jurnalistik.co.id – Inaco, melalui PT Niramas Utama Tbk (JELI), dinilai masih memiliki daya tarik dari sisi valuasi apabila melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada harga tertinggi penawaran, yakni Rp1.120/saham. Dengan skenario tersebut, analis menilai saham JELI diperdagangkan pada kelipatan tertentu yang kemudian dibandingkan dengan emiten sejenis.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo menyampaikan bahwa proyeksi valuasi JELI didasarkan pada asumsi harga penawaran Rp1.120/saham. Ia juga menuliskan bahwa pendekatan perhitungan menggunakan metrik price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV).
Abdul Azis mengatakan, “Jika diasumsikan listed di harga Rp1.120, maka PER berada di 9,60 kali dan PBV 2,81 kali,” kata Abdul Azis lewat pesan singkat pada Selasa (16/6/2026). Pernyataan tersebut menjadi dasar penilaian bahwa valuasi yang tercermin dari kelipatan PER dan PBV masih dapat dipertimbangkan investor saat rencana IPO senilai Rp392 M dijalankan.
Dalam penilaiannya, Abdul Azis menilai bahwa angka valuasi tersebut berada pada posisi yang relatif lebih rendah dibandingkan PT Cimory Mountain Dairy Tbk (CMRY). Ia menyebut CMRY saat ini diperdagangkan dengan PER 15,58 kali dan PBV 4,71 kali, sehingga perbandingan kelipatan menunjukkan perbedaan tingkat valuasi antar-emiten.
“Namun, jika dibandingkan dengan PT Cimory Mountain Dairy Tbk (CMRY) yang saat ini diperdagangkan dengan PER 15,58 kali dan PBV 4,71 kali,” tulis Abdul Azis dalam paparan yang disampaikan lewat pesan singkat. Dengan membandingkan kedua metrik tersebut, ia menempatkan valuasi JELI pada kisaran yang dinilai tidak setinggi CMRY pada kondisi pasar yang disebutkan.
Meski begitu, Abdul Azis juga menegaskan bahwa perbandingan tidak berhenti pada satu emiten pembanding. Saat valuasi JELI dibandingkan dengan PT Kino Indonesia Tbk (KINO), Abdul Azis menyampaikan bahwa kelipatan JELI justru terlihat lebih tinggi.
Ia menyebut KINO saat ini diperdagangkan dengan PER 6,29 kali dan PBV 0,88 kali. Dengan demikian, pada sisi PER dan PBV, perbedaan kelipatan antara JELI dan KINO menjadi indikator tambahan dalam menyusun penilaian posisi relatif valuasi kedua saham tersebut.
Posisi valuasi JELI di antara emiten sektor sejenis
Melalui perbandingan PER dan PBV, Abdul Azis menyampaikan bahwa hasilnya menempatkan JELI pada kisaran valuasi yang berada di antara emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang telah lebih dulu tercatat di Bursa Efek Indonesia. Penilaian ini pada dasarnya berangkat dari adanya pembandingan terhadap CMRY maupun KINO, sehingga kisaran kelipatan yang muncul dari skenario harga Rp1.120/saham tidak hanya dilihat secara mutlak, tetapi juga secara relatif.
Dalam kerangka tersebut, PER sebesar 9,60 kali dan PBV sebesar 2,81 kali dipakai sebagai rujukan utama untuk melihat bagaimana pasar memandang nilai perusahaan ketika dilihat melalui laba dan nilai buku. Sementara itu, angka PER dan PBV masing-masing emiten pembanding—CMRY di 15,58 kali dan 4,71 kali; serta KINO di 6,29 kali dan 0,88 kali—membentuk spektrum perbandingan yang menjadi landasan kesimpulan posisi relatif.
Abdul Azis menempatkan penilaian tersebut sebagai gambaran bahwa valuasi JELI masih menarik, namun tetap berada dalam konteks perbandingan antar-emiten. Karena kelipatan JELI lebih rendah dibandingkan CMRY, namun lebih tinggi dibandingkan KINO, maka hasil penghitungan membentuk posisi valuasi yang berada di tengah-tengah spektrum perusahaan sejenis yang disebutkan.
Dengan demikian, apabila harga penawaran Rp1.120/saham benar menjadi acuan saat perusahaan masuk ke BEI dalam rangka IPO senilai Rp392 M, maka kelipatan PER 9,60 kali dan PBV 2,81 kali menjadi parameter yang digunakan untuk menilai daya tarik valuasi JELI. Parameter tersebut juga ditopang oleh perbandingan yang sama-sama merujuk pada metrik PER dan PBV dari CMRY dan KINO sebagaimana disampaikan Abdul Azis melalui pesan singkat pada Selasa (16/6/2026).












