jurnalistik.co.id – Serangan rudal balistik Rusia ke Kyiv pada Sabtu pagi menewaskan sedikitnya sembilan orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka, menurut pejabat setempat Ukraina.
Data dari State Emergency Service menyebutkan, selain korban jiwa, ada 28 orang yang cedera akibat serangan tersebut. Waktu kejadian berada pada fase ketika Moskow meningkatkan serangan rudal balistik ke ibu kota Ukraina.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan Kyiv menjadi sasaran serangan rudal balistik pada Sabtu. Ia juga menyebut laporan kantor berita AFP mengenai lebih dari 10 ledakan di beberapa titik kota.
Akibat serangan itu, kebakaran dilaporkan terjadi di berbagai wilayah. Sejumlah kawasan juga mengalami pemadaman listrik, memperburuk kondisi warga yang berada dekat lokasi insiden.
Klitschko menambahkan, sebuah gedung hunian di Shevchenkivskyi mengalami kerusakan sebagian. Kondisi ini membuat orang-orang terjebak di dalam bangunan tersebut, sebelum penanganan darurat dilakukan.
Dari penjelasan aparat penyelamat, sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangan di distrik Darnytskyi. Pada lokasi yang sama, 14 orang lainnya mengalami luka, termasuk dua anak.
Di distrik Solomyanskyi, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan delapan orang mengalami luka, juga termasuk dua anak. Aparat menyatakan sebuah bangunan apartemen setinggi lima lantai di area itu mengalami kerusakan sebagian.
Berita Terkait
Serangan ini muncul setelah dua hari sebelumnya terjadi insiden rudal jelajah Rusia yang diduga mendarat di Polandia, dalam serangan besar terhadap Ukraina yang menewaskan setidaknya delapan orang, termasuk enam anggota satu keluarga.
Di sisi diplomasi, percaturan keamanan pertahanan udara juga menjadi sorotan. Ukraina menyampaikan kebutuhan mendesak untuk ketersediaan pencegat rudal, termasuk Patriot, karena suplai yang tersisa dinilai menipis.
Perkembangan itu terkait pertemuan Presiden Volodymyr Zelensky dengan Presiden Donald Trump di Washington, DC, awal pekan ini. Zelensky menyampaikan permohonan agar Amerika memberi izin bagi Ukraina untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.
Menurut keterangan Trump saat rapat kabinet di kamp Camp David pada Jumat, Amerika Serikat belum menyetujui rencana Ukraina membangun rudal Patriot, namun pembicaraan disebut masih berlangsung. Trump mengatakan perlunya kehati-hatian: “I don’t think this would ever happen, but, you know, those people that you give that technology, they can someday turn on you,” katanya. Ia juga menyebut langkah itu sebagai “a big step”.
Komentar Trump soal kemungkinan produksi Patriot bagi Ukraina muncul beberapa minggu setelah ia menawarkan memberi hak produksi rudal tersebut. Dalam situasi ketika serangan udara Rusia terus berjalan, Ukraina menghadapi kekurangan pasokan, sementara Patriot tetap dipandang sebagai satu-satunya senjata dalam arsenal yang dinilai mampu menurunkan rudal balistik.
Juru bicara Zelensky menyatakan kelanjutan komunikasi dengan Washington. Zelensky menulis di akun X pada Jumat bahwa ia telah menindaklanjuti pertemuannya dengan Trump melalui panggilan telepon yang “good” dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Dalam tulisannya, Zelensky menegaskan prioritas pertahanan udara: “As Russia’s air attacks on our country continue unabated, air defence – specifically Patriot interceptors against ballistic missiles – remains a top priority”.
Ukraina juga melanjutkan rangkaian serangan balasan dalam beberapa bulan terakhir. Di antaranya, serangan dilaporkan diarahkan ke gudang ritel milik Wildberries, operator e-commerce terbesar Rusia.
Kyiv menyatakan serangannya menargetkan pusat logistik yang digunakan pihak Rusia untuk membeli perlengkapan militer, serta berupaya mengganggu suplai bagi tentara Rusia. Sementara itu, serangan balistik ke Kyiv pada akhir pekan ini kembali menempatkan keselamatan warga sebagai isu mendesak, setelah laporan kerusakan bangunan hunian dan korban luka terus bertambah.












