jurnalistik.co.id – BRIN mengkaji pati singkong sebagai alternatif pemadam kebakaran hutan dan lahan melalui pengembangan material retardan berbasis pati singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat. Kajian ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam pengendalian kebakaran vegetasi.
Dalam keterangan resminya, periset Kimia Molekuler BRIN, Julinton, menjelaskan bahwa dasar ilmiah penggunaan pati singkong dalam teknologi pemadam masih dapat dikembangkan lebih lanjut lewat rekayasa kimia dan formulasi. Penekanan utamanya berada pada kebutuhan validasi yang terukur sebelum penerapan yang lebih luas.
Dasar ilmiah, tapi tetap perlu uji terukur
“Pernyataan Bapak Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur,” ujarnya dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Menurut BRIN, potensi utama pati singkong terletak pada struktur polisakaridanya yang kaya gugus hidroksil. Gugus tersebut dapat dimodifikasi secara kimia untuk mengatur kemampuan pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan.
Dalam formulasi yang sedang dikembangkan, pati singkong tidak digunakan sebagai komponen tunggal. Bahan ini dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.
“Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas,” papar Julinton.
Ketika dipanaskan, APP menghasilkan spesies asam fosfat dan polifosfat. Proses ini disebut dapat mengatalisis dehidrasi material kaya selulosa dan polisakarida.
Hasil mekanisme tersebut mengarahkan proses pirolisis menuju pembentukan lebih banyak residu karbon padat atau char. Di saat yang sama, proses ini juga mengurangi pembentukan senyawa volatil yang mudah terbakar.
Lapisan char yang terbentuk kemudian berperan sebagai penghalang terhadap perpindahan panas dan massa. Lapisan ini juga membatasi kontak langsung antara permukaan bahan bakar dengan oksigen.
Dengan demikian, teknologi ini tidak bekerja dengan cara “menghilangkan oksigen” dari atmosfer. Mekanisme utamanya adalah pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi, sehingga laju perambatan api berpotensi ditekan.
Modifikasi dan optimasi formulasi
Julinton menjelaskan proses produksi inovasi ini bermula dari ekstraksi pati singkong mentah. Selanjutnya pati diproses melalui pemurnian serta dimodifikasi secara kimia agar memperoleh karakteristik fisikokimia dan reologi yang sesuai.
Berita Terkait
- BRIN Mengembangkan Terapi Fotodinamik Kanker Paru Berbasis Sinar-X
- KAI Resmi Pakai Biodiesel B50 di Lokomotif dan Kereta Pembangkit, Uji 55 Hari Diproyeksi Turunkan Emisi
- Klaim Flock kamera demi AS lebih aman, tapi justru disabotase—akhir Juli dan menyebar hingga Minnesota, California, serta Georgia
BRIN menyebut sejumlah jalur modifikasi akan dievaluasi, termasuk fosforilasi, cross-linking, atau modifikasi fungsional lainnya. Tujuannya adalah meningkatkan kestabilan formulasi, kemampuan membentuk film, retensi air, serta sinerginya dengan APP.
“Pati hasil modifikasi kemudian diformulasikan bersama APP atau komponen fosfat yang sesuai, wetting agent berkonsentrasi rendah, dan air. Komposisi masing-masing komponen tidak ditetapkan secara arbitrer, tetapi akan dioptimalkan berdasarkan viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman,” paparnya.
Untuk penggunaan di lapangan, desain operasionalnya dibuat tetap sederhana. Konsentrat atau bahan formulasi dicampurkan ke dalam tangki air sebelum dilakukan penyemprotan.
BRIN juga menyatakan konsentrasi optimum belum ditetapkan. Nilai tersebut akan ditentukan melalui penelitian agar formulasi memiliki kemampuan retensi yang baik tanpa menyebabkan viskositas berlebihan, sedimentasi, atau penyumbatan pada pompa dan nozzle.
Aplikasi udara dan darat, termasuk skema retardant line
Secara taktis, cairan retardan berbasis pati singkong-APP berpotensi dikembangkan untuk aplikasi udara maupun darat. Namun, formulasi untuk aplikasi udara harus memiliki viskositas dan distribusi ukuran droplet yang sesuai agar kehilangan akibat drift dan penguapan dapat diminimalkan tanpa mengganggu kemampuan pompa dan nozzle.
Untuk operasi berbasis drone, formulasi dapat diarahkan pada penyemprotan presisi di titik api awal. Selain itu, teknologi ini juga bisa digunakan untuk sisi atau flank kebakaran, spot fire, serta pembentukan garis retardan pada vegetasi yang belum terbakar.
Kamera termal disebut dapat dipakai untuk membantu identifikasi titik panas dan mengevaluasi potensi penyalaan kembali setelah penyemprotan.
Untuk operasi darat, armada pemadam dapat menyemprotkannya langsung pada bahan bakar vegetasi di sekitar titik api. Cara lain yang disebutkan adalah penyemprotan pada area yang perlu dilindungi.
Pendekatan lain adalah membentuk retardant line, yakni jalur vegetasi yang telah dilapisi bahan retardan untuk memperlambat perambatan api ke area berikutnya. Pada kebakaran berintensitas tinggi, teknologi ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti seluruh metode pemadaman yang telah tersedia.
Dalam penjelasan BRIN, CASSA-P dikembangkan terutama sebagai teknologi pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran, perlindungan area strategis, dan pemadaman spot fire. Penggunaannya tetap harus terintegrasi dengan personel darat dan sistem pemadaman lainnya.
Catatan keselamatan dan aspek lingkungan
BRIN menempatkan aspek lingkungan sebagai salah satu parameter utama penelitian. Walau pati singkong berasal dari biomassa terbarukan, formulasi akhir tidak dapat langsung diklaim “100 persen biodegradable” atau “tidak beracun”.
Keselamatan lingkungan CASSA-P disebut harus dibuktikan melalui pengujian biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air. Selain itu, pengujian juga mencakup kandungan serta pelepasan fosfat dan nitrogen, serta karakteristik residu setelah pembakaran.












