Internasional

Krisis pasokan BBM Rusia memburuk: akankah Putin mengubah arah perang di Ukraina?

×

Krisis pasokan BBM Rusia memburuk: akankah Putin mengubah arah perang di Ukraina?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Russian fuel shortages bite – but will Putin change tack in Ukraine war?

jurnalistik.co.id – Suasana krisis BBM di Rusia terasa paling nyata bukan lewat berita, melainkan lewat pemandangan antrean panjang di SPBU—termasuk di Moskow, ibu kota yang oleh banyak orang diasosiasikan dengan jaminan pasokan yang lebih baik.

Dalam liputan sehari di sekitar kota, hampir setiap SPBU yang dilewati memperlihatkan antrean mobil maupun truk. Ada yang bergerak pelan, ada pula yang tampak stagnan. Ketika tidak ada antrean sama sekali, itu justru sering berarti pompa sudah kehabisan stok dan tempat pengisian bahan bakar ditutup.

Warga yang ditemui menggambarkan campuran antara kesal dan keresahan. Yekaterina menyatakan dirinya “not happy” dan menyebut adanya “panic because everybody thinks there will be no oil”. Namun ia juga menilai masalahnya bisa dikelola, seraya menekankan, “we just need to reorganise the oil distribution”.

Elmar justru menggambarkan situasi sebagai “very bad” dan mengeluhkan harga yang naik seiring stok menipis. Ia juga mengaku merasa waktu yang tersita untuk mengisi bahan bakar terpaksa dikorbankan. “You are wasting hours to fill up,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia tengah merencanakan perjalanan ke Dagestan, tetapi belum yakin apakah harus mengemudi karena “there are so many problems with petrol”.

Ketika ditanya siapa yang harus disalahkan, Valery menjawab dengan nada sinis namun hati-hati, “In our country, you can’t say what is to blame and who is to blame,” seraya tersenyum. Ia menyebut kondisi ini “strange” mengingat Rusia adalah negara yang mengambil banyak sumber daya minyak. Menurutnya, penyebabnya bukan hanya serangan dari Ukraina; ia juga menyoroti kurangnya kesiapan dari pihak dalam negeri, “I have no desire to get used to queues,” ucapnya, disertai harapan agar keadaan cepat membaik dan “won’t be continued”.

Di saat yang sama, pertanyaan yang menggantung di benak banyak warga adalah seberapa dekat perang sudah merembes ke kehidupan sehari-hari. Presiden Vladimir Putin, yang telah lama berupaya “insulate most people” dari dampak yang disebutnya sebagai “special military operation” yang kini memasuki tahun kelima, belum sepenuhnya bisa mengimbangi sinyal gangguan di sektor energi.

Di jalan-jalan Moskow, tanda-tanda perang memang tidak terlalu mencolok; yang lebih mudah terlihat adalah poster mengenai “heroic soldiers”. Akan tetapi, otoritas kini semakin sulit mengabaikan peningkatan serangan drone dan rudal Ukraina yang ditujukan pada kilang minyak, sampai ke wilayah yang lebih dalam di Rusia—yang membuat langit Moskow dan St Petersburg “darkening the skies”.

Internet juga dilaporkan mengalami pemadaman atau pembatasan yang mempersulit penyebaran informasi. Gabungan gangguan ini kini berdampak pada pasokan bahan bakar: Rusia, salah satu produsen minyak terbesar di dunia, justru kesulitan menyuling cukup bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Antrian juga menjadi pengalaman baru bagi sebagian warga. Andrei, yang mengantre bersama istrinya, Yekaterina, menyebut masalah ini terkait “geopolitics”. Ia menerima bahwa situasi bisa memburuk, tetapi memilih menimbangnya dengan harapan akan perundingan. “We hope that all sides will start moving towards each other and discuss conditions for a peace deal,” katanya, sebelum menambahkan bahwa sekarang mereka “unfortunately” tidak melihat hal itu dari “our European partners”.

Andrei tetap menunjukkan sikap yang menurutnya pragmatis. “We survived the 90s. We remember times that were much more difficult,” ujarnya. Ia menutup dengan kalimat yang bernada penguatan, “It doesn’t scare us.”

Di media sosial, beragam rekaman antrean SPBU beredar luas: ekor kendaraan bisa memanjang hingga berjarak jauh, sementara sejumlah postingan juga menampilkan pertikaian. Di resor tepi laut Black Sea, Anapa, Cossacks dikerahkan untuk menjaga ketertiban di antrean. Sejumlah wilayah juga menerapkan pembatasan penggunaan jeriken dan melaporkan praktik “rationing”. Bahkan, ada laporan seorang wali kota di Siberia menyiapkan “portable toilets” untuk membantu pengemudi yang menunggu.

Dalam konteks yang lebih luas, gangguan ini tidak berhenti pada layanan pengisian bahan bakar. Ada kekhawatiran petani terkait panen musim panas, sementara sebagian layanan bus dan pengumpulan sampah dilaporkan dikurangi di beberapa daerah. Tekanan ekonomi yang muncul dari krisis energi membuat kecemasan terasa nyata dan menyebar.

Bagi pihak luar, pertanyaannya kemudian bergeser: apakah gonjang-ganjing ekonomi seperti ini dapat berubah menjadi tekanan politik terhadap Kremlin pada saat para pemimpin NATO bertemu di Ankara. Di Kyiv, ada harapan bahwa kemarahan publik yang memuncak dapat mendorong warga Rusia semakin mendesak agar perang segera diakhiri.

Namun, Kremlin tampak menyerap sinyal ini. Putin cukup memperhatikan persoalan pasokan BBM sampai membahasnya secara terbuka di televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa serangan Ukraina “obviously creating problems” tetapi juga menyatakan, “it’s not critical”. Di saat yang sama, otoritas mengambil langkah pengaman: meningkatkan impor bahan bakar, mensubsidi harga, serta mengizinkan penjualan BBM berkelas lebih rendah yang dikhawatirkan sebagian orang dapat berdampak pada mesin.

Krisis juga diketahui membentuk opini publik. Hasil survei Levada Center, organisasi independen, menunjukkan tingkat persetujuan Putin turun hingga sekitar 74%. Survei itu juga menyebut proporsi warga Rusia yang menilai negara berjalan ke arah yang benar turun menjadi 52%, dari 61% pada bulan Mei.

Lembaga survei Gallup melaporkan minggu sebelumnya bahwa warga Rusia lebih pesimistis soal kondisi ekonomi dibanding pada waktu mana pun selama 20 tahun terakhir. Dalam laporan itu, 60% responden mengatakan situasi ekonomi di tempat mereka tinggal memburuk.

Bahkan badan survei milik negara, VCIOM, melaporkan penurunan kepercayaan publik pada Putin sebesar 3,4 poin persentase menjadi 73% hanya dalam rentang satu minggu. Jika dihitung bersama tren lain, ini menambah indikasi bahwa ketidakpuasan tidak sekadar muncul di lapangan, tetapi juga terukur dalam sikap politik.

Sementara itu, Christopher Weafer—kepala konsultan regional Macro Advisory—menyebut krisis BBM dapat menjadi “a game-changer” bagi pertumbuhan ekonomi Rusia. Ia mengatakan, “The costs of the conflict are rising,” seraya menambahkan bahwa dampak penuh krisis BBM belum akan tampak dalam statistik sampai bulan Juli. Meski begitu, ia menilai peluang krisis yang berkepanjangan telah “significantly dimmed” Prospek pertumbuhan untuk sisa tahun tersebut.

Lalu, apakah semua ini akan benar-benar diterjemahkan menjadi tekanan politik yang membuat Putin mengubah arah atau “tack”? Nina Khrushcheva—profesor hubungan internasional di The New School, New York—berpendapat Putin kecil kemungkinan untuk berbelok. “The more pressure he feels, the more likely he would act aggressively and repressively,” ujarnya. Ia juga menyatakan, “I think it is serious, but the Western expectation that Russians are going to just take down the regime is very far-fetched.”

Khrushcheva menambahkan bahwa meski Rusia merasakan kemarahan dan keputusasaan, mereka juga “a lot of resignation about what’s going on”. Menurutnya, harapan Eropa untuk memaksa Putin duduk di meja perundingan adalah “a fantasy”: “I mean, that doesn’t happen.”

Tanda-tanda yang terlihat justru menunjukkan bahwa Putin makin mengunci posisinya. Pada Jumat sebelumnya, ia direkam mengenakan seragam militer, bertemu para komandan, dan mengklaim adanya kemenangan di garis depan serta berjanji akan mengambil wilayah lebih lanjut. “The Russian Armed Forces continue to confidently hold the strategic initiative in the special military operation zone,” ia menyatakan.

Namun, setelah itu Putin juga meminta para jenderal untuk menganalisis keterlibatan sekutu Eropa Ukraina dalam “real combat actions” yang menurutnya memperpanjang perang. “We need this analysis for taking responsible decisions in the future,” ujarnya tanpa memperluas penjelasan lebih jauh. Frasa itu disebut memunculkan tanda tanya di kalangan diplomatik dan militer di berbagai tempat.

Di ibukota Barat, pertanyaan pun kembali ke titik yang sama: apa langkah berikut yang mungkin diambil Putin. Apakah ia akan mengeskalasi? Jika ya, bagaimana bentuknya?