jurnalistik.co.id – Final Piala Dunia yang mempertemukan Spanyol melawan Argentina menjadi alasan sejumlah warga Kota Bogor mengatur ulang aktivitas kerja mereka pada Senin dini hari. Mereka datang ke Balai Kota Bogor, Jawa Barat, untuk menyaksikan laga melalui layar videotron.
Sejak awal pertandingan, halaman Balai Kota dipadati warga yang duduk maupun berdiri terutama di area belakang. Panitia menyiapkan posisi yang terlihat terbagi, dengan pendukung Spanyol menempati sisi kiri dari videotron, sementara pendukung Argentina berada di sisi kanan.
Suasana nobar berlangsung seperti format nonton bareng yang terarah. Selain menunggu momen pertandingan, warga juga dapat menikmati hidangan dan minuman tanpa dipungut biaya dari stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berada di dekat pos Satpol PP.
Berbagai penyesuaian jadwal kerja dilakukan agar warga tidak kehilangan momen laga. Salah satunya Naufal (25), yang mengatakan sejak beberapa hari sebelumnya telah menukar sif dengan rekan kerjanya untuk masuk siang. Ia mengaku proses pergeseran jadwal sudah dimulai sekitar lima hari sebelum pertandingan.
“Sebelumnya kan saya dari lima hari sebelumnya saya udah minta izin buat masuk siang. Tukar jadwal, tukar jadwal, tukar sif lah sama teman saya, buat nonton bola,” ucap Naufal saat ditemui di lokasi pada Senin dini hari.
Naufal bekerja di sektor ritel dan memilih Balai Kota Bogor karena aksesnya lebih dekat dibandingkan jika harus menonton di Alun-alun Kabupaten Bogor. Ia menilai jarak tempuh menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan hadir bersama teman-temannya.
Dalam perjalanan menuju lokasi, Naufal tidak datang sendirian. Ia mengajak teman-teman sekitar rumah untuk ikut menyaksikan final, sehingga kegiatan nobar di Balai Kota Bogor terasa lebih ramai dan terorganisasi dari awal.
Berita Terkait
Warga lain, Indra (27), juga menyampaikan bahwa ia memperoleh kelonggaran dari pimpinan tempatnya bekerja. Menurut Indra, izin yang diberikan memungkinkan dirinya datang menyaksikan laga sebelum waktu kerja keesokan harinya dimulai, dengan batas toleransi keterlambatan.
“Besok kerja masuk pagi jam 08.00 WIB. Mungkin agak telat dikit ke lokasi enggak apa-apa, ada sekitar (toleransi) 15 sampai 20 menit sih,” ungkap Indra saat berbicara kepada wartawan di Balai Kota Bogor.
Indra datang bersama dua temannya dari Ciawi. Ia menyebut informasi kegiatan nobar didapat dari rekomendasi rekannya, yang kemudian mendorong mereka berangkat bersama untuk menyaksikan pertandingan langsung di lokasi.
Selain menyediakan konsumsi gratis dari stan UMKM, pemerintah kota juga menyiapkan hiburan dan hadiah untuk warga yang hadir. Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Bogor membagikan 100 doorprize.
Meski antusiasme warga tinggi, penyelenggaraan tetap menetapkan ketentuan agar suasana tetap tertib dan aman. Warga dilarang membawa flare, petasan, senjata tajam, minuman keras, dan obat-obatan terlarang.
Ketertiban area nobar juga dijaga melalui imbauan agar warga tidak merokok di lokasi kegiatan. Penyelenggara turut mengingatkan agar peserta tidak membawa atribut politik selama acara berlangsung.
Melalui pengaturan jam kedatangan dan toleransi yang diberikan kepada pekerja, kegiatan nobar di Balai Kota Bogor menunjukkan upaya mengakomodasi kebutuhan warga. Pada saat yang sama, aturan yang dipasang membantu menjaga agar keramaian tetap berada dalam koridor ketertiban.
Bagi warga, final Piala Dunia yang digelar pada Senin dini hari bukan sekadar tontonan, melainkan momen kebersamaan yang mendorong mereka menata ulang waktu. Kerja yang semula terjadwal tetap bisa diikuti, sementara kesempatan menyaksikan pertandingan melalui videotron menjadi alasan kuat kehadiran mereka di lokasi.












