jurnalistik.co.id – Prosedur medis berteknologi gelombang bunyi berdaya tinggi memperlihatkan hasil menjanjikan dalam menyelamatkan kembar identik yang mengalami twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) sejak masa awal kehamilan. Dalam uji coba dunia pertama, arus darah yang bermasalah di plasenta disegel tanpa tindakan operasi.
TTTS terjadi ketika aliran darah antara dua bayi dalam kehamilan kembar yang berbagi plasenta tidak seimbang. Akibatnya, satu bayi dapat menjadi terlalu kecil dengan risiko membahayakan kelangsungan hidup, sementara bayi lain justru terlalu besar.
Studi ini melibatkan kasus Nancy dan Margo. Melalui perawatan yang memanfaatkan ultrasound berdaya tinggi, tim dokter di sebuah rumah sakit di London berhasil menyegel pembuluh darah penyebab gangguan tersebut tanpa perlu operasi. Setelah prosedur, kedua bayi lahir sehat dan kini berusia empat tahun, dengan rencana mulai sekolah pada September.
Penelitian yang dilaporkan dalam American Journal of Obstetrics & Gynecology menyebutkan bahwa pendekatan ini berpotensi menjadi terobosan karena sifatnya yang tidak invasif. Peneliti menilai metode tersebut “extremely exciting” karena menawarkan cara penanganan yang tidak mengharuskan dokter memasukkan jarum atau teleskop ke dalam perut ibu.
Dalam kondisi TTTS, penumpukan cairan dapat terjadi di sekitar bayi yang menerima darah berlebihan, sementara bayi donor mengalami kekurangan cairan yang berbahaya. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan keduanya, sehingga penanganan perlu dilakukan secepat mungkin setelah diagnosis terdeteksi pada tahap awal.
Biasanya, terapi TTTS dilakukan dengan tindakan yang lebih invasif. Dokter dapat memasukkan jarum ke dalam rahim untuk mengalirkan sebagian cairan, atau menggunakan laser untuk menyegel pembuluh darah yang menjadi sumber masalah.
Dari prosedur invasif ke penyegelan pembuluh secara non-invasif
Untuk Brioney Garrett, prosedur yang ia jalani terasa lebih sederhana dibanding metode tradisional. Ia berbaring dalam posisi datar, lalu sebuah mesin yang dirancang khusus menembakkan gelombang ultrasound berdaya tinggi ke pembuluh darah kecil di plasenta.
Proses tersebut berlangsung sekitar 20 menit. Brioney menggambarkan pengalamannya sebagai “very quick and pretty painless”.
Menurut penjelasan studi, jenis ultrasound yang digunakan berbeda dari pemeriksaan pencitraan rutin. Energi panas yang dihasilkan dari berkas ultrasound diarahkan untuk menyegel pembuluh darah berdiameter sekitar 2 mm, dengan kedalaman sekitar 5–6 cm dari permukaan kulit.
Selama penelitian, prosedur berhasil memblokir aliran darah pada 90% pembuluh darah yang menjadi target. Selain itu, tidak ditemukan efek samping yang tidak diinginkan selama rangkaian uji coba.
Brioney beserta ibu hamil lain di Inggris dan lintas negara Eropa mengikuti studi setelah pemindaian mendeteksi TTTS pada periode awal kehamilan. Tim peneliti menekankan bahwa ultrasound memiliki reputasi keamanan tinggi dalam pemeriksaan medis, tetapi perangkat yang dipakai untuk terapi TTTS memiliki fokus dan mekanisme yang sepenuhnya berbeda.
Berita Terkait
Hasil uji coba: kelangsungan hidup dan kebutuhan penelitian lanjutan
Uji coba ini memperlihatkan bahwa sebagian besar peserta tetap memerlukan penanganan tambahan. Setengah dari 10 perempuan yang ikut dalam studi membutuhkan perawatan lanjutan setelah prosedur awal.
Untuk hasil kelangsungan bayi kembar, 12 dari 20 bayi kembar bertahan setelah perawatan menggunakan ultrasound berdaya tinggi. Peneliti juga menyampaikan bahwa pendekatan ini masih perlu dibuktikan pada skala yang lebih besar sebelum dapat ditawarkan lebih luas kepada lebih banyak ibu hamil.
Prof Christoph Lees, yang memimpin bidang fetal medicine di Imperial College Healthcare NHS Trust dan menjadi profesor obstetri di Imperial College London, menyebut riset ini “very promising”. Ia menambahkan, “If this could work in a fully-fledged study, it could give hope to a lot of women who otherwise might have to have quite invasive treatment”.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Twins Trust, organisasi amal yang mendukung studi. Mereka menilai pendekatan baru ini berpotensi memberikan dampak nyata bagi keluarga yang menghadapi TTTS. Helen Peck, head of healthcare engagement and research, menyatakan, “Any procedure that is non-invasive and can potentially identify TTTS earlier and improve outcomes for our families with this life-threatening condition could be a turning point”.
Perubahan setelah prosedur dan kabar kelahiran Nancy serta Margo
Beberapa minggu setelah pemindaian, Brioney dan tim dokter melihat bahwa tindakan tersebut bekerja. Aliran darah ke kedua bayi menjadi seimbang kembali, meski sepanjang kehamilan masih ada persoalan lain yang harus dihadapi.
Brioney menyampaikan bahwa Margo berada “in a much better position”. Ia juga menyebut kondisi jantung Nancy mengalami perubahan yang lebih baik, dengan mengatakan “the strain on Nancy’s heart had eased”.
Nancy dan Margo lahir hampir pada usia kehamilan 34 minggu. Nancy memiliki berat 3 lbs 7, sedangkan Margo 3 lbs 3 ounces.
Brioney merasakan leganya ketika melihat hasil akhir kelahiran. Ia mengatakan, “They were both healthy, and Margo wasn’t as small as we worried she was going to be”.
Bagi Brioney, momen tersebut bermakna personal dan emosional. Ia menyebut kedua putrinya “my miracle twins” dan mengatakan, “We were in a very dire situation and I don’t forget that,”. Ia menambahkan, “It stays with me always how things could have been. Every day I still count my blessings.”
Kini, Nancy dan Margo tidak hanya bertahan, tetapi juga menjalani hidup seperti anak-anak seusianya. Brioney menyebut mereka sebagai “funny, smart, energetic little girls that just fit right in with their age group,” dan menegaskan bahwa pada September keduanya akan memulai sekolah dasar.
Keseluruhan temuan studi ini menunjukkan bahwa penyegelan pembuluh darah penyebab TTTS menggunakan ultrasound berdaya tinggi dapat menjadi alternatif yang lebih nyaman dan tidak invasif dibanding prosedur yang selama ini banyak digunakan. Namun, sebelum menjadi opsi rutin, diperlukan penelitian lebih besar untuk memastikan efektivitasnya pada populasi ibu hamil yang lebih beragam dan jumlah kasus yang lebih luas.








