Otomotif

Risiko Pakai BBM RON di Bawah Rekomendasi Pabrikan: Tenaga Turun, Boros

×

Risiko Pakai BBM RON di Bawah Rekomendasi Pabrikan: Tenaga Turun, Boros

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Motor Pakai BBM di Bawah Rekomendasi Pabrikan, Apa Konsekuensinya?

jurnalistik.co.id – Menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dengan angka Research Octane Number (RON) di bawah rekomendasi pabrikan memang bisa terasa “cukup” bagi sebagian pengendara, terutama saat harga menjadi pertimbangan utama. Namun, pada praktiknya, spesifikasi oktan yang tidak sesuai berpotensi membuat mesin bekerja kurang ideal.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), pilihan RON tidak seharusnya diputuskan hanya karena alasan biaya. Ia menegaskan, baik penggunaan oktan yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari anjuran pabrikan tetap bukan keputusan yang semestinya diambil sekadar mengikuti selisih harga.

Pabrikan menentukan standar RON kendaraan melalui rangkaian pengujian. Informasi tersebut umumnya tercantum pada buku manual (owner’s manual), atau dapat disesuaikan dengan rasio kompresi mesin yang digunakan pada model kendaraan tersebut.

Di lapangan, dampak yang muncul dari BBM beroktan lebih rendah cenderung dapat dirasakan dalam jangka pendek. Salah satunya adalah perubahan respons mesin saat kendaraan diajak berakselerasi, yang kemudian membuat performa terasa tidak berada pada kemampuan terbaiknya.

Victor menjelaskan bahwa acuan RON merupakan hasil proses yang panjang: meliputi serangkaian uji serta pengalaman empiris hingga menjadi standar. Karena itu, mengabaikan angka rujukan tersebut hampir pasti membawa konsekuensi terhadap kendaraan, baik dalam waktu dekat maupun menengah hingga panjang.

Secara teknis, kendaraan modern memiliki sistem yang mampu mendeteksi kualitas BBM. Saat sistem membaca bahwa RON tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, waktu pengapian akan disesuaikan. Penyesuaian itu dilakukan sebagai langkah perlindungan agar tidak terjadi potensi kerusakan pada mesin.

Konsekuensinya, respons akselerasi dapat menjadi kurang optimal. Tenaga mesin pun berpotensi menurun, sehingga pengendara merasakan akselerasi dan power tidak seperti yang diharapkan ketika menggunakan BBM sesuai rekomendasi.

Selain itu, dalam kondisi tertentu pengendara juga dapat merasakan getaran yang tidak sewajarnya pada area kemudi. Victor menautkan kemunculan gejala tersebut dengan penyesuaian pengapian oleh sistem cerdas kendaraan saat mendeteksi RON yang tidak sesuai.

Perubahan setelan tersebut tidak berhenti pada aspek tenaga saja. Karena proses pembakaran dan pengaturan kerja mesin turut terpengaruh, konsumsi bahan bakar juga bisa meningkat dibandingkan saat kendaraan memakai RON sesuai spesifikasi pabrikan.

Dengan mempertimbangkan rangkaian dampak tersebut, rekomendasinya sederhana: pemilik sepeda motor sebaiknya mengikuti spesifikasi BBM yang dianjurkan pabrikan. Langkah ini tidak hanya membantu menjaga performa agar tetap optimal, tetapi juga mendukung efisiensi bahan bakar.

Lebih jauh, penggunaan oktan yang tepat dinilai turut berperan dalam meminimalkan risiko gangguan pada komponen mesin dalam jangka panjang. Ketika kendaraan mendapatkan bahan bakar sesuai karakteristik yang dirancang pabrikan, sistem mesin dapat bekerja sesuai tujuan awal perencanaan.

Pada akhirnya, ketika mempertimbangkan pengeluaran harian, penting untuk memandang BBM sebagai bagian dari “kinerja mesin” yang harus dijaga. Mengganti RON hanya berdasarkan asumsi oktan lebih rendah pasti lebih hemat dapat berujung pada tenaga menurun dan konsumsi meningkat—dua hal yang justru menggerus keuntungan di awal.

Karena itu, sebelum memilih BBM, cek kembali pedoman pada owner’s manual atau acuan standar yang relevan dengan kendaraan. Dengan begitu, setiap pengendara bisa menyesuaikan pilihan BBM secara tepat, sekaligus mengurangi risiko yang muncul akibat penggunaan di bawah rekomendasi pabrikan.

Perbedaan RON yang tidak sesuai membuat pengendara “membayar” dengan penurunan kualitas kerja mesin, karena performa bukan hanya soal angka oktan, tetapi juga bagaimana pembakaran berlangsung dan pengaturan kerja disesuaikan oleh sistem kendaraan. Saat setelan koreksi dilakukan, mesin tetap berusaha melindungi komponen, namun hasilnya bisa terasa pada cara kendaraan merespons saat dituntut akselerasi.

Dengan demikian, pertimbangan biaya sebaiknya dibandingkan dengan keseluruhan efek yang mungkin muncul: dari perubahan respons, turunnya tenaga yang dirasakan, kemungkinan getaran yang tidak sewajarnya, hingga peluang konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi. Cara paling aman tetap berpegang pada standar yang ditetapkan pabrikan melalui owner’s manual, sehingga pilihan BBM benar-benar selaras dengan kebutuhan mesin kendaraan.