jurnalistik.co.id – Harga Bitcoin bergerak melemah tajam di awal akhir pekan, hingga sempat menembus level di bawah US$77.000. Posisi itu membuat aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar mencatat titik terendah sejak September.
Penurunan ini terjadi ketika sentimen pasar diguncang kabar peretasan besar yang menimpa Binance, salah satu platform kripto terbesar. Dampak gangguan keamanan tersebut ikut mendorong pelaku pasar merespons dengan menekan nilai aset.
Dalam 24 jam terakhir, perdagangan Bitcoin sempat berada di angka serendah US$76.487 sebelum akhirnya koreksi berbalik dan menunjukkan pemulihan tipis. Pada Jumat, 30/10/2026, pukul 11.20 WIB, harga Bitcoin bergerak di kisaran US$77.940 hingga US$78.065.
Secara pergerakan harian, Bitcoin tercatat turun sekitar 2% dibandingkan perdagangan Kamis. Dibandingkan posisi di bulan September, kinerjanya juga masih berada di wilayah merah, yakni -6,3%.
Tekanan masih terasa pada basis tahun berjalan. Sejak awal tahun (year to date/YTD), Bitcoin membukukan penurunan sekitar -2,45%, sehingga tren pelemahan tetap menjadi perhatian investor.
Di luar Bitcoin, mata uang kripto lain ikut melemah. Ethereum turun 2,98% dalam 24 jam terakhir dan berada di level US$2.238, sementara XRP turun 2,91% ke US$1,25.
Berita Terkait
Adapun Solana turun 2,44% dan Doge melemah 2,24% pada periode yang sama. Pola penurunan yang menyebar pada beberapa aset besar menunjukkan bahwa koreksi tidak hanya terfokus pada satu koin.
Kondisi ini juga sejalan dengan kabar kerugian yang dikaitkan dengan insiden peretasan terhadap Binance. Dalam pemberitaan, disebutkan Binance mengalami kerugian sekitar lebih dari Rp45 triliun akibat serangan tersebut, yang ikut memperkuat kekhawatiran pasar.
Dengan pergerakan yang masih berfluktuasi, pelaku pasar cenderung menunggu kejelasan lanjutan terkait dampak keamanan dan pemulihan operasional dari pihak bursa. Hingga jam perdagangan siang WIB, rentang harga Bitcoin masih berada pada area yang relatif tertekan dibanding level-level sebelumnya.
Lonjakan pelemahan yang sempat membawa Bitcoin ke bawah US$77.000 tidak hanya berhenti pada fase penurunan awal. Pergerakan berikutnya justru menunjukkan pola “jual saat melemah” yang masih terasa, meski kemudian ada upaya perbaikan harga. Koreksi tipis yang muncul setelah menyentuh area US$76.487 memberi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar mencoba menyeimbangkan posisi, tetapi skalanya masih terbatas.
Jika dilihat dari konteks yang lebih luas, posisi Bitcoin yang tetap berada di wilayah merah sejak September membuat investor cenderung berhati-hati. Penurunan sekitar -6,3% dari capaian akhir periode September memperlihatkan bahwa pemulihan yang terjadi belum mampu mengubah arah tren. Pada saat yang sama, tekanan juga merembet pada penguatan sentimen yang biasanya muncul setelah awal minggu, sehingga dinamika cenderung lebih menunggu.
Di sisi lain, skenario yang terkait insiden keamanan di Binance memperbesar ketidakpastian pelaku pasar terhadap kelanjutan operasional dan pemrosesan transaksi. Kondisi ini tercermin dari respons harga yang cepat saat kabar peretasan menyebar, lalu memunculkan mode penilaian ulang risiko. Dengan adanya estimasi kerugian lebih dari Rp45 triliun yang disebut dalam pemberitaan, kekhawatiran tersebut ikut menjadi faktor penggerak utama volatilitas selama jam-jam perdagangan.
Kecenderungan pelemahan yang tersebar pada aset kripto lain juga menegaskan bahwa pergerakan tidak berdiri sendiri. Ethereum turun 2,98% ke US$2.238, sementara XRP melemah 2,91% ke US$1,25; pola yang serupa juga tampak pada Solana yang turun 2,44% dan Doge yang melemah 2,24%. Karena banyak aset bergerak searah pada periode yang sama, investor umumnya memilih menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum memperbesar posisi, sehingga rentang harga Bitcoin cenderung bergerak dengan kecenderungan tertekan.












