Pendidikan

Psikolog Gloria Siagian Jelaskan: Serba Baru Tahun Ajaran Baru Benarkah Bikin Anak Lebih Semangat Belajar?

×

Psikolog Gloria Siagian Jelaskan: Serba Baru Tahun Ajaran Baru Benarkah Bikin Anak Lebih Semangat Belajar?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Benarkah Perlengkapan Sekolah Baru Bikin Anak Lebih Semangat Belajar? Ini Penjelasan Psikolog

jurnalistik.co.id – Menjelang pergantian tahun ajaran, banyak keluarga menyiapkan perlengkapan sekolah yang tampak baru: mulai dari seragam, tas, sepatu, hingga alat tulis. Bagi sebagian orangtua, belanja ini bukan sekadar urusan kebutuhan, melainkan cara untuk menyambut perubahan tingkat belajar dengan suasana yang lebih bersemangat.

Kepercayaan itu membuat sebagian orangtua rela mengeluarkan biaya lebih agar anak memiliki perlengkapan yang serba baru. Bahkan, tidak sedikit keluarga dari kalangan ekonomi menengah ke atas memilih perlengkapan bermerek dengan harga yang bisa mencapai jutaan rupiah.

Selain dorongan untuk membangun motivasi, ada pula alasan penataan diri. Orangtua kerap berharap anak tampil rapi dan percaya diri saat pertama kali masuk sekolah setelah naik kelas, sehingga kesan awalnya terlihat lebih siap dan tertata.

Semangat yang muncul di awal

Lantas, apakah perlengkapan serba baru memang otomatis membuat anak lebih bersemangat belajar di sekolah? Psikolog Gloria Siagian menjelaskan bahwa banyak anak dapat merasa lebih percaya diri ketika mengenakan barang-barang baru pada tahun ajaran baru.

Gloria menilai rasa percaya diri itu muncul karena sejak kecil anak belajar bahwa barang baru merupakan tanda awal sekaligus simbol identitas yang baru. Ia menyebut momen tersebut terasa seperti penanda bahwa fase belajar anak sedang berpindah.

“Sebenarnya, hal ini mungkin merupakan efek dari pembelajaran yang melihat bahwa seragam baru, tas baru, serta sepatu baru merupakan indikasi awal yang baru atau identitas yang baru,” tutur Gloria saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (26/6/2026).

Menurut Gloria, identitas baru yang dimaksud dapat dirasakan saat anak naik ke jenjang yang lebih tinggi. Contohnya, ketika anak yang sebelumnya berada di kelas tiga lalu masuk ke kelas empat, kenaikan kelas kerap dimaknai sebagai momen pembaruan diri yang seolah perlu didukung oleh perlengkapan baru.

Pengaruhnya tidak selalu bertahan

Meski demikian, Gloria menegaskan efek perlengkapan sekolah yang tampak baru terhadap peningkatan kepercayaan diri tidak selalu berlangsung lama. Ia menilai barang-barang baru tersebut lebih berperan sebagai penyemangat atau dorongan pada awal masa sekolah.

Dengan kata lain, semangat yang terbentuk sering kali berhubungan dengan kesadaran terhadap perubahan yang sedang dialami anak, bukan karena perlengkapan itu sendiri otomatis membuat anak menjadi lebih termotivasi secara menetap di sekolah.

Gloria juga menjelaskan bahwa dorongan awal tersebut dapat terkait dengan pemahaman anak mengenai posisi dirinya. “Perasaan ini lebih kepada kesadaran bahwa mereka sudah bukan anak kecil lagi atau sudah naik ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya dari SD pindah ke SMP,” sambung Gloria.

Dari penjelasan psikolog tersebut, gagasan utama yang dapat dipahami adalah adanya perbedaan antara peningkatan rasa percaya diri pada awal periode dan perubahan yang signifikan pada sikap belajar di lingkungan sekolah. Menurut Gloria, pembentukan karakter di rumah dan kebiasaan yang dibangun berperan lebih besar dalam perkembangan anak.

Dalam konteks itu, perlengkapan serba baru dapat dipandang sebagai pemantik suasana saat transisi berlangsung. Namun, ketika masa awal berlalu, pengaruhnya cenderung meredup, sehingga tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan diri anak di sekolah secara jangka panjang.

Karena itu, orangtua dapat menempatkan perlengkapan baru sebagai bagian dari penyambutan tahun ajaran, sekaligus memastikan pendampingan yang konsisten setelahnya. Dengan begitu, semangat yang muncul pada awal tidak berhenti hanya pada simbol barang baru, tetapi didukung oleh cara orangtua membangun kesiapan anak menghadapi proses belajar.