jurnalistik.co.id – Analisis terbaru BBC mengingatkan bahwa lebah bumbel berbulu “keeling over” di Inggris saat gelombang panas makin sering dan makin ekstrem. Studi ini menautkan penurunan populasi dengan cuaca panas yang melampaui batas kemampuan terbang dan mencari pakan.
Temuan tersebut disusun bersama data dari Bumblebee Conservation Trust, berdasarkan skema pemantauan nasional yang sudah berjalan lama. BBC melaporkan hasilnya secara eksklusif, sekaligus menyoroti dampak gelombang panas terhadap bumbel yang menjadi bagian penting dari ekosistem musim panas Inggris.
Gelombang panas yang melanda Inggris saat ini juga muncul setelah Inggris keluar dari gelombang panas ketiga dalam beberapa bulan. Pada kondisi suhu yang berada pada rentang yang dapat membuat lebah kesulitan terbang tanpa kepanasan, aktivitas bumbel berisiko menurun.
Bumblebees dikenal luas sebagai pemandangan khas musim panas, tetapi perannya tak kalah krusial: mereka membantu penyerbukan tanaman liar dan beberapa tanaman yang digunakan manusia. Karena itu, gangguan pada bumbel dapat merembet ke ketersediaan bunga dan keberlanjutan habitat yang menopang keanekaragaman hayati.
Adaptasi tubuh bumbel justru menjadi tantangan saat panas ekstrem
Secara evolusioner, spesies bumbel Inggris beradaptasi pada iklim yang historisnya lebih dingin. Tubuh mereka yang berlemak dan berbulu membantu mempertahankan panas, sementara otot-otot terbang yang kuat ikut memanaskan tubuh saat lebah bergerak di udara.
Namun, di bawah gelombang panas, mekanisme yang sebelumnya membantu justru bekerja terbalik. Otot mereka menghasilkan panas ekstra, sedangkan mantel tebal dan bentuk tubuh yang bulat membuat proses pendinginan menjadi lebih sulit.
Dr Richard Comont, science manager di Trust, menyebutkan bahwa ketika suhu udara mencapai sekitar 28C hingga 32C, bumbel Inggris mulai kesulitan terbang tanpa mengalami overheating. Jika lebah tidak bisa terbang, mereka juga kehilangan kemampuan untuk mencari pakan.
Comont menjelaskan prosesnya dengan bahasa yang tegas: “They actually cook themselves from the inside out.” Ia menambahkan bahwa ketika suhu tubuh bagian dalam jauh di atas 40C, lebah mulai mengalami penurunan tajam: “they literally start dying, they start keeling over.”
Dalam jangka pendek, ini berarti lebah bisa gagal menyelesaikan siklus mencari nektar dan serbuk sari. Dalam jangka menengah, dampaknya berpotensi berpengaruh pada perkembangan koloni, kelangsungan hidup, hingga produksi generasi berikutnya.
BeeWalk: penurunan populasi setelah panas rekor 2022
Data BeeWalk menunjukkan bahwa pada 2022, saat Inggris mengalami tiga gelombang panas resmi musim panas dan suhu mencapai 40.3C, jumlah populasi turun secara signifikan. Tiga spesies yang termasuk yang paling umum, yaitu red-tailed, buff-tailed, dan common carder bumblebees, mencatat puncak di bawah level normal.
Penurunannya tercatat sebesar 20%, 25%, dan 35% sebelum kemudian merosot lebih jauh menjelang musim gugur, ketika koloni kesulitan bertahan. Kondisi itu tidak berhenti pada satu musim saja, karena efeknya tampak bertahan melewati periode gelombang panas.
BeeWalk juga melaporkan bahwa jumlah queen berada di bawah rata-rata pada bulan Maret, April, dan Mei 2023. Artinya, gangguan pada musim panas tidak hanya memengaruhi aktivitas harian lebah, tetapi juga mengubah dinamika reproduksi koloni beberapa bulan setelahnya.
Cuaca hangat belum tentu buruk—yang bermasalah adalah panas ekstrem dan kekeringan
Para peneliti menekankan bahwa cuaca hangat dan cerah tidak otomatis menjadi ancaman bagi bumbel. Tahun-tahun dengan cuaca lebih hangat sebelumnya justru bisa menguntungkan beberapa spesies, khususnya yang memiliki sebaran wilayah lebih ke selatan.
Berita Terkait
Masalah utama muncul saat panas ekstrem beriringan dengan kekeringan. Selain risiko tubuh menjadi terlalu panas, bumbel juga menghadapi berkurangnya pasokan makanan. Koloni bergantung pada pekerja untuk membawa nektar dan serbuk sari secara konsisten sepanjang musim.
Ketika tanaman berbunga mulai mengering, jumlah dan kualitas produksi bunga dapat menurun. Kondisi ini memotong “bahan baku” yang diperlukan koloni untuk tumbuh dan berkembang.
Dr Paul Williams, pakar bumbel dari Natural History Museum, menjelaskan bahwa proses mencari pakan adalah perhitungan energi. Pengembalian nektar harus “sebanding” dengan energi yang dikeluarkan untuk terbang dan mencari bunga.
Williams merangkum logikanya dengan kalimat yang dikutip dalam laporan: mereka perlu “make a profit”. Lebah tidak mampu menyia-nyiakan energi untuk mencari bunga kering yang tidak lagi menyediakan nektar dan serbuk sari.
Jika makanan tidak cukup, larva dapat berkembang lebih lambat, koloni tumbuh kurang kuat, dan lebih sedikit queen baru yang mungkin dihasilkan untuk tahun berikutnya. Rangkaian ini menjelaskan mengapa panas ekstrem dapat mengubah struktur populasi bahkan ketika cuaca setelahnya tampak membaik.
Perubahan iklim mendorong Inggris menuju gelombang panas lebih sering dan lebih intens
Kenaikan suhu global akibat perubahan iklim membuat Inggris berada pada jalur gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens. Dalam konteks inilah batas toleransi bumbel makin sering terlampaui, baik melalui suhu yang memicu overheating maupun melalui kekeringan yang mengurangi ketersediaan pakan.
Ketika batas fisiologis dan ketersediaan makanan bertemu dalam periode yang sama, tekanan terhadap koloni meningkat. Kombinasi tersebut menjelaskan mengapa data 2022 menjadi sinyal kuat bagi tahun-tahun berikutnya.
Aksi sederhana: perbanyak habitat kaya bunga, tambah peneduh, dan sediakan sumber air
Konservasionis menyebut cara paling efektif untuk membantu bumbel adalah menciptakan habitat yang lebih kaya bunga. Tujuannya agar lebah tetap bisa menemukan makanan meski iklim menjadi lebih ekstrem.
Dr Sarah Beynon, ahli serangga dengan pengalaman pengelolaan peternakan di Wales barat, menggambarkan pendekatan yang menyeimbangkan kebutuhan satwa liar dan kebutuhan produksi pangan. Ia menanam meadows, willows, hedgerows, tussocky grasses, serta tanaman yang berbunga lebih akhir untuk memberi serangga makanan sepanjang musim.
Beynon menuturkan bahwa ketika mereka mulai mengelola, lokasi tersebut “When we came, this farm was a wildlife desert.” Setelah 10 tahun, ia melihat perubahan besar: “In 10 years, it’s become a nature reserve.”
Pesan yang ia sampaikan adalah bahwa bantuan tidak harus menuntut skala lahan yang luas. Sekadar pot berisi wildflowers asli di teras atau di ambang jendela dapat berfungsi sebagai titik pengisian ulang bagi serangga yang bergerak melintasi lanskap yang didominasi manusia.
Ia memakai perumpamaan yang jelas: “Your flowerpot is a service station.” Baginya, itu adalah tempat singgah, tempat mendapatkan energi, lalu melanjutkan perjalanan.
Dr Richard Comont menambahkan bahwa pembuatan kolam—sekecil apa pun—serta penyediaan naungan juga dapat membantu. Menurutnya, bunga yang tumbuh dekat air cenderung menghasilkan nektar dengan kandungan kelembapan yang lebih tinggi.
Bumbel tidak mengumpulkan air seperti lebah madu. Mereka memperoleh sebagian besar cairan yang dibutuhkan dari nektar, sehingga nektar yang lebih “basah” dapat membantu koloni bertahan lebih kuat saat cuaca panas.
Selain itu, menanam semak yang rapat memberi tempat bagi bumbel untuk menghindari panas matahari langsung. Dengan begitu, lebah dapat berpindah antar-bunga melalui area yang memiliki suhu udara lebih sejuk.












