Politik & Parlemen

Ed Davey: Ambisi Lib Dem tak punya batas, “I am a candidate to be prime minister”

×

Ed Davey: Ambisi Lib Dem tak punya batas, “I am a candidate to be prime minister”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I've got no ceiling on Lib Dem ambitions, says leader Ed Davey

jurnalistik.co.id – Ed Davey, pemimpin Liberal Demokrat (Lib Dem), menegaskan bahwa ambisi partainya tidak memiliki batas. Ia bahkan menyatakan dirinya sebagai kandidat untuk menjadi perdana menteri.

Pernyataan itu muncul saat Davey menolak anggapan bahwa Lib Dem hanya akan menjadi “partner junior” dalam pemerintahan koalisi. Ia menyebut, “I am a candidate to be prime minister.”

Dalam kesempatan yang sama, Davey juga menyatakan dukungan terhadap ladang gas Jackdaw yang tengah menuai kontroversi. Pemerintah diperkirakan akan menyetujui proyek tersebut akhir bulan ini.

Davey berujar bahwa proyek Jackdaw telah “passed the climate test” dan dinilai kompatibel dengan transisi menuju energi terbarukan. Ia mengaitkan posisinya pada kebutuhan energi dalam proses peralihan.

Di internal partai, Davey menghadapi kritik dari sebagian kader bahwa ia dianggap kurang ambisi dan visi untuk menembus peta politik yang makin padat. Ia mengakui adanya “frustration” dari sejumlah anggota parlemen yang merasa dampak Lib Dem belum cukup besar.

Davey menyatakan partainya akan memaparkan kebijakan yang lebih berani dalam pidato konferensi pada hari Selasa. Ia menempatkan rencana itu sebagai respons atas keresahan yang berkembang di ruang politik Lib Dem.

Pada pemilihan umum 2024, Lib Dem mencatat rekor 72 kursi. Partai itu membuat perolehan signifikan dengan mengambil suara dari Konservatif, terutama di wilayah selatan Inggris.

Namun, dalam survei opini nasional setelahnya, Lib Dem disebut mengalami kemerosotan dan kini berada di peringkat keempat atau kelima. Mereka berada di belakang Partai Buruh, Konservatif, Partai Hijau, dan Reform UK.

Meski demikian, Davey menilai partainya sedang berada pada momen “historic opportunity”. Ia mengatakan peluang tersebut jauh melampaui ekspektasi banyak pihak untuk pemilihan umum berikutnya.

Dalam penjelasannya, Davey menyoroti perpecahan kubu kanan. Ia menyatakan, “Because the right wing is split,” serta “and fragmented like it’s never happened before in over 200 years of British parliamentary elections.”

Menurut Davey, bila kesempatan itu dimanfaatkan, Lib Dem dapat menjadi kekuatan besar pada parlemen berikutnya. Ia mengatakan, “If we take that opportunity, and I believe we’re showing how we can, we’ll be a massive force in the next parliament.”

Davey juga dimintai tanggapan mengenai kemungkinan posisi “kingmaker” dalam pemerintahan setelah pemilu. Pertanyaan itu merujuk pada kebutuhan 326 kursi agar sebuah partai bisa membentuk mayoritas.

Menjawab pertanyaan tersebut, ia kembali menegaskan sikap ambisinya. Ia menyampaikan, “I’ve got no ceiling on our ambitions,” dan menambahkan, “I’m a candidate to be prime minister, but what we need to do is make sure that we build on that [election success], area by area, constituency by constituency.”

Ia juga menyatakan dengan tegas bahwa partainya tidak akan bergabung dalam pemerintahan koalisi bersama Reform UK. Davey menolak pula gagasan bahwa ia bisa membuat kesepakatan dengan Konservatif.

Dalam penuturannya kepada BBC, Davey mengaitkan penolakan itu dengan tanggung jawab moral. Ia mengatakan, “We’ve got a moral responsibility to stop Nigel Farage – and indeed stop Kemi Badenoch giving the keys to No 10 to Nigel Farage – I think there could be that sort of coalition on the right and we’ve got to stop that.”

Ketika ditanya apakah ia akan menjalin koalisi dengan Partai Buruh, Davey mengatakan ia tidak berurusan dengan “hypotheticals”. Sikap tersebut menutup ruang spekulasi yang sering muncul menjelang perhitungan politik setelah pemilu.

Davey mengaku ingin Lib Dem mendapat dukungan di seluruh Inggris Raya. Tetapi, BBC menyebut strategi partainya difokuskan pada 27 kursi yang pada pemilu 2024 Lib Dem menduduki peringkat kedua.

Dari 27 kursi itu, 20 di antaranya disebut masih dipegang Konservatif. Angka tersebut menjadi salah satu dasar perhitungan politik Davey dalam upaya memperbesar pengaruh Lib Dem.

Dukungan Jackdaw: transisi energi dan perbandingan LNG

Davey berbicara sebelum ia berangkat untuk mengunjungi turbin angin di lepas pantai Brighton. Ia menyebut bahwa dulu ia telah memberi persetujuan atas Jackdaw ketika menjabat sebagai menteri energi dalam pemerintahan koalisi Konservatif dan Lib Dem satu dekade lalu.

Davey menekankan bahwa dukungan terhadap Jackdaw tidak bertentangan dengan sikap partainya dalam menghadapi perubahan iklim. Ia menjelaskan, “We’re going to need gas for a long, long time as part of our transition,” dan mengatakan ladang tersebut “has passed the climate change test.”

Ia juga menyampaikan bahwa opsi alternatif adalah pengiriman gas alam cair atau LNG dari berbagai belahan dunia. Menurutnya, rute pasokan seperti itu justru akan lebih problematis dibanding memakai gas dari Laut Utara.

Davey menyebut jarak ladang gas Laut Utara sekitar 150 mil di arah timur laut Aberdeen. Ia menilai proses rantai energi dari pengubahan menjadi cair dan pemulihan kembali ke bentuk gas memiliki dampak berbeda pada jejak karbon.

Ia mengatakan, “There’s a lot of energy produced in both putting the gas into liquid and then taking it out into gas.” Karena itu, ia menambahkan, “The carbon footprint of that is far bigger, a lot more damaging for our climate.”

Dalam kerangka itu, Davey berpendapat pendekatan Jackdaw tidak hanya lebih baik bagi iklim, tetapi juga menghasilkan penerimaan pajak. Ia menyampaikan bahwa cara tersebut membuat “tax revenues come to the Exchequer.”

Meski demikian, Davey menyatakan bahwa penilaian terhadap proyek minyak Rosebank belum final. Ia menyatakan, “the jury is very much out,” terutama karena Rosebank mungkin tidak lolos uji yang sama dalam upaya pengurangan emisi karbon.

Lebih jauh, Davey menegaskan komitmen Lib Dem terhadap transisi menjauh dari minyak dan gas. Ia mengaitkan langkah tersebut dengan target iklim sekaligus upaya menurunkan biaya energi yang harus dibayar masyarakat.

Davey juga menghubungkan kenaikan biaya energi dengan situasi geopolitik. Ia menyebut, “Thanks to President Trump’s mad war in Iran, people are paying far higher,” dan menambahkan bahwa harga energi fosil menjadi semakin mahal.

Ia mengatakan, “We are paying far higher for that fossil fuel energy,” dan menggarisbawahi bagaimana selama bertahun-tahun bahan bakar fosil, minyak, dan gas terbukti sangat berbiaya. Ia kemudian merumuskan arah kebijakan, yaitu menekan ketergantungan pada energi fosil.

Ia menyimpulkan bahwa untuk menurunkan tagihan energi dan sekaligus menggerakkan ekonomi, pemerintah perlu bergerak menuju tingkat ketergantungan yang lebih rendah terhadap fosil. Davey berkata, “So, the way to get energy bills down, get the economy growing, is to be less dependent on fossil fuels and we want to be.”