Olahraga

Saat Laga Inggris Pukul 01:00 BST: Apakah Bos Lain Juga Akan Se-fleksibel ‘Start work at 11’?

×

Saat Laga Inggris Pukul 01:00 BST: Apakah Bos Lain Juga Akan Se-fleksibel ‘Start work at 11’?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'Start work at 11' - but will other bosses be as flexible over England's 1am match?

jurnalistik.co.id – Seiring demam Piala Dunia menjelang laga Inggris pada Senin dini hari, sejumlah perusahaan di Inggris mulai menata ulang jam kerja agar karyawan yang ingin menonton pertandingan dapat beristirahat dengan lebih layak. Duel yang dimulai pukul 01:00 BST melawan Meksiko ini memunculkan pertanyaan yang sama: sejauh apa fleksibilitas bisa diberikan ketika banyak orang ingin begadang?

Pemerintah menyampaikan dorongan agar atasan menggunakan “common sense” dalam merespons permintaan kerja fleksibel, sepanjang permintaan itu masih bisa diakomodasi. Dalam praktiknya, cara perusahaan menanganinya beragam—ada yang memberi pergeseran jam masuk, ada pula yang mengatur penukaran jam atau opsi kerja dari rumah.

Beberapa sektor menilai fleksibilitas lebih mudah diterapkan daripada sektor lain. Industri seperti manufaktur dan ritel dinilai memiliki batas yang lebih ketat karena jadwal produksi dan layanan langsung ke pelanggan.

Pesan pemerintah dan respons dunia kerja

Pada Kamis, pemerintah menyatakan pub boleh tetap buka sampai pukul 05:00 pada Senin, bertepatan dengan laga Inggris melawan Meksiko. Bersamaan dengan itu, pengusaha juga diminta memakai “common sense and understanding” ketika karyawan mengajukan permintaan kerja fleksibel.

TUC, organisasi payung serikat pekerja, menyarankan agar manajer yang memungkinkan dapat memberi opsi bekerja dari rumah, memulai lebih lambat, lalu mengganti jamnya di kemudian hari, atau menukar jam kerja. Dengan begitu, karyawan bisa menyesuaikan kebutuhan menonton tanpa membuat proses kerja benar-benar berhenti.

Sementara itu, John Palmer—penasihat senior di layanan konsiliasi Acas—menekankan perusahaan perlu memperlakukan permintaan waktu dengan adil. Ia mengingatkan bahwa tempat kerja tetap dihuni oleh pendukung yang ingin menonton, tetapi juga ada karyawan yang mungkin tidak tertarik sepak bola.

Palmer juga mengingatkan adanya keterbatasan praktis: karyawan perlu menyadari bahwa memesan cuti mendadak bisa jadi tidak selalu memungkinkan. Ia menambahkan, ada staf yang tidak berniat menonton sehingga mungkin bersedia menukar shift atau jam kerja.

Adapun British Chambers of Commerce (BCC) menyebut sejumlah jenis pekerjaan akan lebih sulit menerapkan fleksibilitas. Menurut Kate Shoesmith, perusahaan-perusahaan akan menghadapi tantangan pada pekerjaan seperti lini produksi, ritel di garis depan, dan perhotelan.

Kate Shoesmith menyatakan, “Ultimately, there will be some jobs, such as shift work, where it won’t be possible but we’re confident most employers will be thinking about how they can keep everyone onside.” Ia juga menekankan bahwa komunikasi dengan staf dan pelanggan dapat mengurangi gangguan serta menekan dampak ke produktivitas.

Di sisi lain, ada perusahaan yang memilih mempertahankan ritme operasional biasa. Supermarket Sainsbury’s dan Aldi menyatakan akan tetap beroperasi seperti biasanya pada Senin, begitu pula pabrikan mobil Nissan yang tidak mengubah skema untuk hari pertandingan.

Contoh perusahaan: mulai lebih lambat setelah laga 01:00

Di London, Joshua Elash yang memimpin MT Finance Group memberi izin agar staf bisa memulai bekerja pukul 11:00. Ia menyebut kebijakan ini bukan hasil debat panjang, melainkan keputusan yang menurutnya paling sederhana untuk diterapkan.

Elash mengatakan, “It wasn’t a dilemma at all. This was as close to a no-brainer as a business can get,” dan menambahkan bahwa seluruh karyawan bekerja di kantor. Ia menegaskan, “Everybody at this company works in the office. We don’t actually have a work from home policy here,” serta menyebut alasan utamanya agar komunikasi dan kolaborasi real time tetap terjaga.

Menurut Elash, dalam keadaan normal seluruh 125 karyawan akan hadir di kantor sekitar pukul 08:45 atau 09:00 pada Senin. Namun untuk pekan ini, skema itu “certainly won’t be the case” karena manajemen—termasuk dirinya—akan begadang untuk menonton laga.

Ia juga menuturkan para manajer senior akan tetap terjaga melihat pertandingan, dan jika ada yang ingin “a lie-in”, maka hal itu dianggap adil bila diperluas kepada seluruh tim. “It’s good for morale,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa keputusan ini tetap bernilai meski Senin tidak selalu menjadi hari yang paling produktif. Ia menutup penjelasannya dengan, “Some things are more important than, you know, a day’s revenue,”.

Kevin Craig, pendiri sekaligus CEO agensi komunikasi PLMR, menggambarkan pendekatan yang serupa. Ia memberi izin kepada stafnya—sekitar 100 karyawan di empat kantor yang tersebar di London, Coventry, Birmingham, dan Ipswich—untuk memulai pukul 12:00 jika mereka ingin begadang menonton pertandingan.

Craig menjelaskan, “When I realised England were going to be playing at 01:00, I just instinctively knew it was the right thing to do,”. Ia menambahkan PLMR mencoba menyeimbangkan orientasi keluarga dan kemampuan menghasilkan uang, sambil mengakui tidak semua organisasi bisa melakukan hal yang sama. “I know it’s not possible for all organisations in the land but… these days are special.”

Zaid Patel dari Highcastle Estates memilih langkah yang lebih spesifik dalam mengatur agenda rapat. Ia membatalkan pertemuan rutin Senin pagi dan membolehkan staf memulai lebih akhir atau mengajukan cuti mendadak.

Patel menyatakan, “I don’t want people to be conflicted over watching the England game and coming into work,” dan menambahkan ia akan menyiapkan kopi untuk staf yang tetap datang. Ia berkata, “I’ll “get the black coffees ready” for those who do come in,” sembari menilai keputusan ini membantu membangun “trust and culture” di perusahaan. “We have conversations about the World Cup every day,”.

Pertimbangan hukum: cuti mendadak dan pemulihan

Michelle Last, partner di Keystone Law, mengingatkan bahwa karyawan tidak memiliki hak berdasarkan undang-undang untuk mengambil annual leave mendadak semata-mata demi menonton pertandingan, termasuk untuk “recover from watching one”. Dalam pandangannya, perusahaan perlu memahami batasan itu sebelum menyetujui permintaan.

Meski demikian, Last menyebut mungkin bijak bila pemberi kerja menyepakati permintaan cuti mendadak untuk mengantisipasi risiko yang lebih buruk. Ia menilai alternatifnya bisa membuat karyawan memilih menelepon sakit atau datang dengan kondisi kurang bugar sehingga bekerja menjadi tidak efektif.

Last menjelaskan, “The alternative is that the employee might call in sick or turn up for work tired and unproductive in any event.” Karena itu, ia menyarankan pemberi kerja sebaiknya proaktif mendorong karyawan mengajukan cuti tahunan sejak awal sebagai antisipasi perayaan yang mungkin terjadi.

Seorang konsultan dari LLM Solicitors, Alison Loveday, menambahkan bahwa memberi opsi cuti tanpa bayaran atau annual leave dapat menghasilkan itikad baik. Ia juga menyebut pendekatan itu cenderung lebih baik daripada memaksa karyawan untuk tetap datang.

Loveday mengatakan, “letting employees take unpaid or annual leave ‘may generate some good will and is likely to be preferable to insisting employees come in’.” Namun ia juga menekankan bahwa dengan tenggat waktu yang singkat, persetujuan cuti mendadak mungkin tidak selalu bisa dilakukan oleh perusahaan.

Intinya, jelang kick-off pukul 01:00 BST, fleksibilitas kerja tidak hanya berkisar pada keputusan individual manajer. Di balik pilihan jam masuk yang berbeda-beda, ada upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan menonton, keberlangsungan layanan, serta rencana operasional yang tetap harus berjalan.