Teknologi

Profesi Keamanan Siber Ini Makin Diburu Perusahaan, Gajinya Tembus Miliaran

0
×

Profesi Keamanan Siber Ini Makin Diburu Perusahaan, Gajinya Tembus Miliaran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Profesi Ini Lagi Banyak Dicari Perusahaan, Gaji Tinggi Tembus Miliaran

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Di saat banyak orang khawatir kecerdasan buatan atau AI akan mengambil alih pekerjaan manusia, ada satu bidang yang justru semakin diburu perusahaan. Bidang itu adalah keamanan siber, yang dalam beberapa bulan terakhir disebut mengalami lonjakan permintaan talenta di tengah perubahan besar yang dibawa AI.

Tekanan terhadap dunia kerja memang terlihat dari berbagai sisi. Gelombang pemutusan hubungan kerja masih berlanjut, perekrutan karyawan baru cenderung lesu, dan banyak perusahaan besar menggelontorkan investasi jumbo untuk adopsi serta pengembangan alat AI. Namun, menurut laporan terbaru New York Times, situasi itu tidak sepenuhnya berlaku untuk profesi yang berkaitan dengan cybersecurity.

Firma talenta eksekutif Heidrick & Struggles mengatakan mereka menerima semakin banyak permintaan dari perusahaan yang mencari orang-orang berpengalaman dalam merespons kebocoran keamanan dan melindungi data. Austin Cowan, headhunter di perusahaan itu, menggambarkan perubahan permintaan yang sangat cepat.

“Peran yang tadinya diminta setiap 12 bulan, kini diminta setiap minggu,” kata Cowan, dikutip dari New York Times, Selasa (26/5/2026).

Permintaan yang melonjak itu membuat pasar talenta keamanan siber semakin ketat. Seiring AI mengubah cara kerja banyak perusahaan, risiko keamanan yang menyertai teknologi tersebut memicu gelombang baru perekrutan ahli keamanan siber. Bahkan, menurut laporan itu, sejumlah perusahaan pencari kerja sampai harus menolak klien karena kandidat yang memenuhi syarat sangat sedikit.

Data dari Glassdoor juga menunjukkan lowongan pekerjaan di bidang keamanan siber pada kuartal pertama 2026 naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu memperlihatkan bahwa kebutuhan perusahaan terhadap talenta keamanan siber terus bertambah, bukan mereda.

Perebutan Talenta di Tengah Ledakan AI

Alasan di balik meningkatnya kebutuhan itu berkaitan langsung dengan penggunaan AI di lingkungan kerja. Banyak pekerja teknologi kini memakai AI untuk menghasilkan kode, tetapi proses tersebut tidak selalu mulus. Dalam sejumlah kasus, kode yang dihasilkan justru memunculkan bug dan kerentanan yang harus segera diatasi.

Masalah itu membuat keamanan siber menjadi bagian yang semakin penting. Perusahaan AI terkemuka bahkan sudah memperingatkan bahwa teknologi terbaru mereka dapat digunakan untuk menemukan dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak. Salah satu contohnya adalah model Mythos dari Anthropic, yang disebut bisa dipakai untuk membantu peretasan infrastruktur perusahaan.

Lea Kissner, kepala petugas keamanan informasi di LinkedIn, menilai kebutuhan terhadap tenaga keamanan justru akan terus tumbuh. Menurut dia, perusahaan akan membutuhkan orang-orang untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “kiamat bug”.

“Kita akan membutuhkan orang untuk mengatasi ‘kiamat bug’,” kata Kissner. Ia menambahkan, “Saya rasa kita tidak akan benar-benar memahami bagaimana cara menerapkan keamanan AI secara berkelanjutan dan jangka panjang setidaknya dalam beberapa tahun ke depan.”

Kissner mengatakan pihaknya mencari engineer dengan keterampilan teknis yang kuat, keterbukaan pikiran untuk menghadapi ambiguitas dan kebingungan yang menyertai revolusi AI, serta pemahaman tentang cara kerja infrastruktur perusahaan yang kompleks. “Bursa kerja untuk pakar-pakar keamanan siber makin dicari,” ujar Kissner.

Gaji Tinggi dan Persaingan Semakin Sengit

Ledakan permintaan itu ikut mendorong kenaikan paket gaji. Para perekrut mengatakan kandidat yang berhasil masuk wawancara untuk pekerjaan keamanan tingkat atas kini memiliki daya tawar yang sangat besar. Meski demikian, besaran kompensasinya masih belum menyamai peneliti AI papan atas, yang bisa memperoleh paket gaji hingga US$250 juta atau sekitar Rp4,4 triliun.

Cowan menyebut paket gaji US$7 juta atau US$8 juta, setara sekitar Rp124 miliar hingga Rp142 miliar, kini makin umum untuk para eksekutif keamanan. “Patokan gaji itu akan membuat seseorang terkejut beberapa tahun yang lalu,” katanya.

“Ada pengakuan bahwa hanya sedikit orang yang memiliki keahlian tersebut, jadi kita harus merekrut mereka,” ujarnya.

Menurut Cowan, demam perekrutan itu juga menjalar ke peran tingkat menengah. Engineer keamanan kini meminta gaji lebih tinggi sekaligus pekerjaan yang lebih menarik, dan itu ikut meningkatkan persaingan antarperusahaan untuk mendapatkan talenta terbaik.

Lea Kissner mengatakan situasi ini membuat tim keamanan makin sibuk. “AI telah membuat kita lebih sibuk,” katanya. “Ini berlaku untuk setiap orang yang saya kenal di bidang keamanan,” tambah dia.