jurnalistik.co.id – Investor asing mulai mencatat aksi beli bersih di Bursa Efek Indonesia setelah sebelumnya berulang kali melakukan net sell dalam beberapa bulan terakhir. Namun, sinyal yang muncul belum otomatis berarti tren outflow telah benar-benar berakhir secara permanen.
Pada data per Selasa (21/7/2026), investor asing kembali membukukan net foreign buy senilai Rp 360,21 miliar. Meski arus masuk terjadi, akumulasi net foreign sell sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD) masih mencapai Rp 90,88 triliun.
Dari sisi pasar, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 juga masih terasa. IHSG tercatat turun 26,68 persen hingga periode tersebut, sehingga gambaran besarnya menunjukkan tekanan jual yang belum sepenuhnya hilang.
Arus masuk muncul, tapi perubahan tren perlu pembuktian
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa arus dana asing telah berbalik menjadi inflow secara berkelanjutan. Menurutnya, masuknya dana dalam beberapa waktu terakhir lebih mirip sinyal awal stabilisasi setelah periode outflow yang panjang.
“Masih terlalu dini menyatakan telah terjadi perubahan tren secara permanen. Yang terlihat saat ini lebih merupakan indikasi awal stabilisasi setelah periode outflow yang panjang,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/7/2026).
Nafan menambahkan bahwa keberlanjutan perubahan arah membutuhkan konsistensi aksi beli bersih. Ia menekankan perlunya net buy yang berulang dalam rentang waktu yang cukup panjang agar dapat disebut sebagai pergeseran yang lebih berkelanjutan.
“Diperlukan konsistensi net buy selama beberapa pekan, bahkan beberapa bulan, agar dapat dikatakan telah terjadi perubahan tren yang lebih berkelanjutan,” paparnya.
Dengan pertimbangan tersebut, pergerakan dana asing masih perlu dicermati sebelum dinilai sebagai awal fase inflow yang lebih kuat. Artinya, arus masuk yang sudah terlihat belum cukup menjadi dasar untuk menganggap tekanan jual sejak awal tahun telah mereda sepenuhnya.
Berita Terkait
Faktor pemicu akumulasi saham oleh investor asing
Meski demikian, ada sejumlah faktor yang dapat mendorong investor asing kembali mengakumulasi saham di bursa RI. Salah satu yang disebut berkaitan dengan valuasi saham yang dinilai menjadi lebih menarik setelah koreksi berlangsung beberapa waktu.
Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap cukup solid. Kepercayaan investor global turut ditopang oleh inflasi dan nilai tukar yang relatif stabil pada periode yang berjalan.
Menurut Nafan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif juga menjadi sentimen positif bagi pasar. Pada saat yang sama, dimulainya musim rilis laporan keuangan emiten berperan dalam meningkatkan optimisme bahwa kinerja laba perusahaan dapat membaik.
Ketika berbagai faktor tersebut saling bertemu, investor memiliki alasan untuk kembali menempatkan posisi di saham-saham domestik. Namun, penilaian atas kualitas perubahan tren tetap bertumpu pada data arus dana asing yang berulang dari waktu ke waktu.
Secara keseluruhan, pergerakan terbaru menunjukkan bahwa investor asing sudah mulai masuk melalui net foreign buy sebesar Rp 360,21 miliar pada 21/7/2026. Tetapi, beban tahun berjalan yang masih berupa net foreign sell Rp 90,88 triliun serta koreksi IHSG 2026 sebesar 26,68 persen memberi pesan bahwa transisi masih berada pada fase awal dan perlu konfirmasi lanjutan melalui konsistensi.
Perubahan arah arus dana memang dapat menjadi katalis sentimen, namun pada konteks tahun berjalan indikator lain masih menunjukkan kehati-hatian. Selama akumulasi net foreign sell secara YTD masih sangat besar, pelaku pasar cenderung menunggu bukti tambahan sebelum mengubah asumsi arah investasi.
Karena itu, fokus pengamatan tidak hanya pada satu hari transaksi, melainkan pada pola yang terbentuk setelah periode awal net foreign buy. Bila pembelian bersih berlanjut dengan durasi yang sama seperti yang disampaikan Nafan, barulah sinyal stabilisasi bisa dipandang lebih dari sekadar respons sementara terhadap koreksi.
Dengan IHSG 2026 yang masih mencatat penurunan hingga 26,68 persen, ruang bagi pasar untuk kembali tertekan juga tetap ada. Dalam situasi seperti ini, arus masuk yang muncul perlu dipantau sebagai penyangga, sambil menilai apakah tekanan jual yang sebelumnya dominan mulai melemah secara bertahap dan konsisten.












