Internasional

Sorotan surat kabar: krisis perbatasan Spanyol di Ceuta dan “canselor besi” John Healey

×

Sorotan surat kabar: krisis perbatasan Spanyol di Ceuta dan “canselor besi” John Healey

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Newspaper headlines: 'Spanish border crisis' and 'iron chancellor'

jurnalistik.co.id – Edisi Sabtu sejumlah surat kabar menyoroti krisis perbatasan Spanyol di Ceuta setelah sekitar 60.000 migran menyeberang dari Maroko menuju kantong Afrika Utara yang berada di bawah wilayah Spanyol. Sorotan itu juga bercampur dengan pembahasan politik Inggris, termasuk arah kebijakan anggaran dan pernyataan Kanselir John Healey.

Peristiwa di Ceuta menjadi pintu masuk utama, sementara halaman-halaman lain menyoroti konsekuensi politik di dalam negeri Inggris dari isu anggaran hingga skema rilis awal narapidana.

Ceuta dan respons politik Inggris–Spanyol

Daily Express menempatkan “Spanish border crisis” sebagai sorotan, dan mengaitkannya dengan peringatan politik di Inggris. Surat kabar itu mengutip Katie Lam, menteri bayangan Home Office, yang menyebut krisis ini sebagai “wake-up call” dan mengaitkannya dengan peringatan kepada Perdana Menteri Andy Burnham.

Daily Mail juga menekan isu penguatan perbatasan, dengan menyerukan tindakan segera dari pemerintah untuk mencegah migran masuk ke Britania. Dalam pemberitaan, Burnham mengatakan situasi itu adalah “cause for concern”, serta menyatakan pejabat pemerintah sedang berhubungan dengan mitra mereka di Spanyol.

Financial Times menulis bahwa Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam arus migran sebagai “attack” terhadap “territorial integrity” negaranya. Sanchez menyampaikan kecaman itu dari enclave Ceuta, yang disebut sebagai titik nyala hubungan jangka panjang antara Spanyol dan Maroko.

The Independent menyoroti ketakutan dampak penyeberangan itu merembet ke Eropa. Surat kabar tersebut menuliskan bahwa Italia menangguhkan pengaturan bebas perbatasan Schengen dengan Spanyol.

Masih dari kacamata Eropa, Financial Times menyatakan insiden itu turut dimanfaatkan oleh sejumlah pemimpin sayap kanan, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Laporan itu juga menegaskan bahwa 60.000 orang yang menyeberang ke kantong tersebut disebut lima kali lebih tinggi dibanding puncak harian pada 2015, saat ratusan ribu pengungsi masuk ke Eropa melalui Turki.

Tekanan politik di Inggris turut disorot Daily Mail. Surat kabar itu menulis bahwa pemerintah berada di bawah tuntutan Partai Konservatif dan Reform UK untuk memperkuat perbatasan, sementara Nigel Farage dikutip mengatakan: “This is a battle for our civilisation.”

Daily Express kembali mengutip Katie Lam yang menggambarkan krisis itu sebagai “wake-up call”.

“Iron chancellor” John Healey dan perdebatan anggaran

The Times memimpin halaman dengan wawancara bersama Kanselir John Healey. Dalam pemberitaan, Healey disebut sebagai “iron chancellor” dan mengatakan bahwa dirinya bersama PM sudah menyampaikan kepada para menteri agar harus membuat pemotongan anggaran untuk membayar komitmen belanja yang diproyeksikan oleh PM.

Healey menyatakan stabilitas ekonomi sebagai prioritas “fundamental”. Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak dapat menyingkirkan kemungkinan kenaikan pajak dalam anggaran Oktober.

Dalam wawancara yang sama, Healey memberi isyarat tentang pemotongan tunjangan ketika mengatakan bahwa biaya kesejahteraan Inggris yang “inexorably rising welfare bill must be controlled”. Ia juga menyatakan tidak berkomitmen memastikan belanja pertahanan sebesar 3% dari PDB pada 2030, dan mengatakan bahwa “target date” akan ditetapkan pada tinjauan belanja berikutnya di tahun 2027.

Skema penjara, survei politik, dan peringatan gejolak di Partai Buruh

Daily Telegraph melaporkan rencana pelaku perkosaan akan dilarang dari skema rilis awal penjara yang dijalankan Labour di Inggris dan Wales. Surat kabar tersebut menyebut PM memerintahkan peninjauan atas rencana itu pekan lalu, setelah Andy Burnham dan Menteri Kehakiman Alex Norris diberi daftar opsi.

Daftar opsi yang disebut mencakup skenario mengecualikan semua pelaku perkosaan, termasuk “child rapists”, dari skema rilis awal. Daily Telegraph juga menulis bahwa Burnham sedang mempertimbangkan pengecualian bagi para pelaku perkosaan, tetapi belum ada keputusan final, dan opsi itu masih masuk daftar yang ditinjau menjelang pengumuman awal pekan depan.

Dari sisi politik elektoral, survei i Weekend menunjukkan Labour kini berada di depan Reform UK kurang dari dua pekan setelah Andy Burnham menjadi PM. Judul yang dipakai adalah “The Burnham bounce”.

The Guardian melaporkan Burnham mendapat peringatan menghadapi kemungkinan pemberontakan pertama dalam masa pemerintahannya. Peringatan itu disebut muncul setelah anggota parlemen Labour dan pakar iklim mengkritik dukungan Burnham yang dinilai “apparent support” untuk pengeboran baru di Laut Utara.

The Guardian menuliskan bahwa Burnham mengatakan dirinya akan bersikap “pragmatic” terhadap minyak dan gas, serta bahwa keputusan terkait pengeboran baru akan dibuat “in due course”. Banyak anggota parlemen Labour, menurut laporan itu, khawatir kebijakan tersebut tidak sejalan dengan kondisi pemilih yang gelisah menghadapi suhu musim panas yang tinggi, kekeringan, dan kebakaran hutan.

The Guardian juga mengutip Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang memperingatkan pada Jumat bahwa setiap proyek bahan bakar fosil baru membuat “tomorrow’s heatwaves more dangerous”.

Berita lain: FIFA, pemakaman, dan tuntutan keluarga

Daily Star melanjutkan sorotan atas langkah Gianni Infantino menjual saham Piala Dunia. Surat kabar itu melaporkan bahwa penasihat terdekat Infantino mengundurkan diri menyusul perselisihan terkait rencana tersebut.

Daily Mirror pada bagian lain memuat cerita keluarga yang menyerukan penyelidikan publik atas tindakan direktur pemakaman yang gagal mengubur atau mengkremasi jenazah. Laporan tersebut menyebut bahwa Robert Bush memberi abu dari orang lain kepada keluarga yang berduka.

Daily Mirror menuliskan Robert Bush dipenjara 20 tahun karena penipuan terhadap hampir 200 keluarga. Pengadilan menyebut bahwa ia “caused anguish and pain on a scale beyond comprehension”, dan surat kabar itu menempatkan tajuk “Never Again”.