Teknologi

Ketika AI Mempercepat Kerja: Dual Mode Perangkat Bisa Mengalihkan Fokus

×

Ketika AI Mempercepat Kerja: Dual Mode Perangkat Bisa Mengalihkan Fokus

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Paradoks Perangkat Teknologi yang Bisa Jadi Jebakan Produktivitas - Teknologi

jurnalistik.co.id – Pukul 07.00 pagi, Damar sudah membuka laptop untuk mulai bekerja. Di sampingnya, smartphone terus menyala, menerima notifikasi dari WhatsApp, email, dan media sosial.

Di sela penyelesaian tugas, Damar juga berpindah dari dokumen pekerjaan ke aplikasi lain, lalu kembali lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Kebiasaan bolak-balik itu membuat aktivitas kerja terasa bergerak cepat, tetapi juga tidak sepenuhnya terkonsentrasi.

Bagi Damar, perangkat digital memang menjadi bagian penting untuk menyelesaikan rutinitas sehari-hari. Namun, perangkat yang sama juga bisa menghadirkan gangguan dalam proses kerja.

“Perangkat digital sih sekarang ini memang sangat membantu banget apalagi untuk menyelesaikan pekerjaan kan, tapi terkadang memang kecenderungan sering menggunakan perangkat digital ini kadang cukup mengganggu kalau terlalu sering digunakan di luar pekerjaan,” ujar Damar.

Dalam kehidupan urban yang semakin terhubung dengan teknologi, situasi seperti ini menjadi semakin umum. Smartphone, laptop, tablet, smartwatch, hingga perangkat audio tidak lagi dipakai untuk satu kebutuhan saja.

Satu perangkat dapat digunakan untuk membantu pekerjaan, berkomunikasi, mencari informasi, berolahraga, sekaligus menjadi jalan hiburan. Peran yang beragam itu membuat pengguna selalu punya akses ke berbagai hal dalam waktu yang sama.

Ketika akses menjadi serba cepat, pekerjaan juga bisa terasa lebih mudah dijalankan. Namun pada saat yang sama, paparan terhadap banyak aplikasi dan ragam informasi bisa membuat perhatian terpecah.

Dual mode: efisiensi yang dibarengi distraksi

Di titik inilah muncul paradoks yang baru. Teknologi mempercepat kerja dan mempermudah alur aktivitas, tetapi kemudahan akses yang sama dapat memunculkan gangguan yang mengganggu fokus.

Perangkat yang awalnya dirancang sebagai alat produktivitas lalu berubah menjadi pemicu distraksi ketika digunakan secara berlebihan di luar konteks kerja. Pergeseran dari satu aplikasi ke aplikasi lain—seperti yang terjadi saat Damar berpindah dari dokumen ke notifikasi—menciptakan jeda yang tampak kecil, tetapi berulang.

Dalam contoh Damar, notifikasi yang masuk dari WhatsApp, email, dan media sosial berlangsung ketika pekerjaan sedang berjalan. Saat pesan dan pembaruan terus muncul, pengguna terdorong untuk memantau, lalu kembali lagi ke dokumen, mengulangi pola perpindahan tersebut.

Pola seperti ini memperlihatkan bagaimana waktu kerja yang semula terarah dapat dipengaruhi oleh akses yang selalu tersedia. Ketika perangkat digital tidak hanya dipakai untuk menyelesaikan tugas, melainkan juga menyentuh berbagai kebutuhan lain, ruang perhatian menjadi lebih sempit.

Meski perangkat tetap membantu, ada batas ketika frekuensi penggunaan di luar pekerjaan membuat manfaatnya berkurang. Damar menekankan bahwa bantuan teknologi tetap terasa, tetapi distraksi dapat muncul jika penggunaan terlalu sering dan tidak dikendalikan.

Konsekuensinya bukan sekadar soal “kurang fokus” dalam arti umum. Yang terlihat adalah perubahan cara perangkat bekerja dalam rutinitas: dari alat yang mendukung, menjadi sumber gangguan yang ikut menentukan ritme kerja sehari-hari.

Dengan perkembangan masyarakat yang semakin terhubung, paradoks tersebut makin dekat dengan aktivitas harian banyak orang. Ketersediaan perangkat untuk banyak fungsi membuat pemisahan antara “waktu kerja” dan “waktu berselancar” menjadi semakin tipis.

Pada akhirnya, paradoks yang dimaksud adalah hubungan dua hal yang sama-sama hadir bersamaan. Teknologi mendorong pekerjaan lebih cepat dan mudah, sementara akses yang luas terhadap aplikasi serta informasi dapat memecah perhatian.

Itulah mengapa perangkat yang semestinya menjadi penopang produktivitas berpotensi berubah menjadi jebakan produktivitas ketika penggunaan terlalu sering melampaui kebutuhan kerja. Situasi ini menggambarkan realitas bahwa efisiensi tidak hanya bergantung pada perangkat yang canggih, tetapi juga pada cara perangkat itu diakses dan dipakai dalam keseharian.