Politik & Parlemen

Bridget Phillipson: Sir Jim Ratcliffe kehilangan legitimasi moral karena memilih pengasingan pajak

×

Bridget Phillipson: Sir Jim Ratcliffe kehilangan legitimasi moral karena memilih pengasingan pajak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sir Jim Ratcliffe loses moral high ground by living in tax exile - Labour Party Chair

jurnalistik.co.id – Bridget Phillipson, Ketua Partai Buruh, menyatakan Sir Jim Ratcliffe kehilangan “the moral high ground” setelah membuat sejumlah pernyataan tentang Inggris dalam kondisi memilih pengasingan pajak. Menurutnya, sikap itu tidak selaras dengan posisi moral yang seharusnya dimiliki seseorang yang memantau arah kebijakan negara dari luar.

Dalam wawancara bersama Laura Kuenssberg untuk program “Sunday with Laura Kuenssberg”, Phillipson mengatakan ia akan menerima komentar Ratcliffe soal kondisi Inggris dengan “a pinch of salt”. Ia juga menyampaikan bahwa komentar Ratcliffe yang menilai Inggris sedang “on the slide” tidak bisa diperlakukan sebagai penilaian netral.

Phillipson menegaskan Ratcliffe—pendiri perusahaan raksasa petrokimia Ineos sekaligus rekan pemilik Manchester United—memilih untuk berada di luar negeri sebagai tempat tinggal pajak. Ia kemudian menilai keputusan tersebut menjadi inti alasan hilangnya “the moral high ground” menurut penilaiannya.

Saat ditanya tentang pandangannya, Ratcliffe mengatakan ia telah kehilangan kepercayaan pada Inggris. Ia mengaitkannya dengan kombinasi “high taxes and high immigration”, serta menyebut keputusan tempat tinggal pajaknya.

Ratcliffe menyatakan ia menjadi penduduk pajak di Monaco sejak tahun 2020. Ia juga mengatakan bahwa “things would have to get better” di Inggris sebelum ia mempertimbangkan untuk kembali.

Phillipson merespons langsung dengan mengatakan Ratcliffe kehilangan posisi moral dengan “making these kinds of pronouncements” sambil memilih untuk mengambil keputusan yang memungkinkan dirinya menjadi “a tax exile”. Ia menambahkan bahwa itu terjadi di tengah kenyataan bahwa Ratcliffe tetap memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri.

Ketika ditekan apakah ia terganggu dengan fakta orang-orang yang menciptakan lapangan kerja dan membayar pajak dalam jumlah besar justru meninggalkan Inggris, Phillipson menyatakan ia tetap “optimistic about our country’s prospects”.

Ia juga mengingatkan bahwa pergerakan sejumlah miliarder keluar dari Inggris bukan hanya terjadi pada kasus Ratcliffe. Di antara contoh yang disorot, Phillipson menyebut Lakshmi Mittal yang pernah meninggalkan Inggris, serta menyebut Chris Rokos sebagai figur paling baru yang dikenal sebagai pembayar pajak terbesar berikutnya.

Phillipson menilai, meski ada pola kepergian sejumlah orang superkaya, Inggris tetap berada dalam posisi yang baik menjelang pidato anggaran atau Budget pada bulan depan. Menurutnya, Andy Burnham menunjukkan “a sense of hope and optimism whilst recognising that many families are still struggling and there is more to do.”

Ia kemudian menambahkan bahwa tantangan tetap ada. Phillipson menyebut adanya “big international headwinds”, tetapi menegaskan keyakinannya bahwa Inggris masuk ke Budget dengan fondasi keputusan yang telah diambil dalam dua tahun terakhir.

Dalam pandangannya, “we fundamentally believe that we are in a strong position going into this budget because of the decisions taken over the last two years”. Ia juga menyampaikan bahwa ia meyakini “our country’s best days lie ahead of us”.

Phillipson menolak berspekulasi mengenai apakah Budget pada 28 Oktober nanti akan membawa kenaikan pajak. Ia mengatakan pemerintah tetap berkomitmen pada aturan belanja yang disiplin.

Di sisi lain, Ratcliffe dalam pernyataannya juga mengkritik pemerintah karena tidak berinvestasi lebih lanjut pada minyak dan gas Laut Utara. Ia menyebut sikap tersebut sebagai “insanity” dan menilai pemerintah tidak memaksimalkan potensi sumber daya alam.

Ia mengatakan, “You would expect [the government] to exploit our natural resources and we’re clearly not doing that. We’re shutting it down.” Ratcliffe juga mengaitkan kebijakan pajak dan potensi kepindahan dengan logika insentif yang ia anggap makin menekan.

Ia menambahkan, “If you tax everybody to death, they’re all going to leave. And that’s what’s happening.” Dengan cara itu, ia menyampaikan pandangannya bahwa meningkatnya beban pajak berujung pada keluarnya warga atau pelaku usaha dari Inggris.

Ratcliffe juga menyebut perusahaan yang ia kelola, Ineos, menjalankan pipa Forties. Pipa tersebut, menurut laporan, mengangkut sekitar 30% minyak Laut Utara milik Inggris.

Dalam respons resmi, seorang juru bicara pemerintah menyatakan minyak dan gas akan memegang peran penting bagi Inggris “for decades to come”. Namun demikian, juru bicara itu menegaskan bahwa “The transition to homegrown clean power is the only way to deliver energy and financial security for families and businesses.”

Phillipson menilai rangkaian pernyataan Ratcliffe menjadi masalah karena muncul dari posisi yang, menurutnya, tidak menunjukkan keterlibatan langsung di dalam negeri. Ia menempatkan fokus pada kontradiksi antara memberi penilaian publik mengenai Inggris dan memilih menjalani kehidupan sebagai penduduk pajak di luar negeri.

Dengan demikian, perdebatan yang mengemuka bukan hanya soal kebijakan pajak dan imigrasi, melainkan juga soal cara pandang yang dinilai “moral”-nya dipertanyakan oleh Phillipson. Di tengah persiapan menjelang Budget 28 Oktober, Phillipson menyatakan pemerintah tetap bergerak dengan disiplin aturan belanja sambil mempertahankan sikap optimistis atas prospek negara.