Peristiwa

Aeroflot 593: Pilot Diduga Biarkan Anaknya Mengemudikan, 75 Orang Tewas

×

Aeroflot 593: Pilot Diduga Biarkan Anaknya Mengemudikan, 75 Orang Tewas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pesawat Tabrak Gunung Usai Pilot Biarkan Anaknya Nyetir-75 Orang Tewas

jurnalistik.co.id – Dalam sejarah penerbangan komersial, sejumlah tragedi menunjukkan bahwa keselamatan tak hanya ditentukan teknologi, tetapi juga disiplin di kokpit. Salah satu kasus yang kerap dijadikan pelajaran adalah kecelakaan yang bermula dari keputusan yang sama sekali tak semestinya dilakukan saat pesawat sedang terbang.

Kecelakaan itu terjadi pada 23 Maret 1994 dan melibatkan pesawat Aeroflot 593. Insiden tersebut menewaskan seluruh 75 orang yang berada di dalam pesawat. Lebih dari tiga dekade kemudian, peristiwa ini tetap relevan karena memperlihatkan bagaimana satu tindakan keliru dari pilot dapat mengubah situasi yang semula terkendali menjadi bencana.

Penerbangan Aeroflot 593 saat itu bertolak dari Moskow, Rusia, menuju Hong Kong. Pesawat membawa 63 penumpang dan 12 awak. Di ruang kemudi, kendali dipimpin oleh kapten Kudrinsky, yang sekaligus memiliki dua anak yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Awalnya, penerbangan berjalan lancar. Namun alur berubah ketika Kudrinsky mengizinkan kedua anaknya memasuki kokpit selama penerbangan berlangsung. Kondisi ini sejak awal menciptakan risiko serius, sebab ruang kemudi seharusnya menjadi area kerja yang hanya diakses kru dan pengendalian pesawat tetap berada dalam prosedur yang ditetapkan.

Dalam rangkaian kejadian yang kemudian diuraikan, salah satu anak akhirnya duduk di kursi kemudi dan mulai menggerakkan kendali pesawat. Pada saat itu, pesawat masih berada dalam mode autopilot. Karena pengendali otomatis masih aktif, gerakan pada kemudi tidak langsung membuat arah pesawat berubah.

Kudrinsky pada periode awal tidak menyadari ada masalah yang sedang berlangsung. Ia tampak memahami pergerakan yang terjadi sebagai bagian dari pengaturan yang sebelumnya dilakukan, sementara autopilot yang masih berjalan membuat sistem tampak “normal” di permukaan. Padahal, situasi di balik kendali justru mulai berubah perlahan.

Ketika kendali terus digerakkan tanpa henti, sistem autopilot akhirnya mati. Saat otomatisasi berhenti bekerja, pesawat kemudian berbelok sesuai arah yang dihasilkan oleh gerakan kendali dari anak Kudrinsky. Pada fase ini, kesalahan di kokpit sudah beralih dari sekadar ketidakpatuhan prosedur menjadi gangguan nyata pada arah terbang.

Masalahnya, Kudrinsky juga tidak memahami bahwa autopilot telah berhenti. Ia baru menyadari adanya persoalan ketika kondisi mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan kendali. Pada saat bersamaan, indikator peringatan sebenarnya sudah memberikan sinyal, namun sinyal itu tidak dipahami atau tidak diantisipasi sebagai kondisi darurat.

Ketika situasi memburuk, pesawat mulai kehilangan kendali dan menukik tajam. Kapten kemudian panik dan berupaya mengambil alih kendali pesawat secara penuh. Ia berhasil mengembalikan posisi pesawat, namun upaya tersebut datang pada saat yang sangat terlambat.

Pesawat Airbus A310 itu telah berada sangat dekat dengan pegunungan. Hanya sekitar 16 menit setelah anak masuk ke kokpit, pesawat jatuh dan menabrak kawasan pegunungan Kuznetsk Alatau. Insiden ini menewaskan 75 orang di dalamnya, menjadikannya salah satu contoh paling menyayat dari kelalaian di ruang kemudi.

Dalam tahap awal investigasi, kecelakaan sempat diduga berkaitan dengan cuaca atau kerusakan mesin. Dugaan tersebut wajar muncul karena banyak insiden penerbangan memang berawal dari faktor eksternal maupun teknis. Namun setelah kotak hitam diperiksa, arah penelusuran berubah.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa akar masalah justru mengarah pada kesalahan fatal di dalam kokpit. Pesawat jatuh setelah autopilot mati ketika kendali terus digerakkan oleh anak pilot, sementara Kudrinsky tidak menyadari bahwa pesawat tidak lagi dikendalikan oleh sistem otomatis. Ketidakselarasan antara apa yang dipahami pilot dan apa yang sebenarnya terjadi pada sistem kendali menjadi titik balik menuju tragedi.

Kasus Aeroflot 593 kemudian menjadi pelajaran penting mengenai bagaimana keselamatan penerbangan dapat runtuh bukan hanya karena kegagalan teknis, melainkan juga karena prosedur yang dilanggar dan sinyal peringatan yang tidak ditangkap secara tepat. Dalam penerbangan komersial, kokpit bukan sekadar tempat duduk, melainkan pusat pengambilan keputusan yang menuntut fokus penuh, batas akses yang ketat, serta kepatuhan pada sistem dan indikator.

Pelajaran dari tragedi

Peristiwa ini menegaskan bahwa ketika sebuah pesawat berada dalam kendali otomatis, pemindahan dari autopilot ke kendali manual tetap membutuhkan kesadaran situasional yang konsisten. Begitu otomatisasi padam, pesawat bereaksi sesuai kendali yang diberikan. Jika informasi peringatan diabaikan, usaha koreksi bisa datang saat kondisi sudah berada di ambang tak bisa diselamatkan.