Internasional

Ratusan Migran Berenang dari Maroko ke Ceuta, Pemimpin Wilayah Sebut Sumber Daya Kewalahan

×

Ratusan Migran Berenang dari Maroko ke Ceuta, Pemimpin Wilayah Sebut Sumber Daya Kewalahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hundreds of migrants swim from Morocco to Spanish enclave of Ceuta

jurnalistik.co.id – Ratusan migran dilaporkan telah menyeberang dari Maroko ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta dalam beberapa hari terakhir. Juan Jesús Vivas, pemimpin wilayah tersebut, mengatakan arus kedatangan itu membebani sumber daya dan mendesak pemerintah Spanyol untuk segera turun tangan.

Vivas menyampaikan pernyataan itu menyusul lonjakan penyeberangan yang terjadi melewati perairan menuju Ceuta, wilayah yang berada di pantai utara Maroko. Ia menilai situasi yang berkembang kini sudah mengarah pada kondisi darurat, baik dari sisi kemanusiaan maupun keamanan.

Menurut laporan Reuters, Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska dijadwalkan berkunjung pada Jumat. Kedatangan pejabat tersebut diharapkan menjadi bagian dari respons terhadap meningkatnya jumlah orang yang masuk ke Ceuta.

Sejumlah rekaman menunjukkan migran menggunakan perangkat pelampung saat menyeberangi laut. Banyak di antaranya berenang sambil memanfaatkan cincin pelampung dan alat apung lainnya, sementara sebagian yang lain dilaporkan berlari menerobos gerbang di pagar perbatasan.

Ceuta terletak di pesisir Maroko dan dipisahkan dari daratan Spanyol oleh Selat Gibraltar. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini menjadi titik tumpu para migran yang berupaya mencapai Eropa melalui jalur darat satu-satunya dari Afrika di wilayah Uni Eropa.

Dalam pemberitaan mengenai skala penyeberangan, terdapat perbedaan angka yang dilaporkan oleh berbagai pihak. Sumber-sumber menyebut kisaran dari ratusan hingga ribuan orang, sehingga gambaran keseluruhan masih diperdebatkan.

Media Spanyol memperkirakan pada Kamis ada sekitar 2.000 hingga 3.000 orang yang masuk ke Ceuta, mengutip keterangan Reuters. Namun, Guardia Civil disebut belum mengonfirmasi jumlah tersebut.

Sementara itu, penyiar publik RTVE menyebut “ratusan” orang menyeberang pada siang hari. RTVE juga melaporkan lebih dari 1.500 migran—mayoritas berusia muda dan berasal dari Maroko—telah tiba di Ceuta sepanjang dua pekan terakhir.

Vivas menyatakan pihaknya juga menangani temuan di laut akibat penyeberangan yang berbahaya. Ia mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir ada 60 jenazah yang dipulihkan di perairan, menurut laporan RTVE.

Di tengah situasi tersebut, Vivas menilai Ceuta sedang menghadapi darurat kemanusiaan sekaligus darurat keamanan. Reuters melaporkan bahwa pusat penerimaan bagi anak-anak yang tidak ditemani orang dewasa (unaccompanied minors) disebut beroperasi hingga beberapa kali kapasitas yang seharusnya.

Lonjakan ini kemudian memunculkan perbandingan dengan peristiwa pada Mei 2021. Pada masa itu, sekitar 8.000 orang dilaporkan masuk ke Ceuta dalam rentang beberapa hari, dan situasi tersebut ikut memperuncing ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Maroko.

Ceuta dan Melilla—dua kantong Spanyol di Afrika Utara—berperan sebagai satu-satunya batas darat Uni Eropa dengan Afrika. Spanyol, menurut pemberitaan, telah meningkatkan langkah pengamanan di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir melalui penguatan pengawasan, perbaikan penghalang fisik, serta peningkatan hubungan bilateral dengan Maroko.

Meskipun begitu, upaya penyeberangan tetap berlangsung. Peningkatan pengamanan tidak sepenuhnya menghentikan percobaan migran untuk masuk, sehingga peristiwa penyeberangan terus berulang meski risiko di laut dan di area perbatasan tetap tinggi.

Dalam keterangan mengenai respons pemerintah, Reuters menempatkan kunjungan Grande-Marlaska sebagai langkah yang diharapkan dapat menjawab tekanan yang ditimbulkan oleh arus migran. Program penanganan, termasuk penyesuaian kapasitas tempat penerimaan, menjadi aspek yang mendapat perhatian dalam situasi saat ini.

Perbedaan angka yang disebutkan oleh media juga menegaskan bahwa pendataan di lapangan tidak selalu seragam. Meski demikian, berbagai laporan sama-sama menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibanding periode sebelumnya, terutama terkait konsentrasi kedatangan dalam hari-hari terakhir.

Dengan kondisi penerimaan yang disebut melampaui kapasitas, pihak wilayah menilai perlu adanya tindakan segera. Vivas menekankan bahwa beban yang terjadi bukan hanya soal jumlah orang yang tiba, tetapi juga kemampuan sistem setempat untuk menangani kebutuhan dasar dan aspek keamanan secara bersamaan.

Sejauh ini, gambar yang muncul dari rekaman di lapangan memperlihatkan penyeberangan yang dilakukan secara berkelompok dan dalam waktu yang relatif cepat. Ada yang memilih berenang dengan pelampung, sementara sebagian memilih menerobos titik tertentu di pagar perbatasan.

Situasi di Ceuta memperlihatkan tantangan yang terus berulang pada jalur migrasi dari Afrika menuju Eropa. Bagi Spanyol, persoalan ini tidak hanya menyangkut pengamanan batas, melainkan juga tata kelola darurat ketika arus kedatangan melampaui kapasitas penanganan di wilayah kantong.