Entertainment

Setelah 20 Tahun Dinanti, F4 Bikin Penggemar Bernostalgia di Konser F*Forever

0
×

Setelah 20 Tahun Dinanti, F4 Bikin Penggemar Bernostalgia di Konser F*Forever

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Setelah 20 Tahun Menanti, Penggemar F4 Bernostalgia di Konser F*Forever

jurnalistik.co.id – Vic Zhou, Jerry Yan, dan Vaness Wu membawa penggemar kembali ke masa ketika nama F4 begitu lekat dengan ingatan banyak orang. Dalam Konser F*Forever 1st World Tour yang digelar di GBK Arena, Kamis (28/5/2026), suasana nostalgia langsung terasa sejak lagu pembuka dimainkan bersama Ashin Mayday. Sejak awal, konser ini memang berjalan dengan energi yang terus naik dari satu nomor ke nomor berikutnya.

Penampilan dibuka dengan lagu Forever Forever, lalu disusul single Always Be My Bro. Begitu nada pertama terdengar, penonton ikut bernyanyi bersama idola mereka dan beberapa kali terdengar teriakan histeris dari area konser. Momen itu seperti mengembalikan para penggemar ke era ketika F4 menjadi salah satu grup paling populer di Asia, dan suasana tersebut bertahan hampir sepanjang pertunjukan.

Setelah pembuka yang meriah, para penggemar diajak bernostalgia lewat Di Yi Shi Jian. Lagu itu menegaskan kembali daya tarik F4 yang tak hanya bertumpu pada nama besar para anggotanya, tetapi juga pada kenangan kolektif yang masih melekat kuat di benak penonton. Di panggung itu, setiap lagu terasa seperti pengingat atas perjalanan panjang yang telah ditunggu selama 20 tahun. Sorak-sorai yang muncul di sela-sela lagu menunjukkan betapa momen reuni ini punya arti khusus bagi banyak orang di arena.

Vaness Wu kemudian mengambil alih panggung dengan sejumlah lagu solonya, termasuk Dance Until We Die, Ur The Reason, dan Peace by Piece. Sesekali ia menyapa penonton dan mengucapkan, “Terima kasih Jakarta,” dalam bahasa Indonesia. Sapaan singkat itu langsung disambut hangat oleh para penggemar yang sejak awal sudah larut dalam euforia konser, sekaligus menambah kedekatan antara panggung dan penonton.

Yang membuat pertunjukan malam itu semakin memukau adalah tata panggung, artistik, dan pencahayaan yang dibuat megah. Panggung 360 derajat yang bisa berputar memberi kesan berbeda, apalagi dilengkapi jalan kecil yang membuat Jerry, Vic, Vaness, dan Ashin bisa lebih dekat dengan penonton. Setiap perpindahan posisi para penyanyi membuat penonton mendapat sudut pandang yang berubah-ubah, sehingga konser terasa hidup dari sisi mana pun mereka berdiri.

Penampilan solo yang menjaga energi konser

Vic Zhou juga tidak kalah mencuri perhatian saat membawakan nomor solonya. Ia membuka bagian itu dengan You Are My Courage, lalu melanjutkan dengan Make a Wish yang dibawakan dalam aransemen baru. Lagu tersebut terdengar lebih ceria dibandingkan versi aslinya, sehingga memberi warna berbeda di tengah konser yang penuh kenangan. Pergantian dari lagu-lagu grup ke nomor solo membuat alur pertunjukan tetap dinamis tanpa kehilangan nuansa nostalgia.

Ashin turut melengkapi malam nostalgia itu dengan membawakan lagu-lagu bersama Mayday, termasuk Suddenly Missing You So Bad dan Summer Light Year. Kehadirannya menambah dinamika di atas panggung sekaligus memperkuat nuansa kolaborasi yang sejak awal menjadi daya tarik konser ini. Perpaduan para personel F4 dan Ashin membuat konser berjalan bergantian antara romantis, enerjik, dan penuh memori, dengan setiap bagian memberi penonton kesempatan untuk bernyanyi dan menikmati momen bersama.

Jerry Yan pun tak mau kalah memberi warna pada pertunjukan. Ia sempat berpuisi dan memberikan semangat kepada para penggemar yang hadir. Aksi itu menjadi penutup yang menegaskan bahwa konser ini bukan hanya soal membawakan lagu-lagu lama, tetapi juga soal menghadirkan kembali hubungan emosional yang pernah terbentuk antara para idola dan penggemarnya. Di GBK Arena malam itu, nostalgia benar-benar menjadi bintang utama.