Teknologi

Cara mengamankan laptop, ponsel, dan sepeda dari pencuri saat kuliah

×

Cara mengamankan laptop, ponsel, dan sepeda dari pencuri saat kuliah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How to protect your laptop, phone and bike from thieves at uni

jurnalistik.co.id – Saat berangkat kuliah, laptop, ponsel, dan sepeda sering menjadi sasaran empuk pencuri karena nilai dan mobilitasnya tinggi. Menurut Aviva, tiga jenis barang inilah yang paling sering muncul dalam klaim asuransi mahasiswa ketika barang hilang.

Aviva menilai insiden pencurian menjadi penyebab dominan klaim asuransi siswa, bahkan berada di urutan teratas dibanding kerusakan yang tidak disengaja. Meski begitu, perusahaan asuransi tersebut tidak merinci berapa proporsi klaim yang berujung pada pembayaran.

“Laptops, computers and mobile phones play a vital role in student life, but they can also be attractive targets for opportunistic thieves due to their value and portability,” ujar Steven Jackson, home product manager Aviva. Pernyataan itu menegaskan bahwa peran perangkat dalam kehidupan mahasiswa berjalan beriringan dengan risiko menjadi target.

Dalam laporan BBC, Steven Jackson menjelaskan bahwa kasus kehilangan perangkat kerap terjadi di situasi sehari-hari, termasuk ketika barang dicuri dari tempat tinggal mahasiswa (digs), dari mobil, dari transportasi umum, serta dari bar dan restoran. Pola tersebut menunjukkan bahwa pencurian tidak selalu menunggu momen paling “mudah”, melainkan bisa terjadi saat perhatian sedang terpecah.

Barang yang paling sering jadi incaran

Aviva menyebut laptop, komputer, dan ponsel sebagai item yang paling sering masuk daftar klaim karena nilai dan portabilitasnya. Untuk mahasiswa, barang-baramg tersebut bukan hanya alat belajar, tetapi juga perangkat kerja dan komunikasi yang selalu dibawa ke berbagai tempat.

Karena itu, saat rutinitas kampus bertambah—mulai dari ke perpustakaan, kafe, hingga aktivitas di luar gedung—risikonya ikut meningkat. Pencuri kerap memanfaatkan situasi ketika pemilik lengah atau barang dibiarkan tanpa pengawasan.

Langkah pencegahan yang bisa dilakukan sejak awal

Steven Jackson menyarankan agar barang yang sangat mahal dan berbau sentimental tidak dibawa ke luar terlalu sering, melainkan ditinggalkan di rumah jika memungkinkan. Tujuannya sederhana: mengurangi godaan sekaligus memperkecil peluang kehilangan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya mengunci barang berharga dan menjaganya tetap tidak terlihat saat berada di luar. Kebiasaan menyembunyikan perangkat dapat membuat pencuri kehilangan “alasan cepat” untuk mengambil.

Nasihat berikutnya adalah tetap waspada terhadap kebiasaan menit-menitan yang tampak sepele. Ia mempertanyakan apakah mahasiswa benar-benar perlu meninggalkan tas atau laptop hanya untuk memesan tempat di kafe atau mencari posisi di perpustakaan.

Prinsipnya jelas: bila barang ditaruh tanpa pengawasan, sekalipun hanya sebentar, kesempatan pencurian tetap terbuka. Dalam praktiknya, momen-momen singkat seperti itu sering terjadi ketika mahasiswa sedang sibuk dengan aktivitas lain.

Memastikan jenis perlindungan yang benar

Selain pencegahan, BBC menyoroti hal penting lain: memastikan asuransi yang dimiliki sesuai kebutuhan mahasiswa. Association of British Insurers (ABI) menyarankan langkah awal berupa pengecekan status perlindungan yang sudah ada.

Beberapa asrama mahasiswa mungkin sudah menyertakan asuransi, sementara kebijakan orang tua bisa diperluas untuk menanggung anak. Jika perlindungan tersebut tidak mencakup barang yang diperlukan, opsi berikutnya adalah membeli contents insurance.

ABI menyebut contents insurance sebagai polis yang menanggung biaya penggantian atau perbaikan barang apabila rusak, hancur, atau dicuri. Dengan skema ini, pemilik diharapkan memperoleh rasa aman ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Namun, ABI menegaskan bahwa mahasiswa harus mengecek nilai pertanggungan secara spesifik. Termasuk memastikan apakah angka yang ditanggung cukup untuk mengganti seluruh barang, sampai batas nilai klaim untuk satu item.

Menghitung nilai pertanggungan dengan inventaris

Untuk mengetahui apakah perlindungan sudah memadai, ABI menyarankan membuat inventaris seluruh isi kepemilikan. Inventaris itu mencakup pakaian, perangkat elektronik, dan furnitur, lalu setiap item dijumlahkan berdasarkan perkiraan biaya untuk mengganti.

Dalam proses inventaris, perhatian khusus diperlukan pada barang dengan nilai tinggi seperti sepeda yang bagus. Anda mungkin perlu membayar tambahan bila ingin sepeda tersebut masuk dalam jangkauan nilai pertanggungan yang realistis.

Mahasiswa juga perlu mempertimbangkan barang yang dibawa keluar, bukan hanya yang dibiarkan di tempat tinggal. ABI menyinggung bahwa beberapa polis bisa memerlukan penyesuaian agar item yang dibawa beraktivitas tetap terlindungi.

Catatan untuk perlindungan kendaraan

ABI juga mengingatkan perbedaan konteks asuransi kendaraan. “Car insurance is compulsory,” tulis ABI, tetapi kepemilikan asuransi untuk sepeda atau barang lain tetap pilihan pemilik.

Jika Anda mengemudi, informasi lokasi penyimpanan mobil juga berpengaruh pada ketentuan polis. Pastikan perusahaan asuransi mengetahui bahwa kendaraan disimpan di tempat yang baru.

ABI menegaskan bahwa bila mobil itu merupakan milik orang tua dan Anda kini menjadi pengemudi utama, Anda harus memberi tahu pihak asuransi. Jika pengungkapan ini tidak dilakukan, ABI menyebut kondisi tersebut “illegal”.

Dengan kata lain, perlindungan bukan sekadar memiliki polis, tetapi memastikan detail kondisi hidup yang berubah tercatat dengan benar. Saat mahasiswa pindah, rutinitas bergeser, dan barang berpindah tempat, ketentuan asuransi juga perlu disesuaikan.