Bisnis & Ekonomi

Prospek IHSG Menguat Tipis, Ritel Bisa Mengamati PGEO, INDY, hingga HATM

×

Prospek IHSG Menguat Tipis, Ritel Bisa Mengamati PGEO, INDY, hingga HATM

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Diprediksi Menguat Terbatas, Ritel Bisa Cermati Saham PGEO, INDY, Hingga HATM

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat secara terbatas pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Setelah sesi sebelumnya ditutup melemah 0,17 persen ke level 6.187, pelaku pasar memilih menunggu katalis berikutnya sambil mencermati arah sentimen.

Dalam analisis teknikalnya, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang naik, namun dengan ruang gerak yang tidak terlalu lebar. Ia menyebut pasar berada pada area dengan batas bawah dan atas yang dapat dijadikan acuan pergerakan.

“Untuk Selasa kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.161 dan resistance 6213, dimana investor akan mencermati rilis kinerja emiten, nilai tukar rupiah dan juga FOMC meeting,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com pada Senin malam (27/7/2026).

Menurut Herditya, sentimen yang menjadi perhatian investor mencakup rilis kinerja keuangan semester I-2026 dari emiten, dinamika nilai tukar rupiah, serta hasil Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting yang dipublikasikan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS). Kombinasi faktor tersebut dinilai berpengaruh pada kecenderungan transaksi dan pilihan saham harian.

Di sisi strategi, Herditya merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor ritel pada perdagangan Selasa. Untuk PT Indika Energy Tbk (INDY), ia memasang target harga pada kisaran Rp 2.760–Rp 2.890. Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) diperkirakan berada pada rentang Rp 1.055–Rp 1.110.

Rekomendasi berikutnya adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dengan proyeksi harga pada rentang Rp 2.080–Rp 2.270. Fokus investor, menurut kerangka Herditya, terutama diarahkan pada respons pasar terhadap rilis kinerja emiten dan kondisi makro yang tercermin dari pergerakan kurs.

Pergeseran Sentimen Akibat Langkah Gubernur BI

Meski IHSG diproyeksikan tidak langsung pulih secara agresif, sentimen yang muncul dari kebijakan moneter tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Alrich Paskalis Tambolang dari Phintraco Sekuritas menyatakan keputusan Perry untuk mundur dari jabatan Gubernur BI mendapat respons negatif karena menimbulkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter.

Ia menjelaskan penilaian pasar terutama berkaitan dengan periode jangka pendek yang dinilai lebih penuh ketidakpastian. Alrich juga mengaitkan respons tersebut dengan tekanan pada nilai tukar rupiah yang sedang terjadi serta potensi perubahan ekspektasi suku bunga.

“Pengunduran diri Gubernur BI secara mendadak direspons negatif oleh pasar karena memunculkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ucap Alrich.

Alrich menambahkan, dalam kondisi seperti itu, tekanan terhadap IHSG tidak diperkirakan terus melebar. Menurutnya, penurunan harga minyak mentah dunia menjadi faktor yang membantu menahan laju pelemahan indeks.

Sementara itu, nilai tukar rupiah juga ikut memberi gambaran arah sentimen. Pada pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,26 persen ke level Rp 18.009 per dollar AS. Pergerakan kurs ini relevan karena dapat memengaruhi ekspektasi biaya pendanaan, arus modal, hingga sentimen terhadap sektor-sektor tertentu.

Indikasi Teknis dan Proyeksi Rentang Konsolidasi

Dari kacamata teknikal, Alrich menilai tekanan jual mulai terbatas. Hal itu terlihat dari indikator histogram positif MACD yang kembali menyempit, serta Stochastic RSI yang mengalami pelemahan.

Walau demikian, ia menyebut IHSG masih bertahan di atas level moving average (MA) 20 dan MA50. Posisi di atas dua acuan tersebut membuat indeks berpeluang bertahan dalam fase konsolidasi, alih-alih bergerak turun lebih dalam.

Dengan pertimbangan tersebut, Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidasi dalam kisaran 6.080 hingga 6.250. Pendekatannya lebih menekankan pada proses penyesuaian harga setelah pelemahan sebelumnya, sambil menunggu sinyal lanjutan dari kinerja emiten serta faktor global.

Sejalan dengan itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH Project William Hartanto melihat tekanan pada IHSG mulai mereda. Ia menilai kondisi pelemahan yang terjadi menunjukkan indikasi jenuh jual (oversold) sehingga ruang rebound dalam waktu dekat dapat muncul.

“Pelemahan IHSG mulai terbatas dan semakin memperlihatkan indikasi jenuh jual. Nilai transaksi juga berada di batas bawah dan tidak menunjukkan adanya panic selling,” ungkap William.

William menambahkan bahwa posisi candlestick IHSG masih tertahan di area MA20. Menurutnya, penahanan di area tersebut dapat membuka peluang terjadinya pantulan (rebound) pada perdagangan berikutnya.

“Dengan kondisi tersebut, IHSG berpotensi mencapai jenuh jual dan mengalami rebound pada perdagangan hari ini,” imbuhnya. Ia memproyeksikan pasar bergerak dalam rentang 6.154 hingga 6.243 untuk Selasa.

Dalam daftar saham yang dapat dicermati investor, William menyebut PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) dengan target harga Rp 490–Rp 500 per saham. Ia juga menyertakan PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) pada kisaran Rp 745–Rp 800 per saham.

Secara keseluruhan, paparan Herditya, Alrich, dan William menggambarkan pasar yang masih berhati-hati namun mulai memperlihatkan tanda pelemahan yang tidak semakin dalam. Dengan rentang konsolidasi yang diperkirakan berbeda-beda, investor ritel dapat memanfaatkan pilihan saham berdasarkan level teknikal dan respons terhadap sentimen yang sedang menonjol.