Internasional

Orang-orang yang meninggalkan Barat untuk mencari “mimpi Rusia”

×

Orang-orang yang meninggalkan Barat untuk mencari “mimpi Rusia”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The people leaving the West behind in search of the Russian dream

jurnalistik.co.id – Sejumlah orang dari Barat memutuskan meninggalkan kehidupan lama mereka dan memilih Rusia, dengan harapan menemukan lingkungan sosial yang lebih sesuai dengan keyakinan dan nilai yang mereka anggap “tradisional”. Bagi sebagian dari mereka, proses pindah itu bermula dari kekecewaan terhadap perkembangan di negara asal, lalu berujung pada pengalaman yang tak selalu selaras dengan gambaran awal.

Leo Hare, pria asal Texas yang kemudian mendapat suaka, mulai merancang masa depan keluarganya di Rusia pada akhir 2023. Ia yakin langkah itu akan membuka jalan yang lebih baik bagi anak-anaknya, dan segera terjun ke rutinitas baru yang terasa dekat dengan identitas yang ia pegang.

Menurut Leo, ia mencoba berbagai sisi kehidupan di sana, mulai dari mencicipi dumpling, memerah kambing di sebuah peternakan, hingga membuat video keseharian untuk pengikut daringnya. Ia juga menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen yang taat, yang selama beberapa waktu makin jauh dari hal-hal yang ia lihat berkembang ke arah yang tidak ia setujui di Amerika Serikat.

Ketika memikirkan alasan pindah, Leo menyebut disilusi terhadap perpecahan politik di AS, kekhawatiran pada makanan hasil rekayasa genetika, serta yang ia anggap sebagai meningkatnya pengaruh gerakan LGBTQ. Ia pada awalnya menilai Rusia menawarkan alternatif yang menarik: tatanan masyarakat yang berakar pada iman Kristen serta keluarga, pandangan yang banyak dipromosikan negara Rusia.

Namun, dari waktu ke waktu Leo justru makin menaruh perhatian pada hal-hal yang ia sebut membatasi ruang gerak, termasuk akses terhadap informasi. Cerita ini menggambarkan pola migrasi yang tidak biasa: sementara Rusia menghadapi isolasi internasional, ada kelompok yang berasal dari Kanada, Inggris, Amerika Serikat, dan sebagian Eropa memilih untuk pindah ke sana.

Mereka memandang Rusia tidak seperti yang familiar di banyak wacana Barat. Di sisi lain, Rusia pernah menginvasi Ukraina, menduduki wilayah dalam jumlah besar, memenjarakan lawan politik, menerapkan pembatasan berat terhadap kebebasan sipil, dan menghadapi berbagai sanksi internasional. Kontras inilah yang membuat keputusan pindah menjadi topik rumit dan penuh tarik-ulur.

Visa “Shared Values” dan tarik-menarik harapan

Di antara beragam jalur kepindahan, ada visa yang menjadi magnet bagi calon migran: skema “Shared Values”, yang juga dikenal sebagai visa “anti-woke”. Visa ini diperkenalkan sekitar satu bulan setelah Leo mendapatkan suaka.

Program tersebut diluncurkan oleh Presiden Vladimir Putin pada 2024. Skema ini memberi izin tinggal sementara hingga tiga tahun bagi warga dari 47 negara yang Rusia anggap “unfriendly”. Tidak ada batas jumlah pendaftar, dan calon tidak diwajibkan mengikuti tes bahasa, sejarah, atau hukum versi standar di Rusia.

Sebagai gantinya, mereka harus menyatakan bahwa mereka berbagi nilai spiritual dan moral tradisional Rusia, sekaligus menolak apa yang pemerintah Rusia sebut sebagai “destructive neoliberal ideology” dari negara asal. Setelah tiga tahun, penerima visa Shared Values harus mengubahnya menjadi Permanent Residence Permit (PRP) atau meninggalkan negara.

Untuk PRP, pemohon perlu menjalani ujian bahasa dan sejarah, serta melengkapi dokumentasi yang lebih menyeluruh. Berbeda dari sebagian skema imigrasi lain, visa Shared Values tidak menyediakan tempat tinggal atau bantuan finansial dari pemerintah Rusia. Biaya administratifnya sebesar 1.600 roubles (setara £17 atau $22), dan pemohon harus lolos pemeriksaan medis serta catatan kriminal.

Rusia mengklaim hingga musim semi 2026, sekitar 3.400 orang telah mengajukan permohonan lewat skema ini. Namun, angka tersebut sulit diverifikasi secara independen, dan tidak menjelaskan berapa permohonan yang disetujui. Bagi Kremlin, visa ini menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk memosisikan Rusia sebagai pembela nilai-nilai tradisional, berhadapan dengan apa yang mereka anggap sebagai kemerosotan moral di Barat.

Dalam sebuah dekret pada 2022, Putin memperingatkan pengaruh ideologi Barat mengancam nilai Rusia, termasuk pernikahan dan keluarga tradisional. Ia juga mendorong Rusia membangun citra yang lebih positif di luar negeri. Dua tahun berselang, Shared Values visa menawarkan bentuk yang lebih praktis dari visi tersebut.

Di ranah daring, ekosistem agensi relokasi dan figur influencer ikut mempromosikan Rusia sebagai tempat dengan keluarga yang kuat dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Ilja Belobragin, partner managing di Move To Russia, mengatakan keluhan yang sering ia dengar dari klien adalah: mereka “don’t recognise the community around me anymore”.

Ia menambahkan, sebagian calon migran mengeluh terkait tingginya arus imigrasi di negara mereka atau yang mereka anggap sebagai penurunan standar hidup. Menurutnya, perang Rusia di Ukraina yang mendominasi persepsi internasional sejak 2022 tidak selalu menjadi faktor penentu bagi banyak orang yang memutuskan pindah.

Ada yang secara terbuka mendukung Rusia, sementara yang lain menegaskan keputusan mereka lahir dari nilai budaya, bukan pertimbangan geopolitik. Philip Hutchinson, seorang mantan kandidat Partai Konservatif dari Inggris yang kini berbasis di Moskow dan membantu relokasi warga Barat, mengatakan ia sengaja menghindari perbincangan tentang perang.

Ketika ditanya mengenai pandangannya, ia berkata, “What are my thoughts on it? Look, I don’t really get involved in that,”. Ia melanjutkan, “I’m not here as a politician. I’m here to live a nice quiet life with my family.”

Ketika diminta menilai apakah membantu relokasi orang Barat ke Rusia lewat visa Shared Values merupakan tindakan politik, Philip menolak. Ia menyatakan, “We guide a lot of people towards the Shared Values visa because it’s the easiest way to become a full resident here right now. It’s not political helping people move to Russia.”

Dari upaya membangun hidup baru hingga pelajaran pahit

Setelah Leo pindah, keluarganya menjadi salah satu contoh paling terlihat dari migrasi Barat ke Rusia. Media negara Rusia merekam prosesi pemberian suaka, dan Leo secara publik menyampaikan terima kasih kepada Presiden Putin atas sambutan tersebut.

Di momen itu, Leo merasa ia turut merintis “an unprecedented piece of immigration legislation” yang ia sebut belum pernah ada. Namun, menurutnya, kenyataan lebih sulit daripada yang ia bayangkan sejak awal.

Ia mengatakan, dalam hitungan minggu setelah tiba, keluarganya menjadi korban penipuan senilai 5 juta roubles (sekitar £52.000 atau $66.000) oleh seorang kontak yang sempat mereka percayai. Akibatnya, mereka kehilangan tempat tinggal.

Ketika diwawancarai pada awal tahun ini, Leo menyebut ia tinggal terpisah dari istrinya di kota Ivanovo. Anak-anaknya yang lebih tua kembali ke Amerika Serikat. Ia lalu menjelaskan bahwa dua tahun terakhir adalah “yang terbaik sekaligus terburuk” dalam hidupnya.

Leo mengatakan ia merasakan berbagai sisi Rusia: pernah bekerja di biara Ortodoks, tinggal di apartemen gedung tinggi, lalu pindah ke flat kecil era Soviet. Ia akhirnya menemukan pekerjaan sebagai tutor bahasa Inggris.

Meski banyak pengalaman yang berliku, ia masih menyampaikan apresiasi kepada warga biasa. Ia menggambarkan orang-orang Rusia sebagai murah hati dan ramah, serta menyanjung komunitas gerejanya yang membantu keluarga itu bertahan ketika tabungan mereka lenyap.

Ia juga mengingat satu perempuan yang mengundang putra bungsunya masuk ke rumah dan mengajari bahasa Rusia tanpa biaya. “My heart is just full of love for these people,” katanya.

Meski begitu, kekhawatirannya meningkat pada kondisi ekonomi Rusia dan pembatasan akses informasi. Kini, ia mempertimbangkan kembali peran yang pernah ia mainkan dalam mempromosikan kepindahan orang Barat ke Rusia.

Ia mengaku, “I believed in the propaganda,” dan menjelaskan bahwa sebelumnya ia adalah orang yang “the guy who would’ve written the script”. Meski merasa memiliki “destiny” untuk tetap tinggal, ia mengatakan ia merindukan kebebasan yang menurutnya membentuk karakter orang Amerika.

Ia menegaskan, “[In] Russia you don’t have these human rights values.” Pernyataan itu merangkum jarak yang muncul antara harapan awal dan pengalaman yang ia jalani.

Pengalaman Ben: tidak semua “anti-woke” berangkat dari skema yang sama

Di antara pendatang Barat lainnya, ada pula yang mempertanyakan cara visa Shared Values dipromosikan. Ben—yang meminta agar hanya disebut dengan nama depannya—memutuskan pindah ke Rusia pada 2023 dari Derby, Inggris, setelah jatuh cinta pada seorang perempuan Rusia yang ia temui melalui situs pertukaran bahasa.

Pasangan itu tinggal di Kursk, dekat perbatasan Ukraina. Ben mengatakan keluarganya sempat menganggap keputusan itu “a bit insane”, karena pindah ke wilayah yang dekat dengan zona konflik.

Pandangan Ben terhadap Rusia lebih bernuansa dibanding narasi pendukung yang sering ia temui. Ia memuji keramahan orang-orang Rusia dan merasa lebih aman dalam kehidupan harian. Pada saat yang sama, ia menolak gagasan bahwa Rusia adalah surga konservatif.

Ben menyoroti hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan klaim yang terlalu ideal: keberadaan rumah tangga orang tua tunggal, aborsi yang ia sebut “very widely accepted”, serta tingkat perceraian yang ia nilai “extremely high”.

“Russia isn’t some utopia,” ujar Ben. Ia berpindah menggunakan visa keluarga privat, bukan melalui skema Shared Values. Meski demikian, di kanal YouTube-nya, ia menantang klaim yang ia anggap berlebihan dari sebagian influencer Barat yang menggambarkan Rusia sebagai alternatif sempurna dibanding Barat.

Ia menyatakan, “There are some people with some kind of agenda that they want to push,”. Hampir dua tahun setelah visa Shared Values mulai berjalan, eksperimen Rusia untuk menarik migran ideologis masih tergolong kecil dalam skala.

Program ini gagal mendatangkan gelombang besar imigrasi “anti-woke”. Namun, bagi sebagian orang Barat, skema itu tetap membuat peluang untuk membangun kehidupan baru di Rusia menjadi lebih mudah—baik karena cinta, karena iman, maupun sekadar karena perubahan arah hidup.