada 19 Juli 2026.
Bagi Spanyol, kemenangan ini sekaligus menjadi gelar juara dunia kedua sepanjang sejarahnya. Sedangkan bagi Argentina, final yang dijalani tanpa tembakan berarti menjadi salah satu tanda betapa sulitnya menghentikan laju lawan, sampai pada akhirnya satu gol dari Ferran Torres pada menit ke-106 cukup untuk mengunci kemenangan La Roja.
Sejak awal, Spanyol berupaya membaca permainan untuk memegang kendali, sehingga ruang gerak Argentina menjadi semakin sempit. Ketika laga akhirnya memasuki menit-menit akhir tanpa gol, perubahan suasana justru datang dari disiplin tim yang terus mencari celah, bukan dari keputusan mendadak atau serangan acak.
Gol pada menit ke-106 itu sekaligus memperlihatkan ketajaman yang muncul ketika tekanan mencapai puncaknya. Upaya Ferran Torres tidak hanya menjadi momen penentu, tetapi juga mencerminkan bagaimana Spanyol menjaga kualitas serangannya sampai extra time, sementara Emiliano MartĂnez tidak menemukan cara untuk menghentikan bola voli dari jarak dekat tersebut.
Selepas peluit panjang berbunyi, perayaan menegaskan bahwa kemenangan ini dipandang sebagai pencapaian bersama. Torres menempatkan kemenangan itu sebagai milik 47 juta orang, dan sekaligus menggambarkan keyakinannya bahwa hasil akhir memang sudah menjadi bagian dari perjalanan tim. Di atas lapangan, rasa lega dan kemenangan juga terlihat lewat Rodri yang, dengan nomor punggung 16, mencium trofi yang diterima saat sesi penghargaan setelah laga final.












