jurnalistik.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan kegelisahan terhadap generasi penerus bangsa.
Ia mempertanyakan apakah generasi tersebut mampu menghadapi persaingan antarbangsa yang semakin keras.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga mempertanyakan sikap generasi penerus yang dinilai mudah mengeluh dan menyerah.
Ia menyoroti kemungkinan bahwa saat berhadapan dengan tantangan, sebagian orang memilih cepat minta bantuan.
Peluncuran buku dan gagasan ketangguhan
Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri acara peluncuran buku bertajuk "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, pada Jumat (7/8/2026).
Acara tersebut dipaparkan sebagai peluncuran buku yang mendokumentasikan pemikiran, pengalaman, serta perjalanan Bahlil Lahadalia.
Prabowo juga menyebut bahwa rangkaian sepuluh buku itu menjadi kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Di hadapan hadirin, Prabowo menghubungkan pembentukan kecerdasan dengan proses yang ditempa oleh kesulitan.
Ia menyampaikan bahwa kecerdasan menurutnya terbentuk karena seseorang menghadapi kesulitan yang kemudian membentuk cara berpikir dan bertindak.
"Jadi kecerdasan itu menurut saya juga karena ditempa, ditempa oleh kesulitan. Jadi kesulitan. Nah ini sekarang yang kita harus prihatin. Apakah generasi-generasi penerus kita sekarang ini nanti kuat menghadapi persaingan antara bangsa yang semakin keras? Atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?" ujar Prabowo.
Dalam rangkaian kalimat tersebut, Prabowo mempertanyakan kesiapan generasi penerus untuk menghadapi persaingan antara bangsa.
Ia juga menyebutkan kemungkinan respons yang muncul, yakni menyerah, mengeluh, serta minta bantuan.
Setelah itu, Prabowo mengungkit didikan di masa lalu dan contoh yang ia alami dalam keluarga.
Berita Terkait
Ia menyatakan bahwa dulu dirinya sampai dipukul menggunakan ikat pinggang.
Prabowo kemudian menyebut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pernah dipukul oleh orang tuanya, dengan rotan.
Prabowo menuturkan bahwa ia memahami pemukulan yang ia terima karena ia menilai dirinya sangat nakal pada saat itu.
"Tadi kalau saya ingat dulu orangtuanya Pak Bahlil ya, apa itu pakai rotan? Rotannya mau diambil oleh Ibu. Saya ingat juga masa muda saya dulu. Mungkin saking nakalnya saya, saya juga orangtua saya pakai ikat pinggang gitu. Dan Ibu saya juga coba menarik juga," jelasnya.
Dalam penuturannya, Prabowo menghubungkan ingatan tentang orang tua Bahlil dengan momen ketika rotan tersebut hendak diambil oleh ibu.
Ia menyandingkan ingatan itu dengan masa mudanya, ketika ia juga disebut pernah dipukul memakai ikat pinggang.
Ia turut menjelaskan bahwa ibunya juga melakukan tindakan menarik saat peristiwa itu terjadi.
"Jadi memang nakalnya bagaimana, kalau Ibu nggak mungkin tidak cinta sama anaknya. Saya kira itu," imbuh Prabowo.
Prabowo menutup penjelasannya dengan pernyataan bahwa cinta ibu kepada anak tidak diragukan.
Dalam sambutan tersebut, pertanyaan Prabowo tentang kuat atau mudah mengeluh menjadi bagian dari pesan yang disampaikan terkait persiapan menghadapi persaingan.
Ia meletakkan kekhawatiran itu dalam konteks bahwa kesulitan ditempa, sebagaimana ia sampaikan melalui cerita masa kecilnya dan penjelasan tentang didikan yang ia terima.
Ia kembali menegaskan bahwa kecerdasan terbentuk ketika seseorang melalui kesulitan.
Prabowo menyampaikan bahwa generasi penerus yang menghadapi persaingan diharapkan tidak memilih jalan menyerah, melainkan tetap bertahan meski harus berhadapan dengan tekanan.
Melalui acara peluncuran buku itu, Prabowo menempatkan pembahasan tentang daya tahan generasi penerus dalam ruang pengalaman yang ia ceritakan.
Seluruh pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam sambutan pada peluncuran buku bertema "10 Karya Nyata untuk Negeri".












