jurnalistik.co.id – Hari Raya Karo di kawasan lereng Gunung Bromo tidak hanya dirayakan sebagai agenda tahunan. Bagi masyarakat Suku Tengger, peringatan itu dimaknai sebagai penanda kisah asal-usul manusia—dari sangkan paraning dumadi hingga kelahiran keturunan.
Rabu, 29/7/2026, suasana Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur terasa khidmat saat suara tiupan terompet bambu dan tabuhan gendang khas Bromo mengalun di sepanjang jalan menuju kantor desa.
Ratusan warga Tengger yang mengenakan busana serba hitam serta ikat kepala udeng berjalan bersama menuju lokasi upacara. Langkah mereka diiringi ritme musik, seolah menegaskan bahwa momen tersebut adalah bagian dari ingatan kolektif yang terus dijaga.
Tepat memasuki bulan kedua pada kalender Tengger—dua bulan usai Yadnya Kasada—masyarakat Hindu Tengger merayakan Hari Raya Yadnya Karo 1948 Saka. Perayaan ini menjadi ruang untuk merawat makna spiritual sekaligus meneruskan tradisi yang diwariskan leluhur.
Tari Sodoran sebagai pembuka ritual
Rangkaian pembuka Hari Raya Karo ditandai oleh Tari Sodoran yang dipentaskan melalui tradisi mblarai di atas panggung utama. Di dalam pertunjukan itu, gerak para penari hadir bukan sekadar sebagai atraksi, melainkan sebagai bahasa upacara.
Para penampil berasal dari 14 desa di Kecamatan Tosari dan Tutur yang tampil bergiliran. Setiap kelompok membawa rangkaian gerakan khas yang sarat simbol, sehingga pertunjukan terasa seperti jalinan cerita yang berkesinambungan.
Sejumlah unsur khas ikut menandai keunikan Tari Sodoran, terutama penggunaan tongkat bambu wuluh sebagai properti utama. Setiap kelompok penari membawa 12 buah tongkat bambu wuluh, yang melambangkan jumlah 12 bulan dalam kurun waktu satu tahun kalender.
Latihan panjang, kesucian irama
Berita Terkait
Bagi para pemuda desa setempat, membawakan tarian sakral ini bukan pekerjaan yang instan. Mereka harus menjalani latihan intensif selama 15 hingga 20 hari demi menghafal setiap gerakan sekaligus menjaga kesucian irama tarian.
Meski membutuhkan persiapan matang dan fokus penuh, para penari tetap mengungkapkan kebanggaan karena dapat melestarikan warisan leluhur. Salah satu penari dari Desa Keduwung mengatakan, “Kalau sudah terbiasa sih ya tidak terlalu grogi.”
Di lokasi acara, Arya Kakanda menjelaskan bahwa tradisi Karo diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas hadirnya leluhur Tengger. Ia menyampaikan, “Tujuan diselenggarakannya tradisi Karo ini sebagai wujud ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas diciptakannya Joko Seger dan Roro Anteng sebagai leluhur Bromo dan 25 keturunannya.”
Penjelasan tersebut menegaskan hubungan erat antara gerak tarian, simbolisasi, dan tujuan spiritual perayaan. Tari Sodoran diposisikan sebagai jembatan untuk menyampaikan rasa terima kasih, sekaligus menguatkan cerita tentang awal mula keberadaan manusia dalam versi keyakinan Tengger.
Sesudah ritual, silaturahmi menguat
Usai pertunjukan Tari Sodoran dan doa bersama selesai digelar, suasana khidmat perlahan berubah menjadi kehangatan di tengah warga. Hari Raya Karo kemudian menjadi momentum emas untuk mempererat tali silaturahmi masyarakat Tengger dari Brang Kulon.
Sesuai tradisi, setelah ritual berlangsung di kantor desa, warga akan saling berkunjung ke rumah sanak saudara maupun tetangga dekat. Pola perjumpaan itu membuat perayaan tidak berhenti pada kegiatan upacara saja, melainkan berlanjut dalam relasi sehari-hari.
Tokoh masyarakat setempat, Agus Stya Wardhana, menjelaskan bahwa perayaan Hari Raya Karo menjadi sarana menjaga keharmonisan dan keeratan kekerabatan masyarakat Tengger yang telah terjalin selama berabad-abad. Ia menegaskan, “Tari Sodoran ini bagian dari nilai-nilai pesan moral dalam rangkaian Hari Raya Karo dan ini akan kami jaga.”
Melalui dentuman musik tradisional, hentakan langkah penari, serta kebersamaan warga setelah ritual, Hari Raya Karo terus berfungsi sebagai benteng pelestarian budaya lokal di kaki Gunung Bromo. Di saat yang sama, makna sangkan paraning dumadi tetap hidup dalam cara masyarakat Tengger merayakan hari besar mereka.






