Pendidikan

Panduan Mengatasi Komedo Membandel dari Dokter Kulit

×

Panduan Mengatasi Komedo Membandel dari Dokter Kulit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cara Menghilangkan Komedo Membandel Menurut Dokter Kulit

jurnalistik.co.id – Komedo hitam yang terasa membandel sering membuat orang ingin segera “mengeluarkan” sumbatan dari pori. Namun, dokter kulit menekankan bahwa langkah yang dilakukan di rumah perlu tepat, karena kebiasaan memencet dapat memperparah kondisi kulit.

Komedo yang bermasalah umumnya berkaitan dengan minyak berlebih dan penumpukan sel kulit mati. Dalam istilah medis, komedo hitam dikenal sebagai open comedone atau komedo terbuka, yaitu sumbatan pada pori yang terbentuk dari campuran sebum dan sel kulit mati.

dr. Jessie Cheung menjelaskan, “Komedo terbentuk ketika sebum terperangkap bersama sel kulit mati di permukaan pori-pori,” seperti dikutip dari Allure. Ia juga menegaskan, warna hitam pada komedo bukan karena kotoran yang menempel di kulit.

Menurut dr. Jessie, warna tersebut muncul karena minyak yang terpapar udara mengalami proses oksidasi. Pernyataan serupa datang dari dr. Rachel Nazarian, yang mengatakan, “Memiliki komedo bukan berarti kulit Anda kotor.”

Karena itu, fokus perawatan seharusnya bukan pada membersihkan “kotoran”, melainkan mengatasi sumbatan di pori. Penanganan yang salah justru membuat pori semakin sulit dibersihkan.

Pahami penyebab komedo membandel

dr. Carmen Castilla menyebut produksi minyak berlebih sebagai salah satu penyebab utama. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi faktor genetik maupun perubahan hormon.

Pada orang dengan kulit berminyak, komedo sering tampak lebih jelas karena pori cenderung lebih besar. Selain itu, penggunaan produk perawatan kulit yang terlalu oklusif—hingga membentuk lapisan rapat di permukaan kulit—juga dapat meningkatkan risiko pori tersumbat.

Dengan kata lain, komedo bisa muncul karena kombinasi sebum, sel kulit mati, dan faktor kebiasaan maupun produk yang dipakai. Jika akar penyumbatannya tidak ditangani, komedo dapat terasa “tidak hilang-hilang”.

Hindari kebiasaan memencet komedo

Keinginan untuk memencet komedo memang sering muncul karena terasa cepat. Akan tetapi, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan oleh dokter kulit.

Dr. Jessie mengingatkan bahwa tekanan saat memencet dapat mendorong sumbatan masuk lebih dalam ke kulit. Kondisi ini turut meningkatkan risiko terbentuknya jaringan parut.

Di sisi lain, dr. Carmen menekankan bahwa tangan yang tidak steril dapat membawa bakteri. Akibatnya, bukannya membaik, kulit justru bisa mengalami masalah lanjutan seperti infeksi.

Karena itu, meskipun komedo tampak “keluar” sesaat, efeknya berpotensi membuat pori dan area sekitar semakin sulit pulih. Dokter kulit lebih mendorong pendekatan yang menjaga keamanan kulit.

Komedo bisa hilang, tetapi tergantung letaknya

Ketika komedo terasa membandel, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah sumbatan bisa hilang sendiri. dr. Carmen menjelaskan bahwa jawabannya bergantung pada letaknya.

Untuk komedo yang kecil dan berada dekat permukaan kulit, masih ada peluang dapat diatasi. Sebaliknya, komedo yang terletak di bagian kulit yang lebih dalam biasanya memerlukan tindakan ekstraksi oleh tenaga profesional.

Penjelasan ini penting agar orang tidak memaksakan perlakuan yang sebenarnya tidak sesuai kedalaman sumbatan. Jika lokasinya lebih dalam, upaya mandiri cenderung lebih berisiko daripada memberi hasil.

Pilih bahan aktif, bukan ekstraksi sendiri

Bagi yang ingin mengatasi komedo di rumah, para dokter kulit lebih menyarankan penggunaan bahan aktif dibanding ekstraksi sendiri. Pendekatan ini bertujuan memecah penumpukan sel kulit mati yang menyumbat pori tanpa alat ekstraksi.

Bahan keratolitik seperti asam salisilat, retinol, maupun asam glikolat disebut dapat membantu mengurai penumpukan tersebut. Dengan cara kerja itu, pori tidak hanya dibersihkan secara permukaan, tetapi proses penyumbatan dapat ditangani.

dr. Joshua Zeichner menegaskan, “Asam salisilat merupakan bahan utama yang sebaiknya dicari jika Anda memiliki komedo,” seperti dikutip dari Allure. Ia menjelaskan bahwa asam salisilat termasuk golongan beta hydroxy acid (BHA).

Sebagai BHA, asam salisilat mampu melarutkan minyak sekaligus mengeksfoliasi sel kulit mati. Kombinasi ini membuat perawatan lebih efektif untuk membantu membersihkan pori.

Namun, penggunaan scrub yang mengandung bahan tersebut perlu dibatasi. dr. Shari Marchbein menyarankan maksimal tiga kali seminggu untuk kulit berminyak dan satu kali seminggu bagi kulit sensitif.

Dengan pembatasan frekuensi, kulit tetap mendapatkan manfaat dari bahan aktif tanpa menambah iritasi yang tidak perlu. Dokter kulit juga mengisyaratkan bahwa konsistensi dan kesesuaian dengan jenis kulit menjadi bagian penting dari strategi mengatasi komedo.

Intinya, komedo membandel tidak harus dikejar dengan tindakan memencet. Lebih aman memprioritaskan bahan aktif seperti asam salisilat, retinol, dan asam glikolat, serta menerima bahwa komedo yang lebih dalam mungkin perlu penanganan profesional.