jurnalistik.co.id – Di tengah kebiasaan menatap layar tanpa jeda, sejumlah anak muda mulai menemukan alternatif yang lebih menenangkan: berkebun. Sebuah laporan BBC yang terbit enam jam lalu menggambarkan bagaimana hobi sederhana itu dipilih sebagai pengalih dari “doom-scrolling” dan justru menghadirkan kegembiraan, ketenangan, serta rasa kebersamaan.
Hannah Matthews, 31, menceritakan bahwa ia merasakan perubahan besar setelah kehilangan ayah dan neneknya dalam rentang waktu satu tahun. Ia mengatakan, pikirannya menjadi “really busy”, lalu pada akhirnya ia keluar pada pukul 7 pagi untuk merapikan kebun dengan mencabut gulma.
Setelah masa berkabung itu, Hannah berubah menjadi penggemar berkebun. Ia juga menyebut bahwa banyak anak muda lain membagikan aktivitas mereka di media sosial, dan menyebut komunitas berkebun sedang “booming”. Menurutnya, tren ini menjadi cara “recapturing some space that feels less tense” di berbagai platform.
Ia menambahkan, “It brings me joy, and hopefully when someone else is just kind of doom-scrolling, they get a bit of serenity in their day as well.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa bagi Hannah, berkebun bukan sekadar hiburan, melainkan jeda yang terasa nyata dari arus konten di layar.
Hannah, yang berasal dari Newport, menyatakan dirinya lahir pada 1995 sehingga generasinya memahami pengalaman tumbuh di antara budaya analog dan kehidupan digital. Ia menilai aktivitas seperti memasak, menjahit, dan berkebun merupakan bentuk “rejection of this hyper-digital world that feels really all-consuming”.
Meski tidak memungkiri bahwa setiap generasi memiliki tantangan masing-masing, ia menyebut masa muda kini tetap berat. Ia menyebut faktor seperti cost of living, climate change, “dire” jobs market, dan AI sebagai alasan situasi terasa menekan.
Ia juga mengatakan, “It is challenging being young and maybe having different expectations to those that our parents and grandparents’ generations had, and different opportunities.” Dalam konteks itu, berkebun muncul sebagai ruang yang memberi kendali dalam keseharian yang mudah terasa penuh tuntutan.
Hannah menjelaskan berkebun dapat menjadi “safe space” untuk mengambil alih kendali atas “your little space of land or your balcony or your pots in the kitchen or whatever you’re able to have”. Ia menegaskan, hal tersebut terasa paling dibutuhkan setelah kehilangan ayah dan neneknya pada 2023.
Ia tidak menjadikan berkebun sebagai terapi yang disengaja, tetapi pengalaman itu “just found myself out here, pottering around”. Baginya, ada makna yang kembali berulang pada proses menanam dan merawat: “It’s cliché but kind of creating and nourishing new life and new growth is just really the circle of life.”
Menyusun “jadwal” kegembiraan seperti latihan lomba
Hannah juga membandingkan berkebun dengan persiapan lomba. Ia menjelaskan bahwa untuk lomba maraton, biasanya latihan dilakukan 16 minggu sebelumnya—kurang lebih satu musim lebih awal—dan ia melihat pola yang mirip dalam berkebun.
Ia mengatakan, “You’re planning joy into your life for the next season to be bountiful.” Walau menyadari berkebun perlu akses ruang tertentu, ia menegaskan bahwa memiliki rumah dan bisa memanfaatkan area luar adalah “a real privilege”.
Ketika baru mulai memposting, Hannah sempat menerima komentar yang ia kutip apa adanya: “It must be nice, bank of mum and dad”. Namun ia justru ingin mengubah cara orang memandang berkebun agar lebih terbuka untuk berbagai keterbatasan ruang.
Ia berharap orang lain terinspirasi bahwa kegiatan ini bisa dilakukan “in whatever space you have – pots on the kitchen window sill, things like that – just the act of making something with your hands and planning it and seeing it flourish is amazing.”
Kebun di masa lockdown dan konten yang membuat orang berhenti menatap layar
Berita Terkait
Di tempat lain, Naomi Saunders, 32, memulai berkebun selama lockdown. Ia berasal dari Felinheli, Gwynedd, dan mengatakan ia cepat memiliki lebih dari 300 tanaman rumah.
Naomi mengaku ia sudah lebih awal mendokumentasikan tanaman rumah dan sayur di Instagram, sehingga ia merasa ketika itu “gardening definitely was not a massive thing then”. Kini, ia telah mengumpulkan ribuan pengikut dan bahkan diundang untuk membuat konten di ajang RHS Chelsea Flower Show.
Ia menduga anak muda—terutama—tertarik pada konten berkebun karena mereka kini lebih sadar untuk “put their phones down”. Bagi Naomi, komunitas online itu juga bersifat saling mendukung: “It’s an online community that really supports each other as well.”
Ia menegaskan bahwa berkebun memberi tempat di mana orang benar-benar ingin yang lain “do well”.
Berkebun sebagai penopang saat pandemi
Rachel Griffiths, 37, memandang berkebun sebagai “crutch” pada 2020 ketika dunia sedang sangat kacau akibat pandemi. Ia adalah ibu dari dua anak yang tinggal di Church Village, Rhondda Cynon Taf, dan mengatakan ia menghadapi postnatal depression, anxiety, serta neurodivergence yang belum terdiagnosis dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, ia menyebut berkebun memberinya harapan. Ia berkata ia tidak perlu membuat rencana dengan teman, tidak perlu “try and see people”, dan tidak perlu “get dressed, have a shower, and make a big deal about going out”.
Rachel menuturkan bahwa saat bayi tertidur, ia bisa “pop into the garden for 5 minutes” dan punya “little moment” untuk dirinya sendiri. Ia juga menyebut kebun memberi harapan bagi keluarganya di musim panas yang sangat panas ekstrem.
Ia mengutip pemikirannya: “I’m not going to save the world with my garden but maybe if everybody had a little go, then it would help.” Baginya, perubahan besar berawal dari hal-hal kecil: “There are so many little things you can do at home which do make a difference.”
Klub berkebun yang tumbuh lewat obrolan komunitas
Georgia Featherstone, 26, memulai klub berkebun khusus perempuan setelah pindah ke area baru untuk bekerja. Ia sempat bingung bagaimana membangun pertemanan baru, lalu memutuskan untuk membentuk komunitas sendiri.
Ia mengatakan klub berkebun yang ada saat ini umumnya ditujukan bagi orang dengan pengalaman hortikultura yang lebih banyak, “more experts, and a lot older”. Namun dalam dua bulan terakhir, lebih dari 450 orang bergabung ke grup obrolan WhatsApp “Girlie Gardening Club” untuk mengikuti acara-acara lokal di Surrey.
Georgia menyebutkan, “If you’re a millennial, or you’re the older part of Gen Z, you’re kind of over going out to the pub every weekend.” Ia berharap ke depan bisa merencanakan lebih banyak kegiatan, termasuk pembicaraan dari para horticulturalists dan pelajaran floristry.
Ia juga menyoroti paradoks media sosial: “With social media, everyone feels connected, but also so disconnected at the same time.” Dari sudut pandangnya, platform itu justru dapat dipakai untuk memperkuat praktik berkebun—bertukar pengetahuan, berbagi biji, dan stek—hingga hobi terasa paling “best of the hobby”.
Georgia menyimpulkan bahwa orang mencari komunitas, dan berkebun menghadirkannya: “People are looking for community and gardening brings that.”












