Politik & Parlemen

Monica Lennon mengecam Scottish Labour “nasty” saat tawaran memimpin gagal

×

Monica Lennon mengecam Scottish Labour “nasty” saat tawaran memimpin gagal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lennon criticises 'nasty' Scottish Labour as leadership bid fails

jurnalistik.co.id – Monica Lennon melontarkan kritik tajam kepada Scottish Labour, menyebut sikap partai “quite nasty” dan mengaitkannya dengan persoalan terhadap komunitas trans. Di tengah kontestasi pemilihan pemimpin yang menggantikan Anas Sarwar, Lennon menyatakan langkah menuju perubahan itu belum mencerminkan sikap welas asih.

Lennon, seorang MSP yang selama ini lantang mendukung hak-hak trans, gagal memenuhi ambang batas nominasi untuk masuk dalam perlombaan memimpin Scottish Labour bersama Michael Marra dan Joe Fagan. Ia menyebut partai memiliki “a problem when it comes to trans people”, sekaligus menilai cara pandang yang berkembang tidak sejalan dengan penghormatan kepada kelompok tersebut.

Dalam penuturannya kepada BBC Scotland News, Lennon mengatakan Scottish Labour seharusnya menunjukkan “compassion and respect” terhadap trans people. Ia juga menegaskan bahwa ia meragukan keterlibatan anggota trans di internal partai, dengan mengatakan: “I don’t know if we have any transgender members left in Scottish Labour. They’re certainly not voting for us.”

Lennon menyoroti bahwa kontestasi ini muncul setelah Michael Marra dan Joe Fagan menyatakan skeptis terhadap sejumlah upaya parlemen Skotlandia untuk mempermudah seseorang mengubah jenis kelamin secara hukum yang diakui. Baginya, perbedaan pandangan mengenai proses tersebut tidak boleh berubah menjadi sikap merendahkan kelompok minoritas.

Melalui pernyataan yang juga disampaikannya dalam konteks kampanye, Lennon menyampaikan kepada dua kandidat di surat suara agar “do better” sekaligus menyatakan: “punching down on trans people and other minorities is not acceptable”. Ia menambahkan kritiknya tidak berhenti pada isu trans, melainkan juga menyoroti penggunaan “anonymous briefings” selama perebutan kursi kepemimpinan.

“If you’re going to put yourself forward to be a man who is safeguarding women’s rights then think about how you treat the LGBTQ community as well in its entirety,” kata Lennon. Ia kemudian menegaskan ketidaksediaannya untuk diam, dengan mengatakan: “I won’t be silenced. I’m not going anywhere. Frankly too many people have been pushed out of the Labour Party already in Scotland. That’s why we only have 11,000 members.”

Menurut Lennon, ia tetap berada dalam orbit gerakan dan tidak berniat mundur meski percaturan partai memanas. Ia menyatakan berharap kedua kandidat dapat menyampaikan “a battle of ideas” dan, dalam peringatannya, menolak bila partai bergerak “to the right”.

Kontestasi pengganti Sarwar dan jadwal pemungutan

Anas Sarwar memulai kontestasi pada bulan lalu setelah mengumumkan niat untuk mundur sebagai pemimpin Scottish Labour sekaligus sebagai MSP. Keputusan itu diambil agar ia dapat bergabung dengan pemerintahan Andy Burnham, dengan latar yang disebut terkait performa buruk Labour pada pemilu Holyrood.

Periode pemungutan suara untuk menentukan pengganti Sarwar berlangsung mulai 28 Agustus hingga 17 September. Pada masa itu, anggota partai dan pendukung yang terkait akan memberikan suara untuk menentukan siapa yang akan menggantikan posisi kepemimpinan.

Adapun hasil kontestasi akan diumumkan pada 19 September. Sejak pengunduran diri Sarwar, Dame Jackie Baillie menjalankan fungsi sebagai pemimpin sementara Scottish Labour.

Dalam konteks perubahan aturan parlemen, Lennon dan keterangan yang beredar juga menyinggung bahwa sejak tahun lalu ada pembaruan yang mencegah politisi duduk sekaligus di Westminster dan Holyrood pada waktu yang sama. Karena Sarwar dipilih melalui daftar regional, tidak akan ada pemilihan sela (by-election) untuk kursi Holyrood-nya.

Untuk Lennon sendiri, ia disebut telah berada di Scottish Parliament selama satu dekade, namun tidak terpilih kembali pada pemilu bulan Mei. Ia disebut menjadi nama berikutnya di daftar Glasgow.

Respons para kandidat dan penekanan arah partai

Joe Fagan menyatakan bahwa kampanye kepemimpinan tidak hanya soal evaluasi “more than understanding what went wrong” bagi partai, melainkan juga tentang keputusan berikutnya. Ia menegaskan: “It is about what Labour does next,” lalu menambahkan: “It is about respecting work, backing our communities and giving working people real power over the future, not asking them simply to live with decisions made elsewhere.”

Fagan juga menyatakan ia tidak mengenali label terhadap partai sebagai “nasty”. Ketika diminta menanggapi kritik Lennon terkait hak trans, ia mengatakan: “We need to go forward with compassion, we don’t punch down on anyone.”

Michael Marra, yang merupakan MSP dari North East Scotland, menyampaikan rasa terharu karena berada di surat suara. Ia menyebut dirinya “humbled” untuk menjadi kandidat dan menantikan kontestasi yang menurutnya akan berlangsung dengan suasana baik, “a good spirited and comradely contest”.

Marra menggambarkan tantangan besar yang menanti pemimpin berikutnya Scottish Labour, termasuk menyatukan partai, menemukan kembali jati diri, dan menjalin ulang hubungan dengan Skotlandia. Ia menyampaikan: “The next leader of Scottish Labour has a huge task: to unite our party, rediscover our soul and reconnect with Scotland.” Ia kemudian menegaskan: “I am the candidate who can do that.”

Dalam menanggapi Lennon, Marra menyampaikan belasungkawa. Ia menggambarkan Lennon sebagai: “one of the most formidable and effective campaigners the Labour movement has”.

Sementara itu, Anas Sarwar disebut menolak memberikan dukungan kepada salah satu kandidat pada acara Edinburgh Fringe beberapa waktu sebelumnya. Ia juga mengingatkan para penantang dan tim mereka agar tidak terjebak konflik internal.