jurnalistik.co.id – Jude Bellingham tampil sebagai titik tumpu bagi Inggris saat fase turnamen menuntut adaptasi cepat, terutama setelah momen berkelasnya di menit-menit akhir. Di Euro, ia mencetak gol sundulan overhead pada menit ke-95 melawan Slovakia untuk menyelamatkan asa tim.
Ketika Inggris mengalahkan Panama dengan skor 2-0, kualitas yang sama terasa kembali—tenaga, keberanian mengambil peran, dan pengaruh taktis yang konsisten. Dalam laga itu, Bellingham merayakan dengan berteriak ke arah tribun yang meriah, “Who else?”
Thomas Tuchel sempat menegaskan bahwa sistem dan pendekatannya akan relatif serupa sepanjang turnamen. Namun pada Sabtu, tampak adanya penyesuaian halus, dipengaruhi oleh kondisi skuad yang mengalami cedera. Di tengah perubahan tersebut, Bellingham berada di pusat upaya Inggris untuk tetap efektif.
Posisi yang semula diperdebatkan, lalu berubah menjadi mesin taktis
Di laga-laga awal, Inggris mengatur struktur yang berbeda untuk memaksimalkan beberapa pemainnya. Saat dua pertandingan pertama, tim membangun dari belakang dengan dua bek tengah dan Elliott Anderson di area tengah.
Dalam skema itu, kedua bek sayap mengambil posisi lebih melebar, sementara ruang yang biasanya diisi gelandang bertahan ditempati ulang: Declan Rice dan Bellingham meninggalkan zona holding midfield agar Harry Kane bisa turun dan bergabung dengan Anderson.
Perubahan paling menonjol terlihat ketika Inggris menghadapi Panama. Jarell Quansah masuk sebagai bek kanan menggantikan Reece James yang cedera, dan ia diminta menempatkan diri dalam formasi tiga bek saat penguasaan bola berlangsung bersama Marc Guehi dan Ezri Konsa.
Pola pergerakan kiri juga ikut bergeser, dengan Nico O’Reilly mempertahankan peran bek sayap yang bergerak bebas. Alih-alih Kane turun dalam ritme awal, Bellingham ditugaskan untuk mendukung Anderson di dasar lini tengah, sehingga bentuk Inggris saat bola bergerak bisa beralih dari 3-2-5 menjadi 3-1-6 sesuai cara Bellingham membaca permainan.
Usai laga, Tuchel menjelaskan niatnya dan menegaskan bahwa Bellingham “played as a 10 when we had the ball”, sekaligus menginginkan “to have six players in the last line.” Tujuan kalimat kedua itu selaras dengan usaha Inggris menutup ruang dan berpotensi mengungguli lima bek belakang Panama.
Prinsip permainan dan alasan Bellingham jadi kunci
Di bawah arahan Tuchel, Inggris membawa beberapa prinsip panduan yang membantu tim menjaga ritme. Tim berusaha memancing tekanan lebih dulu sebelum mempercepat alur permainan, mencari umpan vertikal ke ruang di belakang, dan melakukan counter-press secara kolektif ketika kehilangan bola.
Inggris juga mengutamakan pembangunan lewat area sayap dengan bantuan segitiga antara bek sayap, winger, dan gelandang serang. Selain itu, Tuchel menekankan maksimalisasi bola mati sebagai bagian penting dari rencana.
Prinsip-prinsip tersebut banyak dipinjam dari panduan Premier League musim 2025-26, dan tampak jelas saat Inggris menghadapi Panama. Kali ini, tim juga mencoba membangun melalui pusat lapangan, meski hasilnya bervariasi, seiring terlihat bahwa performa pemain sayap dalam kondisi sekarang tidak sepenuhnya cukup untuk menjadi satu-satunya tumpuan.
Cedera James membuat Inggris membutuhkan dimensi tambahan, dan di sinilah kecerdasan taktis serta fleksibilitas Bellingham benar-benar terasa. Anderson sering mengirim umpan terobosan yang tajam ketika celah di antara lini terbuka, sedangkan Kane, Morgan Rogers, O’Reilly, dan Bellingham sesekali berkumpul di area tengah untuk menghadirkan intensitas secara vertikal.
Dengan memusatkan permainan ke area-area tersebut, Panama cenderung mengerumuni bola sehingga ruang di sisi sayap ikut terbuka. Namun Inggris juga menyadari bahwa area ini belum menjadi prioritas utama dalam pendekatan Tuchel sebelumnya, sehingga memasukkannya di pertengahan turnamen membawa risiko—terutama karena pemain pengontrol ruang kecil di sempit, seperti Phil Foden, tidak berada dalam peta perencanaan saat itu.
Meski demikian, Bellingham—yang kuat bermain di ruang besar—mampu menyesuaikan diri. Saat menerima bola dalam tekanan di area di antara lini, ia menemukan cara-cara yang tidak konvensional untuk mengalirkan serangan ke pemain bebas di sisi lebar.
Ketika ruang di antara lini terlalu padat, ia juga pandai mencari pelanggaran alih-alih kehilangan bola. Dalam beberapa momen, tubuhnya dipakai untuk “mengunci” situasi hingga wasit menguntungkan Inggris, sebelum bola diteruskan ke ruang yang masih tersisa.
Pada satu fase, Bellingham menerima bola di antara lini meski tidak berada dalam posisi ideal, lalu tetap mengayunkan bola keluar untuk Bukayo Saka yang mendapat ruang menghadapi pertahanan Panama yang lebih rapat. Detail pergerakan itu menggambarkan bagaimana perubahan peran Bellingham tidak sekadar soal posisi, melainkan soal kontrol atas arah serangan.
Inti evaluasi di babak pertama dan ledakan di babak kedua
Di interval, asisten Tuchel, Anthony Barry, menyoroti cara Inggris memulai permainan. Ia berkata, “Our guys wanted to start the game fast. The stadium felt like a home game but all of this energy skewed our risk management,” sebelum menambahkan bahwa “We had too many central ball losses and that opened up to counter-attacks against a dangerous team.”
Barry juga menjelaskan bahwa setelah tiga puluh menit Inggris memperoleh kendali yang lebih baik, dan ia menargetkan evaluasi yang sama untuk babak kedua: “After 30 minutes, we got more control in the game. [In the second half] we’ll reinforce [going] for verticality and more speed on the last line.”
Sepanjang tiga puluh menit pembuka, mesin Bellingham bekerja keras sebagai penyeimbang, memanfaatkan kondisi fisik yang membuatnya mampu melakukan recovery run jauh meski jam bermainnya lebih sedikit dibanding banyak rekan yang berasal dari kompetisi domestik. Di momen-momen genting, ia membuat slide tackle dengan timing yang tepat untuk mematikan serangan balik cepat.
Setelah kehilangan bola, Bellingham dan banyak penyerang langsung berkumpul di sekitar bola untuk menekan kembali, sehingga counter-press Inggris terlihat efektif dalam pola yang muncul konsisten sepanjang tiga pertandingan awal mereka.
Pada babak kedua, Bellingham justru tampil sebagai penyerang yang lebih menonjol dan berperan langsung dalam pembeda untuk kedua gol Inggris. Kualitasnya membuat pernyataan Barry tentang verticality dan “more speed on the last line” terasa tepat sasaran.
O’Reilly dan Quansah—yang berada di posisi lebih sentral dibanding ketika James dan Djed Spence bergerak melebar dalam laga sebelumnya—menarik perhatian gelandang sayap Panama untuk bergerak ke dalam. Ruang itu kemudian memberi jalan bagi Bukayo Saka dan Marcus Rashford menerima bola dalam situasi satu lawan satu.
Rutinitas yang sering dipakai Inggris adalah Rashford turun untuk menerima umpan dari lini pertahanan, lalu membangun jarak dari wing-back lawan yang terseret keluar dari garis belakang. Dari posisi itu, kesempatan “di lini terakhir” pun terbuka bagi pemain yang memiliki kecepatan untuk menyerang jika Rashford memilih opsi dengan verticality.
Di babak pertama, pola semacam itu juga muncul, tetapi peran lari di balik garis lebih sering dimotori Kane. Meski Kane berkualitas tinggi, arah larinya tidak selalu menguntungkan karena ia tidak secepat karakter yang ideal untuk mengisi ruang tersebut, sehingga pilihan Rashford cenderung lebih banyak mengarah pada umpan silang.
Namun ada momen penting yang menunjukkan Bellingham membaca arah permainan: ia mengacungkan lengan dan memberi isyarat ke ruang yang dituju Kane, mengarahkan rekan setimnya untuk mencari umpan yang tepat. Setelah jeda, posisinya sebagai figur bernomor 10 membuat lari diagonal ke ruang di belakang wing-back yang menekan menjadi semakin efektif.
Koneksi tersebut juga membuat serangan terhadap momentum Panama jauh lebih sulit dipatahkan oleh gelandang mereka, karena lari membelah ruang itu menarik bek tengah lawan keluar dari posisi semula. Bahkan peluang yang memecah kebuntuan berawal dari lari Bellingham sebelum ia mengelabui pemain bertahan dengan gerakan stepovers, dan kemudian membuat umpan yang mengarah pada kualitas penyelesaian Kane.
Untuk gol kedua, Rashford turun lebih dalam sehingga jarak yang harus ditempuh wing-back menjadi lebih panjang, memberi celah tambahan di belakang. Dari awal posisi yang lebih tinggi, Bellingham mampu memanfaatkan ruang itu sesuai kebutuhan sistem Tuchel.
Secara keseluruhan, permainan Inggris di turnamen terlihat bergerak dengan lebih “hidup” meski tidak selalu mudah dilihat secara estetik melawan pertahanan kuat. Sistem ini memberi pijakan untuk mendominasi penguasaan bola sekaligus mengambil risiko secara terukur.
Yang membuat semuanya terasa stabil justru kelengkapan Bellingham. Ketika ia memulai laga sebagai bagian dari starting XI yang sebelumnya diperdebatkan, ia tetap mampu memastikan ketidakpastian dalam adaptasi taktis dapat dikelola—dan itulah alasan pengaruhnya berlanjut dari menit ke menit.












