jurnalistik.co.id – Profesor politik Universitas Strathclyde, Sir John Curtice, menilai efek “Burnham bounce” memang nyata, tetapi ukurannya tidak besar. Menurutnya, perbaikan yang tampak dalam jajak pendapat lebih menggambarkan momentum sesaat setelah pergantian perdana menteri.
Sejak Perdana Menteri baru masuk ke Downing Street hampir dua pekan lalu, pesan yang konsisten dari jajak pendapat adalah bahwa Partai Buruh mendapat dorongan dukungan. Kondisi itu juga terlihat dari kemenangan meyakinkan Buruh pada pemilihan walikota di Greater Manchester yang berlangsung pada Kamis.
Dalam survei yang dilakukan selama sepekan terakhir, Buruh rata-rata bertengger di kisaran pertengahan angka 20. Itu merupakan level tertinggi Partai Buruh sejak awal tahun lalu, sekaligus menguat dibanding penilaian 19% pada akhir Juni, saat Sir Keir Starmer mengumumkan mundur dari posisi.
Namun, jaraknya dengan Reform masih terlalu tipis untuk membuat Buruh merasa aman menghadapi pemilihan umum. Dengan Reform yang hanya tertinggal secara sempit, Curtice menilai masih ada ruang panjang sebelum Buruh bisa melawan pemilu nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Bagi Curtice, “Burnham boost” bukan fenomena yang sama sekali baru. Perubahan perdana menteri pada masa-masa pertengahan jabatan umumnya diikuti kenaikan dukungan bagi pemerintahan yang incumbent: dukungan Buruh naik tujuh poin setelah Gordon Brown menggantikan Tony Blair pada 2007, sementara Partai Konservatif mengalami lonjakan enam poin ketika Boris Johnson mengambil alih dari Theresa May pada 2019.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan Liz Truss memberi dorongan dukungan ketika masuk ke Downing Street pada 2022 menjadi pengecualian. Dalam konteks itu, pergantian dari Starmer yang dinilai tidak populer menuju sosok yang relatif lebih diterima menjadi bagian dari penjelasan mengapa angka jajak pendapat bisa bergerak cepat.
Meski demikian, Curtice mengingatkan kedalaman “lubang” elektoral yang diwarisi Burnham sebagai pemimpin Buruh. Angka 19% yang dimiliki Buruh saat Sir Keir mengundurkan diri merupakan peringkat jajak pendapat terendah yang pernah ditinggalkan perdana menteri pada fase pertengahan jabatan, bahkan lebih rendah daripada 23% yang diwariskan Liz Truss setelah mengundurkan diri usai hanya 45 hari di kantor.
Dalam situasi seperti itu, wajar bila pergantian dari sosok yang sangat tidak disukai ke Burnham memberi dorongan jangka pendek. Tetapi menurut Curtice, rata-rata jajak pendapat Buruh sesudah lonjakan tetap menjadi yang terendah di antara perdana menteri baru pada periode pertengahan jabatan, dan masih tertinggal jauh dari hasil yang pernah dicapai saat pemilihan umum 2024.
Buruh tetap menunjukkan tanda kemantapan lewat kemenangan di Greater Manchester. Proporsi suara preferensi pertama Partai Buruh sebesar 47% memang turun dibanding 63% yang berhasil diraih Andy Burnham pada kontestasi walikota sebelumnya, beberapa saat sebelum pemilu umum 2024. Meski begitu, angka 47% itu mendekati dua kali lipat dari 24% yang dicatat Buruh di pemilihan lokal pada bulan Mei untuk kawasan yang sama.
Curtice menilai kemenangan itu juga lebih kuat daripada yang semestinya diperkirakan dari jajak pendapat nasional terbaru. Ia menyebut kontribusi 47% itu bahkan empat poin lebih tinggi dibanding perolehan lokal Buruh dalam pemilu umum 2024, sehingga performanya tidak sekadar “terangkat”, melainkan relatif meyakinkan.
Meski mengungguli Reform dalam jajak pendapat secara sempit, Burnham memilih menutup kemungkinan pemilihan umum lebih awal. Curtice memperkirakan, keluarnya Reform dari posisi teratas di jajak pendapat untuk pertama kali dalam lebih dari setahun lebih terkait masalah internal partai tersebut dibanding kenaikan popularitas Buruh yang baru.
Reform, menurut Curtice, belakangan terseret pertanyaan mengenai legalitas sumber pendanaan tertentu. Ada pula isu apakah Nigel Farage sudah menyatakan pendanaan yang ia terima kepada otoritas di Dewan Rakyat sebelum terpilih menjadi anggota parlemen.
Berita Terkait
Menanggapi tuduhan itu, Farage mengumumkan pada 7 Juli bahwa ia mundur dan kembali menantang pemilih di konstituensi Clacton lewat sebuah pemilihan sela. Pemilu sela tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus, namun langkah tersebut justru tampak “berbalik” karena menekan dukungan Reform dalam survei.
Sesaat sebelum pengumuman Farage, rata-rata jajak pendapat Reform berada di 27%. Pada jajak pendapat yang dilakukan tepat setelah pengumuman, angka itu turun tiga poin menjadi 24%, level yang kini masih bertahan dan menjadi yang terendah dalam 15 bulan.
Dalam ukuran lain, rating personal Farage juga berada di kondisi terburuk sejak ia kembali memimpin Reform selama kampanye pemilu 2024. Di pemilihan sela Manchester, bagian suara preferensi pertama Reform bahkan sembilan poin lebih rendah dibanding perolehan mereka di pemilihan lokal Mei.
Curtice juga menyinggung kompetitor baru yang memecah dukungan Reform. Mengikuti pola yang tampak di pemilihan sela Makerfield, pihak yang keluar dari Reform bernama Restore Britain milik Rupert Lowe meraih hampir 9% suara di Manchester, bahkan melampaui Konservatif.
Dalam analisis Curtice, “Burnham bounce” kemungkinan besar tidak akan cukup untuk membawa Buruh ke posisi terdepan di jajak pendapat nasional jika Reform tidak menghadapi kesulitannya sendiri. Ia menilai lonjakan utama justru berasal dari upaya Buruh meraih kembali pemilih yang sebelumnya beralih ke Partai Hijau dan Liberal Demokrat.
Dua partai tersebut mengalami penurunan dua poin sejak Burnham menang tanpa lawan dalam kontestasi kepemimpinan Buruh. Untuk Partai Hijau, perubahan perdana menteri terbukti lebih menekan karena sebagian tambahan dukungan mereka sebelumnya datang dari pemilih Buruh pada 2024 yang merasa kecewa.
Partai Hijau kini berada di angka 11%, setidaknya empat poin lebih rendah dibanding posisi mereka saat Starmer mengumumkan kepergiannya. Ketika Starmer mengundurkan diri, 14% pemilih Buruh dari pemilu 2024 menyatakan akan mendukung Hijau; angka itu kini turun menjadi 9%.
Salah satu komponen penting “Burnham bounce” adalah kembalinya pemilih lama Buruh. Secara keseluruhan, 67% dari mereka yang memilih Buruh pada 2024 mengatakan mereka akan memilih Buruh lagi, dibanding 57% pada saat Starmer menyatakan akan mundur dari Downing Street.
Setelah masalah Farage mencuat, Buruh juga disebut kehilangan lebih sedikit pemilih pemilu 2024 mereka ke Reform. Tetapi, Curtice menegaskan pola yang sama berlaku untuk Konservatif—kehilangan dukungan Konservatif ke Reform dalam masa pemerintahan ini bahkan lebih besar dibanding yang dialami Buruh.
Bahkan, tanpa mengalami efek “Burnham bounce”, Partai Konservatif arahnya justru naik tipis hingga menyentuh 20% dalam jajak pendapat, untuk pertama kalinya sejak awal musim semi tahun lalu. Dengan demikian, lonjakan Buruh tidak otomatis berarti Partai Konservatif berada dalam tekanan besar yang sama.
Kesimpulannya, kedatangan Burnham memang memberi harapan baru bagi Partai Buruh, tetapi ia masih harus membuktikan kemampuan untuk merebut kembali pemilih kelas pekerja yang pro-Brexit. Kelompok pemilih yang dahulu dianggap sebagai basis inti Buruh kini berada di jantung dukungan Reform.
Untuk membuktikan itu—dan menempatkan Buruh pada jalur menuju kemenangan pada 2029—Burnham perlu menunjukkan bahwa tantangan kebijakan yang dihadapi pemerintah benar-benar dikerjakan. Pada akhirnya, peluang Buruh di pemilihan berikutnya bergantung pada apakah para pemilih percaya bahwa apa yang dijanjikan Burnham benar-benar terjadi.












