jurnalistik.co.id – Di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026), Dirjen Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Irjen Pol Alexander Sabar membahas bagaimana ruang digital tidak sekadar memantulkan realitas, tetapi ikut membentuk persepsi publik.
Ia menyoroti manipulasi narasi di lingkungan daring yang dinilai dapat memicu perang kognitif, sekaligus mendorong lahirnya hiperrealitas di masyarakat.
Dalam peluncuran buku berjudul “Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran”, Alexander menjelaskan bahwa mekanisme algoritma media sosial dapat bekerja mengarahkan perhatian dan memengaruhi preferensi warga secara luas.
Menurutnya, narasi yang dibentuk berulang kali akan terasa seolah menjadi kebenaran bersama, padahal proses pembentukan itu sendiri berlangsung lewat sistem yang menyeleksi apa yang paling sering muncul di layar pengguna.
Alexander mengutip penjelasan yang pernah disampaikan Menteri terkait pola yang terbentuk di ruang digital. “Inilah tadi yang juga sempat disinggung oleh Bu Menteri bahwa narasi yang dibangun di ruang digital ditambah tadi dengan algoritma yang kemudian membentuk semacam bubble filter , yang kemudian ada echo chamber , pengaruh echo chamber yang hanya kita kemudian diarahkan hanya kepada tadi, preferensi kita,” kata Alexander, dalam peluncuran buku berjudul ‘Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisme hingga Manipulasi Kesadaran’, di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Lebih lanjut, Alexander menegaskan bahwa dampak yang muncul tidak berhenti pada pembahasan isu tertentu, melainkan merambah ke ancaman perang kognitif dalam kehidupan sosial.
“Apa yang terlihat di ruang digital itu belum tentu realitanya seperti itu,” ucap dia.
Buku setebal 164 halaman tersebut merupakan disertasi Alexander saat menempuh studi S3 di Universitas Indonesia (UI).
Karyanya berangkat dari gagasan sosiolog asal Perancis Jean Baudrillard melalui teori simulakra.
Alexander menjelaskan teori itu pada dasarnya menggambarkan bagaimana citra buatan dapat menggantikan kenyataan asli.
Ia menyebut, kondisi ruang digital kini bergeser dari sekadar simulasi menuju proses pembentukan realitas baru atau hyperreality yang kemudian dipercaya oleh banyak orang.
Ia menuturkan bahwa “Ada suatu realita baru yang oleh Baudrilllard dikatakan sebagai hiperrealitas yang terlepas dari realitas sebenarnya. Itu yang terjadi di ruang digital,” ucap dia.
Berita Terkait
“Dan sayangnya masyarakat kita sekarang lebih cenderung mempercayai hiperrealitas ini. Gitu. Itu yang menjadi bahasan dalam studi kami dan juga yang kami tuangkan dalam buku ini,” sambung dia.
Pengamatannya itu kemudian ditempatkan ke dalam diskusi yang juga menyentuh persoalan radikalisasi dan cara penyebaran gagasan ekstrem bekerja lewat jaringan daring.
Pada kesempatan yang sama, Mayndra Eka Wardhana menyambut baik terbitnya buku tersebut dan menyatakan ada perubahan yang terlihat dalam pola rekrutmen.
Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mayndra Eka Wardhana membenarkan adanya pergeseran pola rekrutmen teroris.
“Kami mendeteksi bahwa memang betul ada pergeseran pola rekrutmen, kemudian bagaimana multi-platform ini digunakan oleh pelajar, anak-anak, remaja, yang dalam hal ini digital native ya. Itu kemudian mereka yang paling paham saat ini terhadap digital dibanding orangtuanya,” ujar Mayndra.
Ia menempatkan temuan tersebut pada konteks penggunaan berbagai platform digital oleh kelompok yang lebih muda, termasuk pelajar dan remaja.
Mayndra menilai, kedekatan mereka dengan ekosistem digital membuat pemahaman terhadap mekanisme penyebaran konten menjadi berbeda dibanding generasi yang tumbuh sebelum internet mendominasi kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kriminolog UI Kisnu Widagso menilai buku tersebut dapat menjadi rujukan penting untuk memahami ancaman radikalisasi serta penyebaran kejahatan di ruang digital.
Menurutnya, perubahan yang terjadi dalam pola komunikasi daring membutuhkan kajian yang mampu membaca hubungan antara narasi, algoritma, dan cara ide-ide ekstrem menyebar ke khalayak.
Melalui diskusi tersebut, peluncuran buku ini menekankan bahwa pembacaan atas algoritma dan manipulasi kesadaran perlu dipahami secara serius, bukan hanya dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri.
Bagi Alexander, inti peringatannya terletak pada jarak antara yang terlihat di layar dan kenyataan yang sebenarnya, sementara untuk penegakan hukum, temuan lapangan menunjukkan bahwa rekrutmen dan penyebaran kini bergerak mengikuti arsitektur multi-platform.
Dengan demikian, buku ini menempatkan teori simulakra dan gagasan hiperrealitas sebagai jembatan pemahaman, sekaligus mengaitkannya dengan dinamika radikalisasi yang melibatkan pengguna digital native.
Di titik itulah, kajian akademik dan pengalaman penindakan saling melengkapi untuk membaca bagaimana kesadaran publik dapat dibentuk melalui mekanisme yang berjalan di balik layar.












