Teknologi

BRIN Mengembangkan Terapi Fotodinamik Kanker Paru Berbasis Sinar-X

×

BRIN Mengembangkan Terapi Fotodinamik Kanker Paru Berbasis Sinar-X

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: RI Kembangkan Terapi Kanker Paru Pakai Ini

jurnalistik.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan pendekatan terapi untuk kanker paru. Program riset ini menempatkan terapi fotodinamik (PDT) sebagai basis, namun dengan pemanfaatan sinar-X dalam prosesnya.

Dalam pengembangannya, BRIN memadukan PDT dengan fotosensitizer khusus yang berasal dari nanopartikel hidroksiapatit terdoping zirkonium (HApZr). Nantinya, sistem tersebut dirancang untuk bekerja di dalam tubuh dan menargetkan sel-sel kanker paru.

Pengembang obat sekaligus peneliti ahli muda dari Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), Muhammad Basit Febrian, menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari temuan penelitian terdahulu. Fokusnya ada pada nanopartikel hidroksiapatit terdoping zirkonium (HApZr) yang menunjukkan efek sitotoksik pada sel kanker paru.

Dengan dasar tersebut, HApZr dinilai berpotensi menjadi kandidat pengobatan kanker paru. Harapannya, mekanisme yang dibangun dapat mendukung terapi yang lebih terarah serta memberi dampak pada sel yang sakit.

Target penghantaran obat dan pembentukan efek fotodinamik

Basit menyoroti penggunaan nanopartikel sebagai sistem penghantaran obat sekaligus agen fotosensitizer. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam kutipan resmi yang menyebut bahwa “Penggunaan nanopartikel ini sebagai sistem penghantaran obat dan sebagai agen fotosensitizer yang mampu terakumulasi secara cepat di dalam sel dan terdistribusi ke organ target,” kata Basit, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (5/9/2026).

Dalam studi yang dilakukan, BRIN juga menilai pembentukan reactive oxygen spesies (ROS). Pengukuran ini dilakukan untuk melihat respons biologis yang muncul ketika nanopartikel dipadukan dengan perlakuan radiasi sesuai skema riset.

Sebagai pembanding, hidrogen peroksida digunakan sebagai kontrol positif. Hasilnya menunjukkan intensitas yang sebanding dengan sel yang diradiasi tanpa HApZr, sehingga peran nanopartikel dalam memicu proses terkait ROS dapat dibandingkan secara terukur.

Uji migrasi dan sitotoksisitas pada sel kanker

Selain pengamatan terhadap ROS, penelitian juga diarahkan untuk mengevaluasi perilaku nanopartikel terhadap sel kanker. Basit menjelaskan bahwa proses evaluasi dilakukan melalui uji sitotoksisitas dan pewarnaan sel.

Ia menegaskan, “Kami melakukan uji sitotoksisitas dan pewarnaan sel untuk mengevaluasi migrasi nanopartikel ke dalam sel kanker,” jelas Basit. Dari pendekatan ini, tim dapat menilai apakah nanopartikel benar-benar masuk ke dalam sel yang menjadi target.

Langkah berikutnya adalah pembuktian melalui uji pada hewan. Menurut laporan riset, hasil pengujian menunjukkan akumulasi radionuklida Sc bebas pada paru-paru yang memiliki tumor relatif rendah.

Perbandingan perlakuan juga ditampilkan dalam studi kelangsungan hidup. Hewan uji coba dengan perlakuan HApZr mendapatkan dosis radiasi 25 Gy dan dapat bertahan hidup, sedangkan hewan uji yang tidak mendapatkan perlakuan serupa hanya bertahan dua hari.

Evaluasi dosis dan keamanan pada hewan uji

BRIN juga menetapkan batas dosis maksimum yang direkomendasikan untuk nanopartikel HApZr. Dosis maksimum yang dimaksud adalah 0,5 mg/kg berat badan.

Penetapan ini merujuk pada evaluasi toksisitas akut. Dalam laporan disebutkan tidak ada efek samping hingga kematian pada hewan uji yang menjadi dasar penilaian keamanan.

Melalui rangkaian uji tersebut, riset menempatkan aspek efikasi dan keamanan sebagai bagian yang saling melengkapi. Dengan begitu, pengembangan terapi fotodinamik berbasis sinar-X tidak hanya berhenti pada potensi efek pada sel, tetapi juga memperhitungkan respons dalam sistem yang lebih kompleks.

Kolaborasi riset dan harapan manfaat untuk terapi kanker paru

Penelitian ini dikerjakan melalui BRIN melalui Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), serta Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi. Kerja sama riset juga melibatkan Universitas Padjadjaran dan Universitas Maranatha.

Basit menekankan bahwa target riset tidak hanya pada sisi keilmuan. Ia berharap penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang radiofarmaka dan terapi kanker, tetapi juga memberikan manfaat untuk terapi kanker paru yang lebih efektif dan minim efek samping, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup serta angka harapan hidup pasien kanker paru, sebagaimana ia pungkas.

Dengan alur uji yang mencakup evaluasi ROS, uji migrasi dan sitotoksisitas, hingga pengamatan pada hewan, BRIN memposisikan PDT berbasis sinar-X dengan nanopartikel HApZr sebagai salah satu jalur potensial untuk pengembangan terapi kanker paru di masa mendatang.