Internasional

Ceuta Spanyol Dibanjiri Migran: Perkiraan 49.000 Orang Masuk dalam 24 Jam

×

Ceuta Spanyol Dibanjiri Migran: Perkiraan 49.000 Orang Masuk dalam 24 Jam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: About 49,000 migrants enter Spanish territory of Ceuta, officials say

jurnalistik.co.id – Otoritas Spanyol memperkirakan sekitar 49.000 migran telah menyeberang dan masuk ke wilayah Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, dari Maroko, dalam 24 jam terakhir. Estimasi itu bahkan melampaui separuh populasi kota yang saat ini sekitar 83.600 jiwa.

Media menunjukkan kerumunan besar yang melakukan penyeberangan melalui laut dan darat. Sejumlah video dan foto memperlihatkan ribuan orang berenang menuju kota pada hari Kamis, sementara pemberitaan lokal menyebut arus penyeberangan berlanjut hingga malam.

Pihak pejabat mengatakan setidaknya 18 orang meninggal dunia saat berupaya mencapai Ceuta dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa ini muncul setelah putusan Mahkamah Agung Spanyol pada bulan ini yang menyatakan migran yang berhenti di laut ketika hendak mencapai Ceuta atau Melilla tidak bisa dikembalikan secara ringkas ke Maroko.

Ceuta terletak di pesisir utara Maroko dan terpisah dari daratan Spanyol oleh Selat Gibraltar. Wilayah ini sudah lama menjadi titik fokus upaya migrasi menuju Eropa.

Dalam situasi yang disebut berlangsung kacau pada Kamis, pengawasan perbatasan dilaporkan mengalami gangguan. Otoritas daerah sebelumnya telah mengajukan permintaan bantuan kepada Madrid setelah peningkatan upaya penyeberangan, tetapi adegan di perbatasan menunjukkan kendali yang tidak berjalan seperti biasa.

Lonjakan yang terjadi membuat jumlah masuk dalam sehari diperkirakan “lebih dari setengah populasi” Ceuta. Setelah gelombang tersebut, Spanyol kemudian mengerahkan angkatan bersenjata untuk memperkuat keamanan di Ceuta, serta di kota saudara, Melilla.

Di Melilla, juga dilaporkan ada antara 300 sampai 400 upaya penyeberangan pada malam hari. Kedua wilayah ini telah lama menjadi sumber ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Maroko.

Madrid menegaskan Ceuta dan Melilla merupakan bagian integral Spanyol dan memiliki status yang sama seperti wilayah otonom semi-otonom di daratan. Keduanya memiliki jejak sejarah Spanyol sejak abad ke-15 dan memperoleh pemerintahan sendiri tingkat terbatas sebagai Komunitas Otonom sejak 1995.

Ceuta dan Melilla juga menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Dalam konteks itu, arus masuk migran yang tiba cepat dalam tempo singkat langsung memicu reaksi politik dan keamanan dari berbagai pihak.

Menurut perkiraan pejabat, banyak orang yang menyeberang berasal dari kelompok usia muda, terutama laki-laki. Namun terdapat juga perempuan, anak-anak, bahkan bayi dalam kerumunan yang datang.

Pejabat memperkirakan setidaknya 7.000 dari mereka yang masuk secara ilegal dalam 24 jam terakhir adalah anak di bawah umur. Biasanya, untuk mencapai Ceuta, migran harus berenang beberapa kilometer dari bagian pesisir yang lebih jauh.

Pada kejadian kali ini, kelompok-kelompok tersebut tampak mampu mendekati pagar perbatasan dengan relatif mudah. Pada tahap awal, beberapa orang bahkan berjalan di bebatuan dermaga, lalu setelah itu sebagian besar harus berenang lebih jauh serta mengitari area tertentu untuk mencapai pantai di sisi seberang.

Belum jelas di titik mana pengawal perbatasan Maroko berada dan mengapa kelompok-kelompok tersebut tidak segera dibubarkan atau dihentikan. Ketidakjelasan ini ikut memperkuat kesan bahwa situasi di perbatasan pada Kamis berlangsung tidak terkendali.

Seorang migran yang berbicara kepada kantor berita Reuters mengatakan ia kembali ke Maroko. Ia menyampaikan: “It’s not good at all, and it’s not fun either. “I mean, people are dying here. I beg you, please, if you haven’t come yet, don’t come. Don’t do it.”

Warga lokal juga melaporkan suasana takut dan cemas sejak Kamis. Salah satu warga kepada surat kabar Spanyol ABC mengatakan orang-orang enggan keluar karena takut.

Seorang petugas keamanan rumah sakit mengatakan: “This is stronger and more aggressive than what we’ve experienced before,”. Sementara itu, orang lain yang berbicara kepada media tersebut menyatakan para pelintas ke wilayah itu bukan kelompok yang “poor or needy”, melainkan datang untuk menekan sistem.

Ia mengatakan: “They are coming to Spain to abuse the system,”. Seorang migran bernama Yassine, usia 24 tahun, mengatakan ia tidak bisa kembali ke Maroko dan menyebut: “I have nothing there, Morocco is death,”.

Arus masuk pada Kamis mengikuti beberapa hari meningkatnya kedatangan migran yang berenang menuju Ceuta. Dalam laporan tersebut, keberhasilan penyeberangan tampaknya menyebar cepat sehingga mendorong lebih banyak orang mencoba jalur serupa.

Lonjakan terbesar sebelumnya terjadi pada 2021, meski skalanya tidak sebesar kali ini. Pada saat itu, otoritas Maroko mengizinkan sekitar 8.000 orang menyeberang setelah sengketa dengan Madrid menyangkut kedaulatan wilayah Sahara Barat.

Sengketa diplomatik tersebut kembali memanas belakangan ini, setelah Perdana Menteri Pedro Sánchez melakukan kunjungan ke Aljazair. Aljazair diketahui mendukung kemerdekaan wilayah tersebut.

Departemen dalam negeri Spanyol mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Maroko untuk memastikan pengembalian seluruh orang yang menyeberang secara ilegal ke wilayah Spanyol. Mereka menyebut upaya itu dilakukan “as soon as possible”.

Sánchez juga dijadwalkan berkunjung ke Ceuta pada Jumat. Di tengah situasi itu, respons Eropa tidak hanya datang dari internal Spanyol, tetapi juga dari negara lain yang mengaitkan isu migrasi dengan keamanan kawasan.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menilai peristiwa di Ceuta sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Ia menyebut gambar-gambar yang beredar “shocking” dan menulis di media sosial bahwa “uncontrolled immigration” menjadi ancaman keamanan bagi Eropa.

Meloni menyatakan Italia mempertimbangkan penghentian perjanjian Schengen dengan Spanyol terkait kebebasan bergerak, meski belum jelas bagaimana penerapannya mengingat Italia dan Spanyol bukan tetangga langsung. Dalam klarifikasi lanjutan, Kementerian Luar Negeri Italia menyebut tanggapannya menuntut penghentian kesepakatan Schengen di perbatasan Italia-Spanyol, bukan penghapusan Spanyol dari Schengen secara keseluruhan.

Dalam praktiknya, para migran yang tiba di Ceuta tidak berada di daratan Spanyol. Mereka “terkunci” di wilayah enklaf tersebut, bukan melanjutkan perjalanan ke wilayah utama Spanyol.

Pernyataan Meloni juga sejalan dengan komentar dari Menlu Italia Antonio Tajani, yang sebelumnya dituduh oleh rekan sejawatnya di Spanyol memanfaatkan isu migrasi untuk tujuan politik. Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menyebut komentar semacam itu “improper” bagi “a partner and friendly country” yang seharusnya mengedepankan solidaritas Eropa, bukan retorika partisan.

Albares juga memanggil duta besar Italia di Madrid pada Jumat. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Finlandia Mari Rantanen mendukung usulan Meloni dan menyatakan Spanyol gagal melindungi perbatasannya.

Dalam konteks Eropa, Area Schengen adalah sistem perbatasan terbuka yang mencakup 29 negara Eropa. Sejak kesepakatan diberlakukan, kontrol di perbatasan bersama resmi ditiadakan di antara negara-negara anggota.