Otomotif

Kasus Truk Hantam Motor di Bekasi, Sopir Diingatkan Jangan Asal Rem

×

Kasus Truk Hantam Motor di Bekasi, Sopir Diingatkan Jangan Asal Rem

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Belajar dari Kasus Truk Tabrak Motor di Bekasi, Sopir Jangan Asal Injak Rem

jurnalistik.co.id – Insiden truk yang menghantam deretan sepeda motor yang sedang berhenti di persimpangan jalan kembali mengemuka sebagai pengingat bahwa kecelakaan di jalan kerap berulang. Kasus terbaru terjadi pada truk Isuzu Giga di Simpang Unisma, Bekasi, pada Senin (29/6/2026).

Peristiwa itu melibatkan lokasi di Jalan Cut Meutia, dekat persimpangan Universitas Islam 45 (Unisma), Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Meski setiap kejadian bisa memiliki konteks berbeda, pola yang sama sering kali mengarah pada masalah yang berawal dari perilaku pengemudi saat mengendalikan kendaraan berat.

Menurut pandangan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, kecelakaan seperti ini tidak semata-mata bisa dijelaskan oleh kegagalan teknis. Ada faktor yang sering diabaikan dari balik kemudi, yakni bagaimana pengemudi memperlakukan sistem pengereman dan mengelola emosi selama berkendara.

Mengerem bukan sekadar menginjak pedal

Sony menegaskan bahwa banyak pengemudi kendaraan besar memiliki cara pandang yang keliru terhadap pengereman. Ia menyebut, praktik di lapangan kerap tidak mengikuti pemahaman dasar yang benar.

“Definisi mengerem itu bukan asal menginjak pedal rem. Banyak pengemudi kendaraan terutama truk atau bus yang lupa bahwa mengerem tidak semudah yang dibayangkan, dan sering gagal karena melakukannya secara asal-asalan,” ujar Sony saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Lebih lanjut, Sony mengaitkan risiko dengan gaya mengemudi yang agresif. Ia menyebut bahwa laju kendaraan yang tinggi serta kebiasaan stop and go secara kasar dapat memengaruhi daya tahan komponen pengereman.

Ketika kendaraan besar dipaksa bekerja keras akibat gaya berkendara yang serampangan, suhu perangkat rem dapat meningkat. Kondisi tersebut, menurut Sony, memperbesar risiko rem mengalami penurunan fungsi saat kendaraan membutuhkan pengereman yang semestinya responsif.

Emosi terkontrol di jalur perkotaan

Jalanan di area perkotaan memiliki tantangan tersendiri karena mobilitas pengguna jalan sangat tinggi. Sony menilai pengemudi kendaraan niaga berbobot besar justru harus meningkatkan kewaspadaan, bukan mengandalkan ego di jalan.

“Di jalan perkotaan yang kita tahu banyak sekali penggunanya melakukan aktivitas, sehingga tidak bisa mengemudinya main trabas saja. Harus ada emosi yang dikontrol, sehingga laju kendaraan bisa halus saat melakukan manuver,” kata Sony.

Sony menempatkan sikap terburu-buru sebagai pemicu yang kerap muncul saat mendekati lampu merah. Dorongan untuk menyusul atau melawan antrean pada akhirnya dapat membuat truk kurang siap menghadapi perubahan situasi di depan.

Dalam penilaiannya, gaya mengemudi agresif di area padat, khususnya di persimpangan, hampir dipastikan berujung pada kecelakaan yang fatal. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak jarak jauh, bukan respons instan ketika situasi sudah sangat dekat.

Pengemudi profesional: wise dan cover brake

Dalam aspek regulasi, Sony mengingatkan bahwa pengemudi truk atau kendaraan berat wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) Golongan B2. Ia menjelaskan dokumen tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan sertifikasi yang mencerminkan kompetensi dan kematangan yang lebih tinggi dibanding pengemudi kendaraan biasa.

“Biasanya pemilik SIM B2 sudah lebih wise (bijak) dalam menguasai kendaraannya. Jadi, kuncinya cuma menjaga emosi dan melakukan cover brake ,” tutur Sony.

Bagi Sony, kunci praktik di jalan adalah kombinasi pengendalian emosi dan kebiasaan pengereman yang tepat. Teknik cover brake, yang ia jelaskan sebagai langkah antisipasi dengan meletakkan kaki di atas pedal rem, menjadi bagian penting terutama saat mendekati persimpangan atau lampu lalu lintas.

Dengan menjaga emosi tetap stabil dan bersiap melakukan pengereman secara halus sejak jarak jauh, risiko keterlambatan refleks pengemudi saat menghadapi situasi darurat dapat ditekan. Pendekatan ini juga membantu mengurangi peluang kegagalan rem mekanis maupun konsekuensi yang muncul ketika kendaraan mendadak membutuhkan perlambatan yang presisi.

Kasus di Bekasi memberi pelajaran bahwa keselamatan bukan hanya urusan komponen kendaraan. Ada keputusan yang terbentuk sebelum kejadian berlangsung, saat pengemudi menempatkan rem sebagai sistem yang harus dipahami dan dioperasikan dengan benar, serta saat kendaraan berat dikendalikan dengan kendali emosi yang konsisten.

Dalam konteks persimpangan, setiap detik lebih berharga ketika laju kendaraan harus diselaraskan dengan kondisi sekitar. Karena itu, pengemudi profesional yang “wise” dan menerapkan cover brake dipandang sebagai langkah nyata untuk menghindari tragedi yang seharusnya bisa dicegah.