Politik & Parlemen

Michael Marra Ditunjuk sebagai Pemimpin Baru Scottish Labour

×

Michael Marra Ditunjuk sebagai Pemimpin Baru Scottish Labour

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Michael Marra announced as new Scottish Labour leader

jurnalistik.co.id – Michael Marra telah diumumkan sebagai pemimpin baru Scottish Labour. Dalam kontes kepemimpinan yang diikuti anggota partai, ia memperoleh 4266 suara, unggul dari Joe Fagan yang meraih 2485 suara, sementara hampir setengah anggota partai ikut memberikan suara.

Marra mengambil alih posisi setelah Anas Sarwar memutuskan mundur demi mengambil kursi di House of Lords. Pergantian ini menandai babak baru bagi Scottish Labour yang pada pemilu Parlemen Skotlandia bulan Mei lalu mengalami hasil yang dinilai sangat buruk secara historis.

Setelah hasil dibacakan, Marra menyampaikan, “It is the honour of my life to be elected leader of the Scottish Labour Party.” Ia menambahkan, “To be entrusted with the leadership of our Scottish Labour Party is a singular honour and a great responsibility.”

Dalam pidatonya, Marra juga mengatakan ia “I am grateful for your trust and take on the duty of advancing our cause of a fairer, more equal Scotland with all that I can possibly give.” Ia kemudian menujukan terima kasih kepada lawan-lawan yang juga berkompetisi dalam proses tersebut, yakni Joe Fagan dan Monica Lennon.

Marra memuji gagasan yang dia nilai relevan dari para penantangnya. Ia menyinggung bahwa Joe Fagan mendorong politik yang berpijak pada “people and place,” dengan “less control in the centre and more control for local communities,” serta menilai pendekatan itu semestinya juga berlaku dalam negara dan partai.

Ia juga menilai Monica Lennon benar ketika menyatakan kebutuhan untuk “reconnect with the trade union movement that birthed the Labour party.” Menurut Marra, rekam jejak Lennon dalam mendorong perubahan melalui parlemen bisa menjadi “a template for how Labour should behave in opposition – robust in our criticism of the SNP, yes, but also making our own change.”

Ketika Marra mulai memimpin, Scottish Labour harus menjalankan tugas di parlemen dengan kekuatan yang jauh lebih kecil. Partai ini akan memimpin kelompok dengan hanya 17 anggota MSP. Meski demikian, kedudukan mereka di Holyrood berada pada posisi bersama sebagai partai terbesar kedua, menyamai Reform UK, tetapi kesenjangan politik dengan rival utamanya, SNP, tetap terlihat jelas.

Di bawah Sarwar, target untuk menjadi first minister Skotlandia tidak tercapai. Setelah itu, Sarwar beralih dari Holyrood ke House of Lords. Ia menerima gelar kebangsawanan (peerage), meski sebelumnya pernah menyerukan House of Lords dihapuskan, agar dapat menjadi menteri dalam pemerintahan Andy Burnham.

Soal tantangan yang menunggu Marra, jajak pendapat Mark Diffley menilai hambatan terbesar adalah “irrelevance.” Diffley menyatakan, “The party has become a bit of an irrelevance, and I think that is the biggest hurdle that they face going forward.”

Diffley juga menekankan bahwa banyak pemilih tidak mengenal siapa kandidatnya, bahkan tidak menyadari kontes kepemimpinan itu sedang berlangsung. Ia mengatakan, “The vast majority of people don’t really know either of the candidates and, worryingly for them, don’t know that the contest is going on”.

Menurut Diffley, Marra perlu memprioritaskan tiga hal. Pertama, membuat partai kembali menjadi relevan. Kedua, membangun hubungan dengan perdana menteri, yang menurutnya saat ini cukup populer di Skotlandia. Ketiga, memperjelas kebijakan yang dinilai menarik oleh publik.

Seorang figur senior internal partai sejalan dengan sebagian besar penilaian Diffley, tetapi memperingatkan bahwa langkah-langkah itu tidak akan mudah. Ia menuturkan, “it’s not an easy inbox”.

Analisis lain yang muncul dalam kalangan partai menekankan perlunya perubahan cara pandang. Partai disebut perlu belajar dari pendekatan Scottish Greens, khususnya strategi untuk menjadikan kebijakan mereka ikut “terserap” oleh SNP. Narasi yang diulas adalah bagaimana Greens sering membahas keputusan-keputusan pemerintah Skotlandia dan mengaitkan gagasan itu sebagai kontribusi mereka sendiri, yaitu “that was our idea”.

Dalam pandangan insider tersebut, Labour bisa memakai pendekatan serupa. Misalnya, ada kemungkinan dukungan terhadap anggaran SNP dengan imbalan kendali publik yang lebih besar atas layanan bus atau peningkatan upah bagi pekerja perawatan. Dari skema seperti itu, Labour kemudian bisa menunjuk kemenangan yang lebih konkret dalam kontestasi politik berikutnya, sekaligus mengubah pola yang sebelumnya cenderung menolak atau memilih abstain terhadap anggaran dalam parlemen sebelumnya.

Sementara itu, ada juga suara lain yang meminta Labour berhenti dari pendekatan yang terlalu berulang. Figur lain di partai menyebut perlu ditinggalkan sikap konstan dengan framing “SNP bad,” dengan mengatakan, “the electorate rejected that wholesale”. Ia menambahkan bahwa Scottish Labour perlu “far more considerate about where we pick our battles”.

Menurut pandangan tersebut, Labour seharusnya lebih konstruktif dalam menanggapi kebijakan SNP, misalnya terkait rencana pemangkasan jumlah badan layanan kesehatan (health boards). Dalam kerangka itu, kritik tidak selalu berarti menolak secara total, tetapi menilai dan menata posisi secara lebih tepat.

Selain isu strategi, pemimpin baru juga dinilai harus menghadapi perdebatan yang terkait dengan arah pemerintahan dan hubungan politik di tingkat Inggris. Di internal Scottish Labour, ada kekhawatiran mengenai sejumlah aspek dari cara Number 10 menjalankan kebijakan di wilayah utara perbatasan. Beberapa menyebut perdana menteri seharusnya membuat lebih banyak kunjungan ke Skotlandia, sementara yang lain menilai Downing Street “had been ‘a bit all over the shop’ when it came to a second independence referendum”.

Isu konstitusi sendiri dipandang berpotensi menjadi salah satu area tersulit bagi Marra. Andy Burnham sempat membuka pembicaraan di Commons dengan menyiratkan adanya skenario yang memungkinkan referendum kemerdekaan Skotlandia kedua dapat kembali dibahas. Meski juru bicaranya kemudian meralat dengan cepat, figur SNP tetap merasa seperti mendapat peluang karena pintu—meski hanya sedikit—telah terbuka ke arah pemungutan suara kedua.

Dalam kontestasi kepemimpinan, Marra dan Joe Fagan pada beberapa kesempatan terlihat kesulitan merumuskan secara tegas posisi Scottish Labour terkait referendum kedua. Ketidakklaran ini membuat topik konstitusional menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab ketika Marra mulai memimpin.

Di sisi lain, mengelola kelompok MSP juga dianggap memiliki tantangannya sendiri. Walau jumlah MSP Labour tidak besar, ada elemen kebenaran bahwa pekerjaan koordinasi tetap harus berjalan dalam situasi politik yang menuntut konsistensi. Kontes kepemimpinan itu sendiri tidak digambarkan terlalu tidak bersahabat, dan perbedaan ideologis yang besar di antara Joe Fagan dan Michael Marra tidak terlihat.

Meski demikian, prosesnya tetap menyisakan ketegangan. Monica Lennon pernah melabelkan partai “quite nasty” ketika ia gagal masuk pada putaran pemungutan suara kepemimpinan terakhir. Terlepas dari dinamika internal tersebut, fokus kini bergeser pada bagaimana Marra mengubah arah gerak partai dan mengangkat posisi Labour dalam lanskap politik Holyrood.

Dengan hasil pemilihan kepemimpinan yang menetapkan Marra sebagai pemimpin baru, pertanyaannya kini mengarah pada kemampuan partai untuk keluar dari kondisi penurunan, meraih kembali relevansi publik, serta menyusun posisi yang lebih tegas dan meyakinkan terhadap isu-isu besar seperti strategi menghadapi SNP dan arah pembahasan konstitusi Skotlandia.