Entertainment

Fans Nilai Love Island UK Bermasalah: ‘there’s not much love’

×

Fans Nilai Love Island UK Bermasalah: ‘there’s not much love’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Love Island UK has a problem, say fans - 'there's not much love'

jurnalistik.co.id – Penonton, komentator, dan mantan peserta Love Island UK menilai format acara realitas kencan itu sedang menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya tariknya. Musim ke-13 yang ditutup pada Senin lalu membawa nama Julia Majchrzak dan Lorenzo Alessi sebagai pemenang, tetapi sejumlah suara menyebut romansa tidak lagi terasa sehangat yang diharapkan.

Pada bagian final, ITV melaporkan rata-rata audiens 1,1 juta penonton di semua perangkat, termasuk streaming. Angka itu turun dibanding musim sebelumnya yang memiliki 1,3 juta penonton pada basis overnight.

Perbandingan dengan masa kejayaan juga membuat beberapa orang makin vokal. Pada 2019, seri kelima memecahkan rekor tayangan dengan 6 juta penonton menonton episode setelah Casa Amor, dan final tahun itu menjadi yang tertinggi sepanjang waktu.

ITV juga menjelaskan bahwa angka 2019 yang sering dirujuk adalah angka terkonsolidasi yang baru diperoleh setelah “menerima seluruh data pasca-final”, sehingga mereka belum memiliki figur “equitable” untuk seri ke-13. Sementara itu, jaringan menyebut lebih dari 60% audiens kini berinteraksi lewat streaming, termasuk bersama program pendamping seperti Aftersun dan The Debrief di ITVX, yang menurut ITV telah mencatat lebih dari 180 juta tayangan.

Romansa dinilai kurang menonjol

Content creator Sarel, yang dikenal lewat rangkuman dan pembahasan Love Island di TikTok dengan 1,2 juta pengikut, mengatakan masalah paling besar pada edisi UK kali ini adalah “there hasn’t been much love” di antara pasangan-pasangan. Ia mengaku tidak “mengakar” pada siapa pun di akhir acara, karena baginya inti tayangan seharusnya romansa—bukan sekadar percakapan atau drama.

Sarel menilai konflik dan obrolan lebih tepat disebut “added extras”, sedangkan cerita jatuh cinta harus menjadi pusat perhatian. Ia menuturkan, “I want somebody to fall in love. I love stories where we get the butterfly moments,” serta menyebut momen seperti saat pasangan Indiyah Polack dan Dami Hope saling berlari, maupun kisah Molly-Mae dan Tommy.

Ia juga merasa pendekatan versi AS lebih berhasil menghadirkan dinamika yang membuat penonton merasa semua orang benar-benar tertarik satu sama lain. Menurutnya, tidak ada “box” atau batasan yang harus dipatuhi sehingga relasi yang terbentuk terasa lebih natural.

Kesegaran format dan dorongan media sosial

Aaron Evans dari Inggris—yang memilih mengikuti versi AS—menyatakan kesuksesan acara di Amerika didukung oleh “fresh eyes” terhadap format serta besarnya kehadiran di media sosial. Ia menambahkan bahwa keterlibatan online membuat acara terasa sangat menarik bagi audiens.

Data yang diberikan Newsbeat melalui TikTok turut memperkuat klaim tersebut. Selama seri terbaru, hashtag #LoveIsland disebut dalam 123.000 unggahan di Inggris dan #LoveIslandUK muncul dalam 88.000 unggahan. Di Amerika, #LoveIsland muncul dalam 1,09 juta unggahan dan #LoveIslandUSA ditandai 502.000 kali. Namun, disebut juga bahwa ukuran populasi AS hampir lima kali lebih besar daripada Inggris.

Jurnalis hiburan Carly Thomas, yang bekerja untuk The Hollywood Reporter, mengatakan produser eksekutif menyampaikan mereka mencari cara untuk “bring in the US audience”. Thomas menilai audiens AS cenderung ingin “relate and connect with people”, sehingga keterlibatan serta kedekatan dengan penonton menjadi faktor penting.

Ia juga merasa versi AS berupaya “push the limits” lewat tantangan yang lebih intens. Penonton, menurutnya, senang menyaksikan sejauh mana para peserta bersedia melangkah, termasuk momen ketika rapper Megan Thee Stallion menjadi pembawa acara tantangan yang membuat mereka duduk di atas kue lalu saling melempar.

Catatan perjalanan versi AS dan perbedaan durasi

Meskipun demikian, versi AS tidak selalu berjalan mulus. Pada seri tahun lalu, para kontestan menghadapi perundungan daring yang terus-menerus hingga acara menyiarkan pernyataan bahwa mereka tidak mentoleransi “cyberbullying, harassment or hate”. Acara tersebut menegaskan mereka menaruh perhatian serius pada duty of care.

Soal jadwal, versi AS biasanya tayang enam minggu setiap tahun, sementara edisi musim panas UK umumnya berlangsung delapan minggu. Di UK juga ada tambahan seri sepanjang tahun, termasuk edisi musim dingin yang tayang pada 2020 dan 2023, yang kemudian digantikan oleh All Stars. Final dari All Stars edisi ketiga—yang menghadirkan kembali mantan peserta ke vila—menarik sekitar 910.000 penonton pada awal tahun ini.

Perubahan di UK dinilai “overproduced” oleh sebagian penonton

Pada musim UK terbaru, produser mencoba menaikkan tensi dan meningkatkan performa di TikTok lewat beberapa variasi. Sejumlah peserta dipanggil untuk sleepover di vila berbeda sebelum Casa Amor, dan untuk pertama kalinya hanya tiga pasangan yang masuk final setelah dua pasang secara dramatis “dibuang” dari acara.

Sebagian penggemar menghargai perubahan itu, tetapi tidak sedikit yang merasa pendekatan tersebut tidak tepat sasaran. Dami Amoo—superfan yang menonton setiap episode edisi UK, AS, dan All Stars—berpendapat serial UK mulai terasa “overproduced”. Ia menyatakan, “I do think it’s been on a steady decline because they’re trying to give us what we want, but then they’re overdoing it and then they’re taking away the classic [elements].”

Amoo menilai acara mulai mengurangi elemen-elemen klasik yang biasanya menghadirkan tanggal yang seru serta aktivitas atau permainan yang memperlihatkan kepribadian peserta. Ia juga mengaitkan perubahan itu pada keterbatasan anggaran, meski ia mengakui versi AS terasa lebih matang berkat investasi yang terlihat dalam properti dan elemen produksi, termasuk brand yang terintegrasi.

Menurut Amoo, pada versi AS terdapat investasi besar pada props dan permainan, sehingga merek-merek menjadi bagian dari produksi itu sendiri. Ia membandingkannya dengan versi UK yang—di matanya—terkesan hanya “di sebuah pulau” dan para peserta menjalani acara secara mandiri tanpa hype yang sama, termasuk minimnya kontribusi figur selebritas Inggris dalam diskusi.

Branding dan strategi iklan di AS

Sementara itu, Evans tidak terkejut jika versi AS lebih agresif memanfaatkan kemitraan merek. Ia menyebut segalanya terdengar lebih besar, lebih terang, dan “everything’s just very American”. Peacock juga menyampaikan versi AS mampu menghasilkan pendapatan dengan menjadi ruang besar bagi iklan, dengan banyak content partner dan lebih dari 1.000 media partner.

Menjelang peluncuran berikutnya, Dami Amoo berpandangan produser UK sebaiknya “get some real fans in the production room”. Ia ingin orang-orang yang melakukan debrief online serta yang aktif berdiskusi di Twitter dilibatkan langsung agar tim betul-betul mendengar apa yang penonton inginkan.

Seorang juru bicara ITV menegaskan bahwa respons dari penggemar berada di jantung acara, terlihat dari voting publik dan juga pendapat yang ikut dimasukkan dalam tantangan. Mereka menambahkan Love Island UK terus memiliki relevansi budaya besar, baik di Inggris maupun di AS, dan hingga kini telah mengumpulkan “over 2bn streams on ITVX” serta tetap menjadi acara terbesar untuk segmen usia 16-34 di televisi komersial.