Teknologi

Konsumen China Pilih Tunda Upgrade Smartphone Saat Pasar Ponsel Melambat

×

Konsumen China Pilih Tunda Upgrade Smartphone Saat Pasar Ponsel Melambat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Warga China Pilih Tunda Ganti HP, Terjadi Saat Pasar Lesu - Teknologi

jurnalistik.co.id – Konsumen di China cenderung menunda pembelian smartphone dibanding mengganti perangkat lebih cepat. Dorongan untuk upgrade melemah karena tawaran teknologi baru yang dinilai belum cukup menarik bagi banyak pengguna.

Kondisi ini ikut memberi kontribusi pada semakin beratnya situasi pasar ponsel terbesar di dunia. Hal tersebut tercermin dari survei yang dirilis oleh Bloomberg Intelligence.

Survei: mayoritas tidak berniat upgrade hingga 2027

Dalam survei yang dilakukan pada bulan Oktober, sekitar 69% responden menyatakan tidak akan mengganti smartphone mereka setidaknya hingga tahun 2027. Angka ini disebut meningkat dua kali lipat dibanding bulan Mei.

Lonjakan minat untuk menunda pembelian ini menunjukkan bahwa lebih banyak orang memilih bertahan menggunakan perangkat yang sama dalam jangka menengah. Rencana untuk tidak melakukan upgrade selama dua hingga tiga tahun juga disebut kian bertambah jumlahnya.

Dengan pola tersebut, perubahan perilaku konsumen membuat siklus pergantian perangkat menjadi lebih lambat. Dampak akhirnya adalah pasar ponsel menghadapi tekanan karena permintaan pembelian baru tidak bergerak secepat sebelumnya.

Di saat yang sama, peluncuran produk baru oleh Apple Inc. juga tidak langsung mampu mendorong permintaan pada level pasar massal. Salah satu contoh yang disebut adalah iPhone Duo.

Teks tersebut menegaskan bahwa iPhone Duo yang diluncurkan sebagai inovasi tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan konsumen dalam skala besar. Akibatnya, minat pembelian tetap berada pada tingkat yang belum memenuhi harapan untuk mengangkat laju pasar.

Selain smartphone biasa, kategori ponsel lipat juga disebut masih memiliki daya tarik yang terbatas di China. Hanya sekitar 5,8% orang yang menggunakan atau telah memutuskan untuk membeli ponsel lipat, angka yang menunjukkan segmen ini belum menjadi arus utama.

Rendahnya proporsi pengguna maupun pembeli ponsel lipat menandakan bahwa produk di kelas tersebut belum mampu menarik banyak konsumen untuk melakukan pergantian. Di saat mayoritas responden menahan upgrade hingga beberapa tahun ke depan, pasar pun semakin sulit mendapat dorongan dari pembelian model tertentu.

Secara keseluruhan, gabungan antara kecenderungan menunda penggantian perangkat dan rendahnya minat pada ponsel lipat membuat permintaan tetap terbatas. Dengan demikian, survei Bloomberg Intelligence menggambarkan bahwa perubahan teknologi baru belum cukup menggerakkan keputusan pembelian yang lebih luas.

Data bulan Oktober yang menunjukkan 69% responden menunggu hingga setidaknya 2027—serta peningkatan dua kali lipat dari bulan Mei—memberi gambaran mengenai arah pasar. Selama kecenderungan ini bertahan, tekanan pada kondisi pasar ponsel diperkirakan akan terus berlanjut, termasuk ketika produk baru seperti iPhone Duo belum mampu menarik pembelian skala massal.

Melihat kecenderungan penundaan tersebut, pasar menghadapi tantangan karena banyak pengguna memilih “menunggu momen berikutnya” alih-alih langsung berpindah ke perangkat yang lebih baru. Ketika keputusan pembelian makin bergantung pada kepuasan nilai guna, daya dorong kampanye produk ikut melemah.

Dalam survei yang sama, lonjakan responden yang menunda pergantian tidak berdiri sendiri, melainkan menguatkan gambaran bahwa siklus penggunaan menjadi lebih panjang. Dengan begitu, perubahan generasi perangkat cenderung tidak lagi terjadi secara merata pada basis konsumen yang luas.

Di sisi produk yang diposisikan sebagai inovasi, kasus iPhone Duo menunjukkan bahwa peluncuran tidak otomatis memicu respons massal. Ketika banyak konsumen menilai pembaruan teknologi belum cukup signifikan, minat pembelian tetap tertahan dan tidak langsung mendorong percepatan laju pasar.

Hal serupa juga terlihat pada ponsel lipat, yang proporsinya hanya sekitar 5,8% untuk pengguna maupun calon pembeli di China. Rendahnya minat pada segmen ini membuat ruang pertumbuhan permintaan baru menjadi terbatas, terutama di tengah kondisi ketika mayoritas responden menahan upgrade hingga beberapa tahun ke depan.