Otomotif

Pertalite Lebih Murah, Tapi Apa Dampaknya ke Lingkungan?

×

Pertalite Lebih Murah, Tapi Apa Dampaknya ke Lingkungan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Beralih ke Pertalite demi Hemat? Ada Dampaknya bagi Lingkungan

jurnalistik.co.id – Peralihan dari Pertamax ke Pertalite belakangan makin sering terlihat di sejumlah SPBU. Di lokasi yang antreannya menjadi indikator paling nyata, kendaraan justru ramai mengisi Pertalite, sementara antrean Pertamax terlihat lebih sepi.

Fenomena ini diduga muncul karena selisih harga dua jenis BBM tersebut melebar. Saat ini, Pertalite dipatok Rp 10.000 per liter, sedangkan Pertamax mencapai Rp 16.250 per liter.

Selisihnya mencapai Rp 6.250 per liter. Dengan angka itu, biaya pengisian menjadi jauh lebih murah bagi pengguna yang menurunkan kelas bahan bakar, sehingga pilihan Pertalite makin menarik untuk dipakai harian.

Tarif lebih ringan, pilihan makin mudah

Di banyak kasus, keputusan berpindah BBM umumnya berangkat dari hitungan ekonomi harian. Ketika harga Pertalite lebih rendah, konsumen cenderung menyesuaikan pengeluaran tanpa harus mengubah kebiasaan berkendara secara drastis.

Tak mengherankan jika jumlah peminat Pertalite meningkat, yang kemudian terlihat dari antrean di dispenser. Kondisi ini mencerminkan bagaimana perbedaan harga dapat langsung mengubah pola konsumsi BBM dalam waktu yang relatif cepat.

Namun kualitas oktan menimbulkan konsekuensi lingkungan

Di sisi lain, penggunaan BBM dengan angka oktan lebih rendah memiliki konsekuensi yang menjadi perhatian publik. Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai Pertalite (RON 90) menghasilkan emisi gas buang lebih tinggi dibanding bensin dengan kualitas yang lebih baik.

Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin, yang akrab disapa Puput, mengatakan kualitas bahan bakar merupakan faktor penting yang memengaruhi tingkat pencemaran udara dari kendaraan bermotor. Ia menegaskan, “Polusi udara masih tinggi, sebab banyak kendaraan masih mengonsumsi BBM yang memiliki oktan rendah, meski memang harga BBM jenis tersebut paling murah,” kata Ahmad Safrudin alias Puput, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Puput menjelaskan, penggunaan BBM dengan kualitas lebih baik dapat membantu menekan emisi kendaraan. Menurutnya, hal itu terasa terutama pada mesin-mesin modern yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar beroktan lebih tinggi.

Kesenjangan standar bahan bakar dan desain kendaraan

Ahmad Safrudin juga menyebut Indonesia masih termasuk negara yang menyediakan bensin dengan kualitas relatif rendah untuk penggunaan massal. Padahal, sebagian besar kendaraan keluaran terbaru telah dirancang menggunakan bensin minimal RON 91 atau RON 92 agar pembakaran berlangsung lebih sempurna.

Dalam pandangannya, transisi menuju BBM yang lebih ramah lingkungan menjadi agenda penting. KPBB, menurut catatan di pembahasan yang sama, sejak beberapa tahun terakhir mendorong pemerintah melakukan transisi tersebut.

Penekanan KPBB bukan semata pada aspek teknis kendaraan, tetapi juga pada efek jangka panjang terhadap kualitas udara. Ketika kualitas BBM tidak sejalan dengan kebutuhan desain mesin modern, potensi peningkatan emisi dapat terjadi dan memperlebar problem pencemaran.

Harga bukan satu-satunya pertimbangan kebijakan

KPBB juga mengingatkan bahwa kebijakan penyediaan BBM seharusnya tidak hanya mempertimbangkan harga jual. Puput menilai, dampaknya harus dilihat dari sisi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Menurutnya, penyediaan BBM dengan kandungan sulfur rendah dan angka oktan lebih tinggi akan mendukung penerapan standar emisi Euro 4. Standar Euro 4, sebagaimana disampaikan dalam pembahasan ini, saat ini telah diberlakukan pada kendaraan baru.

Dengan demikian, pilihan kebijakan menjadi semacam keseimbangan: di satu sisi pengguna ingin biaya lebih hemat, di sisi lain kualitas bahan bakar menentukan tingkat emisi yang dikeluarkan kendaraan di jalan.

Penegasan standar kualitas dari pihak penyedia

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memastikan kualitas BBM yang ada di SPBU telah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pernyataan ini menempatkan isu kualitas bahan bakar pada kerangka kepatuhan standar, sekaligus memperlihatkan bahwa perdebatan yang muncul lebih banyak menyoroti dampak kualitas tersebut terhadap emisi.

KPBB menilai peningkatan kualitas BBM merupakan langkah penting untuk memperbaiki kualitas udara nasional. Ia juga mengaitkan isu kualitas bahan bakar dengan target pengendalian emisi pada kendaraan yang lebih modern.

Pada akhirnya, dorongan untuk transisi BBM bertujuan menjaga agar penghematan yang terasa di dompet tidak berujung pada penambahan beban lingkungan. Kebijakan penyediaan BBM, sebagaimana digarisbawahi dalam pandangan KPBB, perlu mempertimbangkan harga, kesehatan masyarakat, dan kualitas lingkungan secara bersamaan.