Politik & Parlemen

Kebijakan Trump Dinilai Berantakan: 3 Faktor yang Diprediksi Jadi Pemicu Kekalahan Besar Partai Republik

×

Kebijakan Trump Dinilai Berantakan: 3 Faktor yang Diprediksi Jadi Pemicu Kekalahan Besar Partai Republik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kebijakan Trump Dinilai Kacau Balau, Ini 3 Pemicu Partai Republik Akan Mengalami Kekalahan Besar

jurnalistik.co.id – Para pengamat strategi Partai Republik Amerika Serikat dilaporkan tengah cemas menghadapi pemilihan umum sela pada November, menyusul tekanan yang terus menumpuk pada pemerintahan Presiden Donald Trump. Kekhawatiran itu mencuat seiring kegagalan Trump memenuhi janji kampanyenya, terutama dalam meredam inflasi dan menjaga negara agar tidak terlibat dalam perang luar negeri.

Laporan Bloomberg pada Sabtu menyebut sebagian ahli strategi memandang Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas dua majelis Kongres. Pandangan itu ditopang oleh sinyal jajak pendapat yang menunjukkan meningkatnya frustrasi pemilih terkait perang terhadap Iran, yang digambarkan sebagai ilegal, sekaligus soal tingginya harga bahan bakar dan inflasi yang dinilai sulit dikendalikan.

Menjelang pemilihan umum sela yang jatuh pada 3 November, Partai Republik diperkirakan akan berhadapan dengan sentimen publik yang cenderung menekan performa pemerintah. Pemungutan suara memperebutkan 435 kursi di DPR dan 35 dari 100 kursi Senat.

Pemicu 1: Kekecewaan pemilih yang bertolak belakang dengan narasi Trump

Salah satu titik yang disorot datang dari Amy Walter, editor Cook Political Report yang bersifat nonpartisan. Ia membandingkan pemilu sela mendatang dengan pemilu 2006, ketika perang Irak yang semakin tidak populer berujung pada kekalahan signifikan Partai Republik.

Walter menilai situasinya berpotensi menimbulkan dampak serupa bagi elektabilitas Partai Republik. Ia menyatakan, “Ini adalah masalah yang merugikan bagi Partai Republik karena hal itu bertolak belakang dengan kekuatan Trump — dia adalah sosok yang digadang-gadang akan menurunkan harga dan menjauhkan kita dari perang tanpa akhir di Timur Tengah,” tambahnya.

Menurut Walter, persepsi yang terbentuk di kalangan pendukung dapat berbalik arah jika janji kampanye tidak terlihat hasilnya. Ia menambahkan, “Bagi banyak orang yang memilihnya, muncul rasa bingung dan kecewa.”

Dalam laporan yang sama, disebutkan pula kepuasan publik terhadap Trump telah merosot hingga titik terendah sepanjang masa kepresidenannya. Kondisi ini menjadi latar yang memperkuat kekhawatiran strategis menjelang pemilu sela.

Pemicu 2: Sikap publik yang tidak sejalan terhadap penanganan agresi terhadap Iran

Pemicu berikutnya berhubungan langsung dengan isu perang Iran yang disebut terus membebani persepsi publik. Survei yang dirujuk berasal dari Ipsos-Reuters, yang menampilkan angka ketidaksetujuan lebih tinggi dibanding persetujuan terhadap cara presiden menangani agresi terhadap Iran.

Dalam survei tersebut, 63 persen warga Amerika tidak menyetujui cara presiden menangani agresi terhadap Iran. Sementara itu, hanya 25 persen yang menyetujuinya.

Selisih angka yang lebar ini kemudian dipakai sebagai indikator meningkatnya kegelisahan di kalangan pemilih. Bloomberg melaporkan bahwa meningkatnya frustrasi itu juga terkait dengan perang terhadap Iran yang disebut sebagai “perang ilegal,” yang pada akhirnya berimbas ke penilaian politik menjelang pemilihan umum sela.

Tekanan yang dirasakan publik tidak berdiri sendiri, karena laporan juga mengaitkannya dengan persoalan biaya hidup. Jajakan pendapat yang disebut meningkat frustrasinya mencakup isu tingginya harga bahan bakar serta inflasi yang dinilai sulit dikendalikan.

Dengan demikian, kekhawatiran strategi Partai Republik menjelang pemilu sela November tampak berangkat dari pertemuan beberapa faktor yang saling memperkuat. Kekecewaan pemilih terkait janji ekonomi dan jangkauan konflik, serta resistensi terhadap penanganan agresi terhadap Iran, disebut menjadi gambaran yang berpotensi menekan posisi partai di berbagai kontestasi.

Di tengah konteks tersebut, pemilihan 3 November menjadi momen penentuan apakah Partai Republik dapat mempertahankan daya tarik politiknya. Namun laporan yang dirujuk justru menekankan risiko kehilangan kendali atas kedua majelis Kongres, seiring sinyal jajak pendapat yang menunjukkan frustrasi makin menguat.