jurnalistik.co.id – Musim semi yang terasa panas sekaligus kering di Inggris berpotensi mendatangkan kabar baik bagi populasi kupu-kupu. Butterfly Conservation mengatakan kondisi tersebut sudah membuat beberapa spesies terlihat meningkat, sekaligus membuka kemungkinan tahun “panen” bagi serangga bersayap itu.
Organisasi konservasi yang berbasis di East Lulworth, Dorset, menyebut panas dan keringnya musim semi menjadi salah satu faktor yang mendorong kemunculan lebih banyak jenis kupu-kupu. Menurut mereka, tanda-tanda awal itu bisa menjadi indikasi tren yang berlanjut pada musim mendatang.
Untuk menangkap gambaran yang lebih jelas di lapangan, Butterfly Conservation pada Jumat meluncurkan program hitung tahunan mereka, Big Butterfly Count. Kegiatan ini mengajak masyarakat melaporkan kupu-kupu dan ngengat yang mereka lihat sebagai bagian dari upaya pemantauan.
Dr Dan Hoare, direktur nature recovery di Butterfly Conservation, menilai momen seperti ini dapat dimanfaatkan oleh kupu-kupu untuk menyebar ke area baru. Ia menyebut kesempatan tersebut sebagai sarana agar serangga bisa memperluas jangkauan.
“I have seen three or four species in the south of England… wandering away from their normal places,” kata Dr Hoare. Ia juga menilai kondisi yang mendukung itu menjadi peluang agar kupu-kupu mampu “colonise and reach out to new places”.
Dalam Big Butterfly Count 2026, peserta didorong memilih satu titik pengamatan dan menghitung spesies kupu-kupu serta ngengat yang terlihat. Waktu pengamatan yang disarankan adalah 15 menit setiap hari, dengan pencatatan dilakukan melalui situs web atau aplikasi.
Periode pelaksanaan kegiatan tahun ini berlangsung dari 17 Juli hingga 9 Agustus. Dengan rentang waktu tersebut, masyarakat diharapkan dapat ikut memberikan data selama beberapa minggu agar hasil pengamatan lebih kaya dan merepresentasikan kondisi di berbagai lokasi.
Berita Terkait
Kabar yang diumumkan Butterfly Conservation juga dipandang sebagai sinyal bahwa bukan hanya kupu-kupu yang mungkin sedang diuntungkan. Prof Helen Roy dari UK Centre for Ecology and Hydrology, Universitas Exeter, mengatakan adanya perbaikan pada kupu-kupu bisa menjadi indikasi bahwa kelompok serangga lain turut mengalami perkembangan.
Prof Roy mengingatkan bahwa tren penurunan populasi kupu-kupu dalam jangka panjang telah berlangsung sejak era 1970-an. Ia menegaskan penyebabnya terkait kerusakan atau degradasi habitat yang membuat ruang hidup dan sumber pakan kupu-kupu berkurang.
Namun, ia mengaku mulai terdorong oleh sejumlah inisiatif yang dianggap membantu memperbaiki kondisi lingkungan. Salah satu contoh yang ia sebut adalah No Mow May, yang mendorong orang membiarkan area rumput tumbuh lebih liar.
Menurut Prof Roy, pendekatan tersebut dapat meningkatkan ketersediaan tempat bagi kupu-kupu untuk mencari makan dan berkembang biak. Ketika habitat dibuat lebih mendukung, peluang serangga untuk bertahan dan berpindah lokasi bisa menjadi lebih besar.
Ia juga menilai bahwa dukungan untuk kupu-kupu dapat dilakukan dengan langkah yang relatif sederhana di lingkungan sekitar. Prof Roy menyatakan bantuan bisa semudah membiarkan taman menjadi “messy” dan “diverse”.
Gagasan itu ia jabarkan lewat harapan agar upaya kecil dari banyak pihak bisa menyusun perubahan yang lebih luas. “If more and more of us create those havens, we’ll have that kind of patchwork… all the way across the country,” ujarnya.
Dalam penutup penjelasannya, Prof Roy menyampaikan optimisme bahwa partisipasi publik bisa berdampak nyata. “I love to think that we can do that and help insects to thrive,” katanya.
Melalui Big Butterfly Count 2026, Butterfly Conservation ingin menghimpun data pengamatan kupu-kupu dan ngengat dari masyarakat selama periode 17 Juli–9 Agustus. Dengan pencatatan harian yang terstruktur, organisasi tersebut berharap dapat menilai apakah tanda-tanda awal peningkatan spesies benar-benar berujung pada kondisi yang lebih baik bagi populasi serangga pada tahun ini.












