Teknologi

Saham Teknologi Merosot: Apa Dampaknya bagi Revolusi AI?

×

Saham Teknologi Merosot: Apa Dampaknya bagi Revolusi AI?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Some tech shares are plunging - what does that mean for the AI revolution?

jurnalistik.co.id – Penurunan tajam nilai produsen chip sedang menggugah kekhawatiran investor bahwa euforia di sekitar perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI mulai meredup. Dalam narasi besar, revolusi AI dipandang berpotensi mengubah cara orang bekerja dan hidup, sekaligus melahirkan kekayaan besar bagi investor di sekelompok perusahaan yang sebagian besar berbasis di AS dan Asia.

Teknologi ini bahkan sering disandingkan dengan penemuan-penemuan yang sangat mengubah peradaban, mulai dari internet, telepon, hingga listrik. Banyak perusahaan kemudian terjun dengan harapan menjadi “pemenang” pada teknologi yang diyakini bersifat transformatif, karena mereka ingin memegang kendali atas fondasi sistem AI.

Pandangan itu juga pernah diungkap oleh Sir Demis Hassabis, pendiri DeepMind asal Inggris yang kemudian dibeli oleh raksasa teknologi AS, Google, satu dekade lalu. Menurutnya, kecerdasan buatan “tidak bisa dibandingkan dengan terobosan teknologi standar, bahkan dengan yang sekonsekuen internet atau ponsel. AI lebih mirip dengan penemuan listrik atau api.”

Hassabis juga menambahkan analogi yang menekankan betapa besar loncatan yang terjadi di balik proses teknis. Ia mengatakan, “Kita pada dasarnya menemukan cara agar pasir bisa berpikir. Itu menakjubkan.”

Meski nilai perusahaan-perusahaan besar sempat melambung seiring dorongan euforia, belanja mereka untuk membangun komponen teknologi AI tetap mencapai angka ratusan miliar dolar. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, nilai sebagian perusahaan yang menjadi pemasok “batu bata” bagi teknologi tersebut justru jatuh, memicu pertanyaan apakah yang oleh sebagian orang disebut “gelembung AI” akan segera pecah.

Penurunan paling tajam tampak terjadi di Asia. Saham produsen chip Korea Selatan seperti SK Hynix dan Samsung tercatat turun masing-masing 46% dan 35% selama sebulan terakhir, ketika investor meragukan bahwa lonjakan permintaan untuk chip yang menggerakkan AI bersifat berkelanjutan.

Meski demikian, kedua saham tersebut masih berada jauh di atas posisi setahun sebelumnya—SK Hynix masih naik tiga kali lipat, sedangkan Samsung naik lima kali lipat. Karena itu, banyak analis menafsirkan koreksi yang dalam sebagai kehati-hatian dan aksi ambil untung setelah kenaikan besar yang sudah berlangsung.

Pasar saham Korea Selatan sendiri dikenal sangat volatil, tetapi kekhawatiran tersebut kemudian merembet ke perusahaan-perusahaan besar di AS. Saham Google dan Tesla sempat jatuh tajam dalam waktu singkat sebelum kembali pulih pada pekan lalu, setelah kedua perusahaan berjanji akan meningkatkan belanja untuk AI dalam bulan dan tahun-tahun mendatang.

Janji belanja itu muncul meski hingga saat ini investasi AI dinilai belum mendatangkan keuntungan, sehingga perusahaan-perusahaan dianggap tetap “membakar uang” untuk mengejar transformasi. Di tengah dinamika itu, Meta, Microsoft, dan Amazon yang melaporkan hasil keuangan terbaru pada pekan ini memberi ruang bagi investor untuk meneliti seberapa besar porsi taruhan AI yang sedang mereka jalankan.

Russ Mould, investment director di AJ Bell, menilai masih ada keraguan yang sehat terhadap kemampuan investasi tersebut untuk menghasilkan imbal hasil yang sepadan. Sementara itu, menurut Eileen Burbidge, salah satu investor teknologi terkemuka, kekhawatiran saat ini belum berujung pada penilaian ulang yang serius.

Burbidge menyampaikan kepada BBC bahwa, “Gelembung AI belum meletup, tetapi sedang mengempis.” Kalimat itu merangkum posisi sebagian pelaku pasar: ada penurunan dan penyeimbangan ekspektasi, namun belum sampai pada kesimpulan bahwa seluruh narasi AI runtuh.

Dari euforia menuju kehati-hatian

Salah satu pemicu tambahan yang ikut menguatkan kecemasan investor adalah laporan tentang adanya terobosan dalam proses manufaktur oleh sebuah perusahaan asal Tiongkok. Jika klaim itu benar, teknologi produksi tersebut berpotensi membuat Tiongkok lebih mandiri dalam perancangan dan produksi chip.

Dari sisi ekonomi, temuan semacam ini memperbesar kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan besar pengusung AI—yakni Meta, Alphabet, Open AI, dan Anthropic—akan kesulitan menetapkan harga yang cukup bagi pengguna akhir. Jika harga sulit naik, argumennya adalah pendapatan mungkin tak cukup untuk membenarkan belanja ratusan miliar dolar yang sedang dikeluarkan untuk membeli chip serta membangun pusat data yang menjadi tulang punggung teknologi.

Akibatnya, pengumuman belanja besar untuk AI tidak selalu disambut dengan antusiasme yang sama dari pasar saham. Dalam contoh yang muncul di pemberitaan, SpaceX—yang banyak dipandang sebagai perusahaan berbasis AI—sahamnya turun 14% sejak debut yang sangat digembar-gemborkan di bursa, dan hampir 50% dari puncaknya pada bulan Juni.

Sementara itu, Apple yang sebagian besar berada “di luar” perlombaan agresif persenjataan AI justru mengalami kenaikan. Saham Apple tercatat naik 21% selama sebulan terakhir untuk merebut kembali gelar perusahaan paling bernilai di dunia dari Nvidia.

Di saat perhatian pasar tertuju pada saham-saham teknologi, indeks patokan London, FTSE 100—yang oleh sebagian orang disebut “anti-tech index”—sempat menyentuh rekor tertinggi pada periode tertentu. Itu menggambarkan pergeseran selera investor ketika sektor teknologi sedang diuji oleh risiko koreksi.

Risiko yang bisa tetap menguras investor

Peluang pasar tidak selalu berjalan searah dengan keberhasilan teknologi jangka panjang. Bahkan ketika teknologi yang didukung akhirnya benar-benar mengubah ekonomi, investor tetap bisa mengalami kerugian dalam perjalanan menuju adopsi massal.

Sejarah kereta api sering dipakai sebagai perbandingan: kereta api memang mengubah perekonomian, tetapi banyak orang tetap kehilangan uang dalam fase transisi tersebut. Perumpamaan ini juga relevan karena pusat data untuk AI kemungkinan perlu diperbarui secara berkala untuk memasukkan prosesor terbaru dan tercepat.

Selain itu, ada pula kekhawatiran tentang keterkaitan finansial antar perusahaan raksasa AI. Di beberapa kasus, perusahaan-perusahaan besar dilaporkan mengambil porsi kepemilikan yang besar atau saling meminjamkan dana, sehingga terbentuk pendanaan yang bersifat melingkar. Jika kegagalan terjadi, dampaknya bisa menular dan ikut merusak posisi keuangan pihak lain.

Tekanan budaya juga semakin terdengar. Sejumlah pemerintah pusat, negara bagian, atau pemerintah lokal dikabarkan menunda, melarang, atau membatasi pembangunan pusat data baru dengan alasan lingkungan. Kekhawatiran tersebut berakar pada kebutuhan air dan energi yang besar untuk operasi pusat data.

Di sisi lain, sebagian pendukung AI juga menghadapi reaksi sosial. Para advokat AI yang menonjol dilaporkan pernah diboikot atau mendapat ejekan dari mahasiswa yang khawatir AI akan menggantikan banyak pekerjaan yang membutuhkan pendidikan setara jenjang lulusan.

Meskipun menghadapi sejumlah sinyal kehati-hatian, Eileen Burbidge tetap optimistis. Ia mengatakan, “Saya melihat gelas setengah penuh—jika Anda membeli saham produsen chip setahun lalu, Anda sekarang merasa cukup baik.”

Namun, meski optimisme itu ada, perhatian investor tetap mengarah pada rincian rencana belanja perusahaan dan proyeksi waktu kapan mereka mendapatkan pengembalian atas investasi tersebut. Dengan koreksi di saham-saham chip yang menjadi “penanda” awal, pasar seolah menuntut bukti lebih cepat bahwa euforia yang dibangun selama ini benar-benar berbuah pada hasil yang sepadan.