jurnalistik.co.id – Musim panas di Inggris sejauh ini terasa ekstrem: sangat panas sekaligus kering di banyak wilayah, setelah tiga gelombang panas besar melanda secara luas.
Kondisi ini juga ditandai rekor hari tanpa hujan di Inggris tengah. Dalam periode musim panas yang sedang berlangsung, kawasan tersebut mengalami rentang hari kering terpanjang sejak 1995.
Menurut laporan cuaca, wilayah paling kering dalam beberapa pekan terakhir adalah Inggris, Wales, serta bagian timur Skotlandia. Pola ini berlanjut setelah musim semi yang juga sangat kering di area yang relatif mirip.
Untuk pekan berjalan, perkiraan menunjukkan hujan akan sangat terbatas di sebagian besar tempat. Hanya sedikit kemungkinan hujan ringan, terutama di dekat wilayah pesisir.
Saat musim memasuki paruh kedua, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Inggris akan kembali menghadapi kekeringan pada musim panas kedua secara berurutan, mengingat durasi kering kali ini sudah terakumulasi cukup panjang.
Secara umum, total curah hujan musim panas sejauh ini masih berada di bawah rata-rata untuk seluruh Inggris Raya. Namun, perbedaan antardaerah sangat nyata, sehingga dampaknya tidak merata.
Hingga pertengahan musim, tepatnya 15 Juli, sejumlah wilayah di timur dan timur laut Inggris hanya menerima 26% dari total curah hujan musim panas yang semestinya. Sementara itu, wilayah utara dan barat Skotlandia justru mencatat curah hujan di atas rata-rata untuk separuh pertama musim.
Di Inggris tengah, periode kering yang berlangsung disebut sebagai yang terpanjang sejak 1995. Wisley di Surrey juga mencatat 33 hari berturut-turut tanpa hari kering, memperkuat gambaran bahwa kekeringan meteorologis sedang menekan aktivitas harian.
Pengamatan lain membandingkan kondisi saat ini dengan musim panas tahun lalu. Saat itu, kekeringan diumumkan meliputi banyak bagian Inggris, Wales, dan timur Skotlandia, dan status tersebut baru berakhir empat bulan lalu.
Tahun ini, proses munculnya kekeringan tidak berlangsung secepat tahun lalu. Hal itu dikaitkan dengan curah hujan deras pada musim gugur dan musim dingin yang sangat basah, yang berfungsi mengisi kembali akuifer, sungai, serta waduk.
Meski demikian, lembaga terkait menegaskan bahwa pola “flash drought” atau kekeringan yang muncul cepat akibat transisi mendadak dari basah ke kering kemungkinan akan lebih sering terjadi. UK Centre for Ecology and Hydrology menyebut kondisi seperti itu “likely to happen more often, and be more intense”.
Untuk beberapa hari ke depan, dominasi tekanan tinggi diperkirakan masih bertahan. Akibatnya, tidak ada hujan yang signifikan selama setidaknya lima hari ke depan.
Di sisi lain, peluang hujan muncul terutama dalam bentuk hujan ringan di pertengahan pekan. Kemungkinan tersebut diperkirakan terjadi khususnya dekat pesisir di Inggris tenggara dan East Anglia, serta di bagian utara Skotlandia.
Berita Terkait
Menjelang akhir pekan, sistem cuaca pembawa hujan mencoba bergerak dari barat laut. Namun, besar kemungkinan hujan lebih banyak jatuh pada wilayah Irlandia Utara dan sebagian Skotlandia.
Ketika front bergerak lebih jauh ke selatan, hujan berpotensi melemah, sehingga wilayah yang paling membutuhkan air—terutama selatan dan timur—berpeluang mengalami sedikit atau bahkan tidak ada curah hujan berarti.
Beralih ke sisa musim, kepastian tentu belum bisa ditarik jauh. Meski begitu, ada sinyal bahwa kondisi bisa tetap cenderung kering dan hangat, khususnya di selatan, meski badai petir musim panas tetap mungkin terjadi.
Dampak terhadap pengelolaan air dan sektor pertanian mulai terlihat dari kebijakan serta penyesuaian di lapangan. Kombinasi cuaca kering yang berkepanjangan dan peningkatan kebutuhan air membuat pembatasan pemakaian selang (hosepipe bans) diberlakukan bagi jutaan pelanggan di Inggris.
Selain itu, data aliran sungai juga menunjukkan penurunan dalam beberapa minggu terakhir. Environment Agency melaporkan bahwa 87% dari wilayah tangkapan air (catchments) berada pada kondisi “below normal to exceptionally low levels”.
Di Wales, situasinya lebih ketat lagi. Curah hujan pada bulan Juli di wilayah itu hanya mencapai 5%, sehingga otoritas sumber daya alam bergerak lebih cepat melalui tahap rencana kekeringannya.
Natural Resources Wales menyatakan bahwa wilayah-wilayah yang paling parah terdampak di bagian utara serta timur tenggara telah dimasukkan ke status “prolonged dry weather status”, yang disebut sebagai langkah pertama dalam rencana kekeringan.
Di sektor pertanian, upaya adaptasi dilakukan sambil menyesuaikan jadwal kerja dan kebutuhan air tanaman. Paul Tompkins, deputy president dari National Farmers’ Union, menyebut para petani dan pengembang lahan “working around the clock to harvest crops which have come early, keep fruit and vegetables watered, and care for their livestock”.
Ia juga menambahkan, “Parts of the country, particularly in the east and south, have seen exceptionally low rainfall this spring and summer,” yang menurutnya dapat berarti “another difficult and expensive harvest after extreme weather impacts in both 2024 and 2025”.
Di luar respons jangka pendek, tantangan ke depan dipandang lebih kompleks seiring terus berlangsungnya perubahan iklim. Met Office memperkirakan musim-musim panas akan menjadi lebih panas dan lebih kering di masa mendatang.
Proyeksi yang disebutkan bahkan menyatakan bahwa pada tahun 2070, musim panas bisa menjadi hingga 60% lebih kering dan 1 hingga 6 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan kondisi pada 1990.
Dengan latar tersebut, pekerjaan penting tidak berhenti pada upaya meredakan dampak saat ini. Tantangannya adalah memperkuat ketahanan (resilience) bagi pemerintah, petani, layanan kesehatan, dan masyarakat luas dalam menghadapi volatilitas iklim.
Adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang akan datang menjadi kunci, terutama ketika pemanasan global terus berlanjut dan pola cuaca menjadi semakin sulit diprediksi.












