jurnalistik.co.id – Rentetan erupsi Gunung Api Anak Krakatau pada 4–5 September 2024 menarik perhatian publik, sekaligus memunculkan kembali diskusi soal potensi dampak besar yang pernah terjadi pada letusan Krakatau tahun 1883.
Aktivitas vulkanik itu berlangsung sejak Jumat (4/9/2024) pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9/2024) pukul 04:40 WIB. Pergerakan aktivitas tersebut terjadi setelah status gunung itu kembali aktif sejak Juli 2026.
Dalam penilaian resmi pemerintah, Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan ancaman bencana tsunami sejauh ini masih berada pada batas aman. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilowati, menegaskan evaluasi dilakukan melalui pemantauan lapangan.
Rita menjelaskan, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi besar pada Desember 2018 masih tergolong kecil. Menurutnya, pengamatan dilakukan dari dua stasiun pengamatan, yakni di Pasauran dan Kalianda.
“Pertumbuhan tubuh gunung api saat ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ungkap Rita dalam konferensi pers online pada Sabtu (5/9).
Ia menyertakan konteks historis sebagai pembanding. Tsunami pada 22 Desember 2018, menurut penjelasan yang sama, terjadi akibat longsoran besar sebagian tubuh gunung api ke laut.
Longsoran tersebut dipicu oleh rangkaian erupsi, sehingga massa air yang berpindah secara masif menerjang pesisir Banten serta Lampung. Kejadian itu menjadi alasan mengapa otoritas tetap berhati-hati pada penilaian potensi bahaya setelah fase peningkatan aktivitas.
Setelah bencana 2018, Gunung Anak Krakatau kemudian tercatat mengalami erupsi berskala rendah secara berkepanjangan hingga 16 Desember 2023. Fase tersebut dipandang sebagai bagian dari proses konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh gunung api.
Namun, menjelang 2026, eskalasi aktivitas kembali muncul. Aktivitas erupsi mengalami peningkatan pada 2 Juli 2026 yang membuat status gunung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Berita Terkait
Penjelasan BRIN soal dampak letusan dan jejak 1883
Di luar rilis otoritas geologi, peneliti BRIN juga menyoroti peristiwa erupsi pada 4–5 September 2024. Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyampaikan pandangannya melalui unggahan di akun X personalnya.
Erma menyatakan bahwa letusan Krakatau pada 1883 pernah menjadi perhatian dunia karena dampaknya yang luas. Ia menulis: “Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan Anak Krakatau atau Krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia.”
Dalam unggahan tersebut, Erma merinci beberapa poin terkait kondisi letusan. Ia menyebut berdasarkan pengamatan satelit hingga Sabtu (5/9) malam pukul 18:12 WIB, letusan piroklastik masih terjadi.
Lebih lanjut, Erma menjelaskan pergerakan letusan piroklastik bergerak ke arah barat sejauh 851 kilometer. Ia juga menyebut letusan membentuk awan pirocumulus, yaitu awan debu panas (ash cloud) yang mengandung sulfur oksida.
Pulau Enggano disebut termasuk wilayah yang dilingkupi awan tersebut. Penyebutan ini menekankan bahwa dampak letusan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di gunung, tetapi juga bagaimana material vulkanik bergerak mengikuti dinamika atmosfer.
Erma kemudian menambahkan gambaran dari simulasi. “Berdasarkan simulasi, letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya,” tulisnya.
Uraian tersebut menjadi bagian dari upaya membaca potensi perubahan sebaran awan piro berdasarkan kondisi angin dan tekanan setempat. Dengan demikian, perhatian publik pada erupsi ini tidak berhenti pada waktu kejadian, tetapi juga pada interpretasi pergerakan material vulkanik.
Di saat yang sama, penilaian Badan Geologi tetap menempatkan potensi tsunami dalam kategori aman pada evaluasi terkini. Pemeriksaan pertumbuhan tubuh gunung dan parameter kerawanan tetap menjadi kunci dalam memantau kemungkinan bahaya lanjutan.












