Hukum & Kriminal

Setidaknya Delapan Penangkapan Terkait Forum Online yang Mendorong Obat Bius dan Perkosaan terhadap Perempuan

×

Setidaknya Delapan Penangkapan Terkait Forum Online yang Mendorong Obat Bius dan Perkosaan terhadap Perempuan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: At least eight arrests linked to forums that encourage drugging and raping women

jurnalistik.co.id – Setidaknya delapan orang ditangkap di Inggris menyusul penyelidikan National Crime Agency (NCA) terkait jaringan daring yang mendorong pelaku untuk membius lalu melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.

NCA menyatakan pihaknya telah mengidentifikasi 270 individu yang terhubung dengan forum-forum tempat rekaman kekerasan seksual terkoordinasi dibagikan. Kejahatan semacam ini, menurut NCA, memiliki pola yang mengingatkan pada kasus Gisèle Pelicot di Prancis.

Dalam keterangan NCA, kekerasan tersebut kerap dilakukan oleh pasangan dalam jangka panjang. Badan itu juga menyebut tindakan yang terjadi “often taking place over decades”, menunjukkan karakter pelanggaran yang berulang dan berlangsung dalam rentang waktu panjang.

Deputi direktur NCA, Nigel Leary, menegaskan bahwa bentuk kekerasan seksual dengan bantuan obat bius tidak lagi merupakan perilaku terisolasi. Ia menyampaikan peringatan bahwa kasus seperti ini “is no longer isolated behaviour” dan “is increasingly organised”.

Menurut NCA, 270 orang yang diidentifikasi sejak Oktober 2025 terhubung dengan satu forum tertentu beserta situs-situs terkait. Dari upaya penelusuran terhadap situs-situs tersebut, NCA menyebutkan bukti yang dikumpulkan telah diteruskan kepada sejumlah aparat penegak hukum di luar negeri.

Badan tersebut menyebut saat ini terdapat 14 penyelidikan yang berjalan. Di sisi korban, NCA mengatakan telah menemukan dan mendukung delapan korban, serta menyiapkan respons yang terkoordinasi bersama jaksa penuntut dan lembaga perlindungan lainnya guna mengidentifikasi dan membantu mereka yang terdampak.

Representasi dari lembaga penegak hukum berbagai negara bertemu di London pada pekan lalu untuk bertukar informasi. NCA menyatakan pertemuan itu melibatkan pihak dari Brazil, Canada, France, Hungary, the Netherlands, Spain, dan the United States, dengan fokus pada dugaan pelaku, korban, serta kelompok-kelompok daring.

Hasil pertukaran informasi tersebut, menurut NCA, meliputi identifikasi lebih dari 150 pelaku dan korban, sekaligus munculnya empat komunitas online baru yang juga diduga terkait. NCA juga menyampaikan bahwa penemuan lanjutan tersebut memperluas cakupan jaringan yang sedang ditangani.

Dampak pada korban dan penegakan hukum

Siobhan Blake, national CPS lead untuk kasus perkosaan dan tindak pidana seksual serius, mengatakan: “The abuse we’re discussing is some of the most horrifying I have seen in my career.” Ia menambahkan bahwa para korban mengalami tindak pidana seksual yang sangat mengerikan di rumah mereka sendiri, dalam situasi yang oleh Blake disebut sebagai pelanggaran kepercayaan yang paling mendasar.

Blake juga menilai bahwa kejahatan tersebut bertumbuh lewat kerahasiaan yang dibangun di ruang daring dan terjadi di balik pintu tertutup. Ia menegaskan tugas sistem peradilan pidana adalah “to bring it out into the open to deliver for victims and survivors.”

Sementara itu, deputi asisten komisaris Helen Millichap, yang menjabat sebagai direktur National Centre for Violence Against Women and Girls and Public Protection, menyatakan bahwa sebagian korban mungkin tidak segera menyadari apa yang sesungguhnya terjadi pada diri mereka.

Millichap menekankan: “If something doesn’t feel right, you do not need proof or a clear memory to seek help.” Ia menambahkan bahwa polisi dan layanan dukungan akan memastikan korban didengarkan, diperlakukan dengan serius, serta mendapatkan perhatian dan perawatan yang dibutuhkan.

Perhatian publik terhadap isu ini, menurut teks yang dilaporkan, juga terkait dengan kesaksian Gisèle Pelicot dalam sebuah wawancara BBC Newsnight pada awal tahun ini. Dalam wawancara tersebut, Pelicot menyatakan ia “crushed by horror” setelah mengetahui suaminya berulang kali membuatnya tidak sadarkan diri dan mengundang puluhan pria untuk memperkosanya.

Pelicot, yang berusia 73 tahun, memilih untuk tidak menggunakan hak anonimitas agar dapat berbicara mengenai penderitaannya sekaligus mengkampanyekan dukungan bagi para korban. Dalam proses hukum, mantan suaminya, Dominique Pelicot, dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun.

Dengan rangkaian tangkapan, pengumpulan bukti, dan kerja sama lintas negara yang sedang berjalan, NCA berharap respons yang terkoordinasi dapat memperkuat identifikasi korban dan pelaku, sekaligus menutup ruang bagi jaringan online yang memfasilitasi tindakan kejam serupa.