jurnalistik.co.id – Tammy Beaumont menyebut dirinya sedang kehilangan “api” untuk kembali merebut tempat di skuad Inggris versi baru. Perasaan itu mengemuka saat ia menoleh ke perjalanan kariernya setelah memutuskan pensiun dari level internasional, tepat setelah menjalani pekan emosional menjelang Test melawan India di Lord’s.
“It’s been an emotional week since I made the final decision,” ujar Beaumont. Ia menceritakan bahwa tahun lalu, setelah final Piala Dunia 50 over, muncul beberapa keraguan yang membuatnya tak langsung merasa yakin sepenuhnya.
“I didn’t necessarily have the lightbulb moment when I knew.” Namun, ia menjelaskan bahwa sejumlah percakapan dengan pelatih kepala Charlotte Edwards—disebutnya sebagai Lottie—dalam beberapa bulan terakhir membantu membentuk arah tim yang ia nilai tidak lagi sejalan dengan dirinya. Karena itu, ia mengambil keputusan untuk “go for it” sekitar seminggu sebelum pengumuman.
Menurutnya, kepindahan dari fase ragu ke keputusan final tidak datang secara instan. Meski begitu, ada satu benang merah yang terus menonjol sepanjang kariernya: ketangguhan.
Beaumont dikenal sebagai pemain yang mampu memukul dari urutan 1 hingga 11. Ia pernah menjadi pemenang Piala Dunia, mencatat “Ashes double-centurion,” dan kini menutup karier pada momen bersejarah: Test putri pertama di Lord’s yang berlangsung mulai Jumat.
Dari debut yang “whirlwind” hingga momen sadar
Ia menggambarkan debutnya di level internasional sebagai “whirlwind,” sebuah perjalanan yang berjalan cepat dan intens. Dalam rentang waktu itu, Beaumont mengalami naik-turun, tetapi juga terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan tim.
Pada awal kariernya di kancah internasional, Beaumont sempat melalui periode yang tidak selalu stabil. Perubahan besar datang pada 2016 ketika pelatih Mark Robinson mempromosikannya untuk membuka (open) pukulan, dan sejak saat itu ia “never looked back”.
Setahun berikutnya, ia menjadi “player of the tournament” sekaligus “leading run-scorer” saat Inggris merebut Piala Dunia 50 over di kandang. Setelah masa itu, Beaumont menjadi salah satu nama yang selalu ada di daftar pemain karena konsistensinya di bagian atas urutan pukulan.
Titik balik lain muncul pada 2022 ketika ia dikeluarkan dari skuad T20. Konsekuensinya, ia juga melewatkan Commonwealth Games di kandang. Beaumont menilai perbedaan kini terasa semakin jelas setelah penempatan yang serupa juga terjadi sebelum musim panas ini.
Ia menyebut bahwa saat Charlotte Edwards mengeluarkannya dari skuad ODI menghadapi Selandia Baru, “the stubbornness was not kicking in.” Dalam narasi yang sama, Beaumont lalu menarik perbandingan ketika pekan lalu kapten Test putra Ben Stokes mengumumkan pensiun.
“I think that was the first time that I had been left out of a squad and not had that fire to go again, to prove people wrong one more time, and force my way back in,” kata Beaumont. Ia menambahkan bahwa saat mendengar Stokes berbicara tentang “going back to the well,” ia merasa seolah menemukan orang yang paling dekat dengan isi pikirannya.
Berita Terkait
Beaumont memang selama ini sering mengatakan bahwa seseorang “you get knocked down seven times and get up eight.” Tetapi baginya, momen itu menjadi “a bit of a wake-up call”—saat ia menyadari tidak bisa terus melakukannya dan tidak lagi ingin mempertahankan pola yang sama.
Seruan untuk lebih banyak Test, tanpa menjadi sekadar formalitas
Beaumont juga menekankan isu format permainan. Ia menyatakan bahwa banyak orang menanyakan favoritnya, dan ia tidak pernah bisa menjawab Test sebagai pilihan utama “even though it hands down would be if we had the opportunity to play it enough.”
Dalam konteks itu, ia mengingat bahwa ini akan menjadi Test ke-12 dalam 17 tahun, sehingga terasa seperti terus berada pada posisi mengejar ketertinggalan. Ia membandingkan cara pengakuan dalam kriket putra, yang menurutnya masih sering dibentuk oleh catatan Test.
“In the men’s game, you still have players being defined as great by their Test records and I think for me, the women’s game has lagged behind in that.” Ia kemudian menyampaikan harapannya agar pemain putri tidak hanya sesekali mendapat kesempatan, melainkan benar-benar bisa mendalami format itu.
“Most of us want to play Test cricket but not in a tokenistic kind of way, in a way that we can really sink our teeth into it and try to master it.” Baginya, semua atlet pada akhirnya ingin menjadi hebat pada yang mereka jalani, dan jadwal yang terlalu jarang—seperti “playing one Test every two years”—membuat usaha tersebut terhenti.
Ikatan dengan rekan setim dan rute kembali ke latihan
Dalam bagian yang paling menguras emosi, Beaumont berbicara tentang para rekan setimnya. Ia berusaha menahan air mata saat menyebut nama-nama seperti Sciver-Brunt, Danni Wyatt-Hodge, Amy Jones, dan Heather Knight.
Ia menggambarkan adanya kelompok inti yang tumbuh bersama—mulai dari “the first central contracts,” kemenangan Piala Dunia, hingga beberapa kekalahan, lalu melewati fase kehidupan seperti pernikahan dan kelahiran anak. Kini, mereka kembali menghadapi bab baru berupa pensiun.
“As Beaumont says, it is simply the next chapter,” ujarnya, meski ia belum memetakan secara rinci bagaimana tampilan bab berikutnya. Ia menegaskan bahwa setelah selesai menjalani tugas media, ia akan kembali langsung ke sesi latihan dan mencari tahu posisinya di lapangan.
Ketika ditanya apa yang harus ia lakukan setelah ini, jawaban yang ia terima adalah “Short-leg practice.” Ia berdiri dekat dengan pemukul—di area yang tepat berada dalam jalur tembakan—dan mengakui itu salah satu pekerjaan paling menantang dalam Test cricket.
Namun, Beaumont justru tampak benar-benar antusias. Baginya, detail latihan itu terasa seperti gambaran paling pas tentang dirinya: pemain yang terus mencari tantangan, meski kini memilih mengakhiri perjalanan internasionalnya.












